Cheater: Petualangan Langit Kedua

Cheater: Petualangan Langit Kedua
82. Assasin Tak Dikenal.


__ADS_3

Mengetahui jumlah dari orang yang mengikutinya, Leo berniat untuk bermain sedikit.


'haha.. Mari kita mainkan sebuah permainan. Namanya mangsa memburu predator.'


Leo melesat lebih cepat untuk sedikit mengecoh mereka.


"dia bergerak lebih cepat! Apa kita ketahuan?"


Seorang assasin menyadari perubahan kecepatan dari Leo.


"mustahil! Tidak ada yang pernah menyadari kehadiran kita selama ini. Bahkan jika memang benar, dia tidak akan bisa selamat setelah menjadi target kita. Bergerak lebih cepat!" Ucap pemimpin kelompok.


"baik!"


Mereka bergerak lebih cepat agar tidak kehilangan jejak Leo. Namun mereka tidak menyadari jika mereka juga menjadi target dari Leo.


Sementara itu, Leo yang telah mengambil jalur berbeda dari tujuannya. Ia sebelumnya menuju ke asosiasi penyihir. Namun sekarang ia langsung mengarah ke markas kelompok Catatan Armor.


Leo melihat pergerakan para assasin yang lebih cepat mengabaikan persembunyian mereka.


'kalian sudah tidak bersembunyi lagi? Kalau begitu bersiaplah! Kita mulai permainannya!'


Senyum terlintas di wajah Leo. Ia melesat dengan cepat lalu berhenti.


Ia membalikkan tubuhnya menghadap para assasin. Dengan tumpuan tembok, ia kembali melesat dengan sangat cepat menuju mereka.


Pemimpin assasin menyadari Leo yang siap melawan.


"sialan! Bersiap bertarung. Siapapun yang dapat membunuh dia, akan mendapatkan bagian yang lebih besar."


Anggotanya menjadi bersemangat untuk mambunuh Leo. Mengingat jika hadiah dari misi sangat besar.


Mereka tersenyum sinis dan mengumpat kebodohan Leo yang melawan mereka sendirian.


Leo sendiri lebih bersemangat melihat para assasin itu bersiap bertarung. Namun Leo tidak ingin menyerang mereka langsung. Karena ini adalah sebuah permainan.


Kaki Leo menyentuh salah satu atap bangunan lalu menghilang tanpa jejak.


Para assasin menjadi bingung kemana Leo menghilang. Mereka menjadi waspada dan sudah bersiap dengan pedang di kedua tangan mereka.


"dimana dia?"


"hati-hati! Waspada dengan sekitar kalian!"


Mereka sangat waspada dengan Leo. Mata mereka melihat sekitar untuk bisa menemukan keberadaan Leo.


'aku tidak menyangka jika target kami bukan hanya seorang penyihir. Melainkan juga seorang assasin.'


Sementara itu, Leo mengawasi mereka untuk mencari titik lengah dari para assasin. Hingga dirinya menyadari seorang assasin yang lebih jauh dari yang lain. Bahkan tidak ada anggota assasin yang mengawasinya.


' hehe.. Satu domba siap disantap! '


Leo melesat dengan cepat menuju target.

__ADS_1


"slash.."


Leo langsung memisahkan kepala dengan badan tanpa perlawanan.


"bugh.."


Suara terjatuhnya kepala membuat para assasin seketika menoleh.


"apa itu!"


Namun setelah mereka menoleh ke arah suara, mereka melihat tubuh tanpa kepala dari salah satu anggota kelompok.


Hal itu membuat mereka semakin waspada karena tidak menyadari serang yang terjadi.


"semuanya berkumpul!"


Perintah pemimpin segera mereka lakukan. Anggota yang tersisa segera berkumpul dengan yang lain menjadi satu.


"sialan!"


Namun sayangnya hanya lima orang yang berhasil berkumpul.


Itu karena Leo kembali mendapatkan kesempatan untuk menyerang satu anggota yang lebih jauh.


"kap.. Ten..." Suara anggota yang menjadi target kedua Leo terdengar lirih. Dirinya sudah siap menemui dewa kematian.


Pemimpin yang mendengar suara itu, segera mencari asal dari suara.


Hingga dirinya melihat salah satu anggota berdiri tanpa bergerak. Dengan satu pedang yang menancap di dada tepat pada bagian jantung.


Wajah Leo menunjukkan ekspresi dingin tanpa perasaan bersalah setelah membunuh anggota assasin.


