Cheater: Petualangan Langit Kedua

Cheater: Petualangan Langit Kedua
51. Tomen Jheri.


__ADS_3

Umur Leo dengan mereka terpaut cukup jauh. Apa lagi di dunia ini umur 15 tahun sudah termasuk dewasa.


Seorang pria yang juga merupakan calon anggota asosiasi, mendekati Leo yang sedang duduk sendiri dari belakang.


"permisi! Apa anda tuan Leonardo?"


Leo menoleh ke belakang mendapati seorang pria asing.


"iya! Saya Leonardo. Anda siapa?"


Pria tersebut membungkuk. "maaf atas sikap saya yang kurang sopan. Saya adalah Rendy. Anak seorang pedagang di kota Hersi."


Kota Hersi adalah kota yang berada di sebelah kota Rainbow dan kota Mainter.


"begitu ya? Jadi ada yang bisa saya bantu?"


Mendengar ucapan Leo, Rendy menggelengkan kepala dan kedua tangannya. "tidak ada! Hanya saja saya sedikit tertarik dengan anda yang merupakan penyihir terkenal. Tidak saya sangka jika saya akan bisa bertemu dengan anda lebih cepat."


"hahah... Anda terlalu meninggikan saya. Anda sendiri juga merupakan penyihir berbakat. Terbukti anda juga seorang calon anggota yang akan dilantik hari ini."


Lalu seorang pria gendut yang tampaknya tak ramah datang.


"jadi kau adalah Leonardo?" pria gendut itu menyilangkan tangan dengan wajah sombong.


Kehadiran pria tersebut membuat Leo tidak merasa nyaman. "siapa kau?"


"namaku Tomen Jheri!.." hendak melanjutkan perkenalannya, namun berhenti saat Leo tertawa.


"hahahaha... Tom And Jerry! Apa-apaan nama itu? Kau yakin namamu Tom And Jerry?" Leo tertawa sangat keras mengingat ada kartun yang pernah ia tonton waktu masih kecil di kehidupan sebelumnya.


"apa maksudmu ha? Tentu saja aku yakin namaku Tomen Jheri. Dan beraninya kau menertawakanku."


Tomen Jheri menjadi kesal karena namanya ditertawakan oleh Leo.


Sementara orang lain yang berada di ruangan itu hanya diam tidak ingin terlibat dengan sosok Tomen yang cukup terkenal di kota Hersi.

__ADS_1


Leo masih tertawa lalu berhenti meski masih menahan tawanya.


Rendy yang berada di sebelah Leo membisikkan sesuatu padanya. "dia adalah anak dari penguasa kota Hersi. Dan dia selalu dimanja oleh orang tuanya. Karena itu orang ini selalu seenaknya sendiri. Bahkan ia terkenal dengan semua masalah yang selalu ia buat dimana pun. Semua orang tidak berani bertindak karena ia selalu menggunakan status untuk berurusan dengan orang lain."


Leo menghentikan tawanya setelah mengetahui siapa orang yang ada didepannya. Wajahnya yang sebelumnya terlihat lucu dengan senyum dan tawa berubah menjadi serius dan dingin.


Leo berdiri dan mendekat meski masih harus mendongak ke atas kerana ia memang lebih pendek.


"jadi kau anak dari penguasa kota Hersi!"


Tomen yang melihat Leo berhenti tertawa sudah merasa menang. Apa lagi saat Leo sudah mengetahui tentang keluarganya.


"hahahaha.. Apa sekarang kau takut dengan tuan muda ini? Kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganku. Seperti semut yang melawan gajah." Tomen semakin besar kepala.


Leo mengangkat ujung bibirnya. "Sejujurnya aku tidak peduli dengan status, kekuasaan, atau apalah itu. Karena sekarang aku disini sebagai penyihir. Jadi, jangan sombong hanya karena status keluargamu. Dimataku, kau hanya babi gendut yang siap di guling."


Merasa tidak terima dengan ucapan Leo, Tomen kembali naik darah. "memang apa hebatnya kau dalam sihir? Kau bahkan belum dewasa dan sudah berani ikut pelantikan anggota ini? Aku bertaruh jika kau masuk lewat jalur belakang agar diterima oleh Asosiasi. Dan kemampuan aslimu hanyalah bualan semata."


