Cheater: Petualangan Langit Kedua

Cheater: Petualangan Langit Kedua
54. Penampilan Tomen dan Anatasya.


__ADS_3

Tomen melangkah ke tengah lapangan dengan sombongnya. Mengangkat dagu serta pandangannya terlihat seakan ia merendahkan orang lain.


Suara sorakan penonton membuat dirinya semakin besar kepala. Perlahan ia sampai di tengah lapangan lalu ia menghadap Yang Mulia Raja.


Ia membungkuk memberi hormat. Meski ia memiliki kesombongan diatas langit, ia masih menganggap kasta bangsawan dengan sangat kuat. Dirinya yang seorang anak dari keluarga bangsawan Earl, hanya menghormati orang yang memiliki kasta lebih tinggi.


Sang Raja mengangkat tangan kanannya menandakan dirinya puas dengan sikap hormat dari Tomen.


Tomen bangkit dari hormatnya lalu menatap tiga target yang baru saja di ganti.


Ia lantas mengeluarkan tongkat sihir dengan sebuah kristal berwarna merah dari cincin spasialnya. Tongkat yang ia dapat dari ayahnya setelah melakukan pesanan spesial ke toko barang sihir terkenal di Ibukota.


Diangkatlah tongkat tersebut tinggi untuk memamerkan keindahan dari kristal merah. Serta menunjukkan kastanya yang tinggi kepada rakyat jelata.


Para penonton yang tidak pernah melihat tongkat sihir dengan kristal yang sangat indah tersebut bersorak dan bertepuk tangan. Membuat dirinya semakin sombong dan merendahkan para penonton.


'dasar rakyat jelata. Hanya dengan diperlihatkan tongkat sihirku, mereka langsung takjub dengan keagunganku.'


Setelah cukup puas mendengar sorakan penonton, ia lantas mengarahkan tongkatnya kearah target.


Ia berkonsentrasi mengendalikan aliran mana lalu mengucapkan sebuah mantra.


"dengan keagunganku untuk mengalahkan para dewa. Biarkan mereka tahu siapa yang berkuasa! Fire Ball!"


Dari ujung tongkatnya tercipta bola api berukuran telapak tangan. Bola api tersebut semakin lama semakin membesar hingga ukurannya menjadi setinggi ukuran tubuh Tomen.


Para penonton yang melihat itu bersorak semakin kencang. Mereka merasa takjub bisa melihat sihir api yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan calon anggota asosiasi lainnya.


Tomen merasa bangga dan senyuman merendahkan terlihat dari wajahnya. Ia menatap tiga target yang akan hancur oleh serangannya.


Sihir api ia lepaskan dan mengarah ke tiga target. Bola Api bergerak dengan sangat cepat hingga mengenai target.


"duarr...."

__ADS_1


Suara ledakan terdengar saat bila api mengenai tiga target secara bersamaan. Menciptakan kepulan asap yang sangat tebal hingga para penonton tidak dapat melihat apa yang terjadi dengan tiga kayu yang menjadi targetnya.


Para penonton terdiam menunggu hasil dari ledakan yang dibuat Tomen dengan sihir apinya.


Perlahan asap mulai menghilang. Menampilkan sebuah kawah yang berukuran cukup besar. Namun tidak melihat bekas dari target yang diserang.


Melihat target yang bahkan sudah tidak bersisa, para penonton kembali bersorak lebih keras. Mereka merasa takjub dengan kekuatan serangan sihir yang dilakukan oleh Tomen.


"sihir tingkat menengah?" suara Raja terdengar oleh penyihir kerajaan.


Penyihir memperhatikan dengan teliti efek dari serangan sihir Tomen. Setelah melihat efek dari serangan Tomen, ia menyimpulkan jika sihir yang digunakan oleh Tomen bukanlah sihir tingkat menengah. Namun hanya sihir dasar api yang diperkuat.


"bukan Yang Mulia. Itu hanya sihir api dasar yang di perkuat. Meski efeknya lebih kuat, namun masih mendekati sihir tingkat menengah saja."


Mendengar jika tebakannya salah, Raja hanya tersenyum. Meski bukan sihir tingkat menengah, setidaknya Tomen masih bisa menggunakan sihir yang cukup kuat. Itu pun sudah membuat sang Raja bahagia.


Dari bangku penonton, banyak orang yang bersorak takjub. Bahkan banyak yang memuji kemampuan sihir Tomen.