Para assasin yang tersisa merasa sangat ketakutan setelah melihat dua anggota mereka tewas di tangan Leo.


Leo berjalan mendekat dengan perlahan.


"dari mana kalian! Dan siapa yang menyuruh kalian untuk menargetkan kau!"


Mendengar ucapan Leo, mereka merasa jika mereka tidak akan bisa kabur. Dan memutuskan untuk bertarung habis-habisan.


"kami adalah assasin yang setia. Kau pikir kami akan memberitahu identitas kami maupun klien kami. Tapi yang pasti, tugas kami adalah untuk membunuhmu hari ini juga."


Pemimpin assasin mengarahkan pedangnya menuju Leo. Diikuti oleh anggotanya yang tersisa.


Menyadari jika dirinya tidak bisa mendapatkan informasi dengan mudah, Leo memutuskan untuk menggunakan cara yang lebih realistis.


Leo tersenyum karena ia berencana melakukan kegiatan untuk membuat mereka buka mulut.


"kalau begitu, kita selesaikan ini dengan cepat!"


Ucapan Leo membuat mereka menjadi lebih waspada dengan pergerakan Leo. Mereka bahkan sedikit mundur karena merasa gemetar melihat tatapan Leo.


Mereka semua mengarahkan pedang mereka ke arah Leo tanpa memperhatikan bagian belakang mereka.

__ADS_1


Leo menghilang dan langsung menargetkan mereka satu persatu dari yang paling belakang.


"slash... Slash...slash..."


Tiga kepala terpisah dari tubuhnya. Dan menyisakan dua orang termasuk pemimpin para assasin.


Pemimpin assasin dan seorang anggota berbalik melihat belakang. Mereka melihat Leo yang berjalan dengan pedang penuh darah.


Di belakang Leo terdapat wayat dari tiga orang yang membuat dua orang yang tersisa menjadi semakin ketakutan.


"lebih baik kalian menyerah saja dan jawab pertanyaanku dengan jujur. Sebagai gantinya aku akan membiarkan kalian untuk pergi tanpa terluka. "


Dengan kaki gemetar pemimpin assasin berbicara.


"kau pikir kami akan percaya dengan apa yang kau ucapkan? Meski kami memberitahu semuanya, kamu pasti akan membunuh kami setelahnya."


Leo merasa jika dirinya tidak dapat dipercaya sama sekali. Meski dirinya memang berniat untuk membiarkan mereka pergi setelah memberitahunya apa yang perlu ia ketahui.


Leo menghela napas menyaksikan ketidak percayaan mereka terhadap dirinya.


" huh.. Terserahlah! Jika kalian tidak mau mengatakannya secara langsung, maka aku akan mbuat kalian buka mulut secara paksa!"


Leo mengeluarkan dua pedangnya. Ia lantas melesat menuju mereka berdua.


Dengan tubuh yang gemetaran, mereka memberanikan diri untuk bisa bertahan.


Leo menyerang mereka secara bersamaan. Dimana setiap pedangnya di tahan oleh pedang mereka.


Namun sayang. Bukan itu yang Leo rencanakan. Setelah mereka menahan pedang Leo, dengan segera ia menggunakan elemen petir pada pedangnya.


"heh.. Thunder!"


"zertt..."


"Ahhhh..."


Seketika aliran listrik mengalir dan menyebabkan mereka berdua pingsan.


"hehe.. Rasakan itu! Serangan Stun Gun."


Leo menyimpan pedangnya dan melihat kearah mayat yang sudah ia bunuh.


Ia memikirkan cara untuk menyingkirkan mayat-mayat itu.


"huh.."


Setelah berpikir beberapa menit, akhirnya Leo memutuskan untuk membakar mayat tersebut menjadi abu. Dengan sihir api, tangan Leo memunculkan api yang sangat panas. Dengan warna api yang biru menyala.


Setelah mayat mereka menjadi abu, Leo kembali ke dua orang yang ia buat pingsan.


Setelah itu ia membawa dua assasin yang tersisa untuk menuju ke markas Catatan Armor.


Namun sebelum berangkat, Leo mengubah ukuran tubuhnya menjadi dewasa. Itu dilakukan karena terlalu sulit untuk membawa tubuh mereka dengan ukuran badan kecil milik Leo.

__ADS_1


Leo mengangkat tubuh mereka dan menaruhnya di bahu. Persis seperti membawa karung beras.


Ia melesat dengan cepat menuju markas Catatan Armor.


__ADS_2