Leo terlihat tidak mendengarkan karena sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh antagonis seperti Tomen. "terserah kau saja! Lebih baik kau pergilah jauh-jauh. Jika tidak, mungkin aku tidak akan bisa menahan diri dan menghajarmu di sini!"


"kau!" Tomen menggenggam tangan kesal. Namun mengingat ini hari pelantikan, ia berniat melepaskan Leo untuk sementara.


"hemp... Kau tunggu saja. Diatas panggung nanti, kau hanya akan membuat dirimu sendiri terlihat malu." Tomen meninggalkan Leo dan Rendy.


Leo menatap kepergian Tomen dengan tanpa ekspresi. 'ada-ada saja!'


Leo kembali duduk dan melamun memikirkan perkataan Tomen. 'seperti semut yang melawan gajah? Bukankah semut yang menang?'


Lalu suara teriakan penonton terdengar keras dengan sampainya rombongan keluarga kerajaan. Membuat Leo tersadar dari lamunan tidak jelasnya.


Seorang wanita dewasa datang ke ruangan tunggu. Dengan kecantikannya, membuat dirinya dengan cepat mendapat perhatian. "acara akan segera dimulai! Jadi tolong bersiap dan ikuti aku!"


Sementara dipanggung di koloseum akademi, seorang pria yang berperan sebagai pembawa acara naik. Dengan alat sihir pengerasan suara membuat semua orang diam dan fokus kepadanya.


"selamat datang semuanya! Hari ini adalah hari yang istimewa. Bagaimana tidak? Kita memiliki 15 orang calon anggota yang akan dilantik pada siang hari ini.

__ADS_1


Juga tidak lupa dengan kehadiran Yang Mulia Raja menambah meriah acara ini.


Kalau begitu, mari kita dengarkan beberapa nasihat yang akan diberikan oleh Yang Mulia."


Suara penonton kembali menggila bersamaan dengan sang Raja yang naik ke atas podium.


Kembali ke Leo yang mendengar jika Yang Mulia Raja akan naik podium. Ia bergegas untuk menuju ke jendela dan melihat sosok pria tampan dengan pakaian yang sangat mewah.


Leo terkejut karena sosok Raja tidak seperti yang ia bayangkan. Raja tersebut masih cukup muda. Bahkan mungkin masih berumur kepala tiga.


Sang raja mulai berbicara dan Leo mendengarkan Dengan seksama.


"hari ini adalah hari yang berbahagia. Dimana kita akan segera menerima para penyihir muda yang berbakat.


Kita harus mengingat tragedi masa lalu. Dimana kita sebagai manusia di aniaya dan di jajah oleh bangsa iblis. Namun hari-hari itu tidak akan pernah terulang lagi. Karena para penyihir muda akan bangkit dan melindungi kita dari segala ancaman.


Dan harapanku untuk kalian yang akan dilantik menjadi anggota Asosiasi, aku hanya bisa berharap. Kalian memiliki kesetiaan kepada kerajaan dan membantu melindungi rakyat kita!"


Sambutan dari Yang Mulia Raja selesai. Lalu kembali ke tempat duduknya dengan diiringi tepuk tangan dan sorakkan penonton.


Lalu acara berlanjut dengan sambutan dari Ketua Asosiasi Pusat.


Kembali ke Leo yang sudah bersiap untuk masuk ke acara pembuktian. Namun ia berada di urutan terakhir.


"baiklah! Jika semua sudah siap! Saat namamu di panggil, segera pergi kelapangan dan perlihatkan skill sihir kalian. Buatlah mereka takjub dengan kekuatan dan kemampuan sihir."


"baik!" semua orang mengangguk secara bersamaan.


Lalu tak lama, orang yang mendapat antria pertama di panggil oleh pembawa acara.


Yang mendapatkan nomor pertama adalah seorang wanita cantik dari kota pelabuhan. Ia masuk ke lapangan dan dihadapkan dengan tiga sasaran untuk memperlihatkan kekuatan sihir miliknya.


Semua penonton bersemangat ingin melihat kemampuan dari calon anggota penyihir.


Sebelum mulai, ia sempat memberi hormat kepada Yang Mulia Raja lalu kembali fokus untuk memamerkan kemampuan sihir.

__ADS_1


__ADS_2