Tomen menikmati pujian serta sorakan para penonton. Setelah puas, ia berjalan menuju ke tempat duduk yang telah di sediakan.


"selanjutnya! Adalah Anatasya Edo."


Wanita yang sedang duduk bersama Leo di ruang tunggu ternyata bernama Anatasya. Ia berjalan keluar menuju ke tengah lapangan.


Dengan wajah yang cantik serta bentuk tubuh yang ramping membuatnya langsung menjadi idola para penonton.


Semua pria tampak terpesona dengan kecantikan dan dan keanggunan Anatasya saat ia berjalan. Ditambah rambut panjangnya yang bergerak mengikuti terpaan angin.


Sampai di tengah lapangan, ia memberi hormat kepada Yang Mulia Raja. Setelah sang Raja mengangkat tangan, Anatasya berbalik menatap tiga target.


Ia mengangkat tangannya ke atas lalu berkonsentrasi mengatur pergerakan mana. Para penonton terdiam dan bertanya-tanya mengapa ia tidak menggunakan tongkat sihir.


"dengan kehendak dewa! Berikan aku kekuatan untuk membekukan musuhku! Ice Spear!"

__ADS_1


Genangan air muncul di telapak tangan Anatasya. Jumlahnya semakin banyak lalu membeku. Membentuk 3 tombak yang sama besar dan panjang.


Semua orang terkejut melihat Anatasya mampu membuat sihir kuat meski tanpa tongkat sihir. Bahkan Yang Mulia Raja dan penyihir kerajaan sampai terdiam melihat kemampuan sihir Anatasya yang tidak menggunakan tongkat sihir.


Setelah tombak esnya terbentuk sempurna, Anatasya menggerakkan tangannya ke depan lalu ketiga mengikuti gerakan tangan. Hingga melesat cepat menuju arah target.


"pyarr.. Kretak..."


Suara hantaman tombak es dengan target menggema di seluruh stadion. Target berhasil dihancurkan bersamaan dengan membekunya pecahan target.


Para penonton tampak diam membisu sebelum akhirnya mereka sadar dan mulai bersorak sangat keras. Tepuk tangan para penonton menghiasi suara ramainya sorakan. Bahkan Yang Mulia Raja sampai berdiri memberi tepuk tangan.


Melihat sang Raja berdiri untuknya, Anatasya merasa sangat terhormat. Ia lalu membungkuk sekali lagi untuk menghormati sikap Raja.


Sampai Raja kembali duduk dan Anatasya bangkit dari hormatnya lalu menghilangkan efek dari sihir miliknya.


Setelah itu ia berjalan menuju kearah tempat duduk di iringi tepuk tangan para penonton.


Tomen yang dari tadi bersikap sombong merasa kesal dan tidak terima dengan Anatasya yang mendapatkan apresiasi lebih baik darinya.


Di tempat duduk Raja. "bagaimana dengan itu?"


Penyihir kerajaan yang melihat kemampuan Anatasya merasa takjub dengan penguasaan sihirnya. "saya cukup terkejut ia bisa menggunakan sihir evolusi air di umurnya yang masih sangat muda. Apalagi ia bahkan tidak menggunakan tongkat sihir untuk membantu menyalurkan mananya. Bisa dibilang ia adalah wanita yang sangat jenius."


Yang Mulia Raja merasa bangga memiliki penyihir berbakat di kerajaannya. "kau benar! Ia sangat berbakat untuk bisa menjadi penyihir tingkat tinggi. Apa kau ingin menjadikan dirinya sebagai muridmu?"


"dengan bakatnya, saya bisa mempertimbangkan hal tersebut. Namun masih ada satu anak lagi yang membuat kita semua penasaran dengan kemampuan sihirnya bukan?" penyihir kerajaan kembali mengingat alasan kedatangan mereka di acara ini.


Sang Raja melihat kearah Jack, Sylf, Elena, dan serta satu wanita lagi yang mengenakan jubah dari ksatria Leonardo Donovan. Mereka tersebar diantara para penonton sebagai bantuan menjaga keamanan.


"kau benar. Sehebat apapun wanita tersebut, Namun jika dibandingkan dengan anak itu, ia bukanlah apa-apa."


Penyihir kerajaan setuju dengan pendapat sang Raja lalu suara pembawa acara terdengar kembali.

__ADS_1


"selanjutnya yang merupakan calon anggota asosiasi yang terakhir adalah... Leonardo Donovan!"


__ADS_2