
"lalu untuk latihan para tentara, lakukan seperti yang sudah aku tuliskan untukmu."
Sebelumnya Leo sudah memberikan jadwal pelatihan yang harus diikuti oleh anggota militer. Dimana semua kegiatan para tentara sudah diatur dalam program latihan.
"apakah masih ada yang ingin kalian tanyakan lagi?"
Semua orang sedang berpikir tentang apa yang kurang dari pengaturan Leo.
Lalu Phinix mengangkat tangan untuk bertanya.
"silahkan Phinix!" Leo mempersiapkan Phinix untuk bertanya.
Dengan malu-malu Phinix bertanya.
"A.. Apa tuan tidak butuh pengawal?"
Mereka langsung mengerti maksud tujuan dari pertanyaan Phinix. Dimana Phinix ingin pergi bersama Leo ke ibukota.
Menyadari itu, Leo tersenyum dan menjawab pertanyaan Phinix.
"tidak perlu! Aku akan pergi sendiri. Karena keamanan di kota ini harus lebih kuat. Jadi aku tidak membawa siapapun untuk menjadi penjaga."
Jack, Sylf, Elena, dan Brock merasa kasihan dengan Phinix. Mereka mengira jika Leo tidak tahu maksud dari pertanyaan Phinix. Bahkan Phinix sekarang menunjukkan ekspresi kecewa. Karena dirinya tidak bisa menemani Leo.
Sementara Leo punya alasan tersendiri untuk tidak membawa Phinix. Itu karena ada beberapa masalah yang harus ia selesaikan. Jadi jika Leo membawa Phinix, maka masalah tersebut akan menjadi lebih rumit.
"apa ada lagi?"
Mereka sudah tidak memiliki pertanyaan lagi. Lebih tepatnya belum. Karena masalah mungkin akan tiba disaat rencana sedang berjalan.
"jika tidak ada lagi, maka aku akhiri pertemuan kali ini."
Pertemuan berakhir dengan beberapa rencana. Mereka membubarkan diri untuk bersiap. Namun sebelum pergi, Jack sempat bertanya sesuatu.
"kapan tuan akan pergi?"
"aku akan pergi besok! Sekalian mengantar ibu untuk tinggal di kediaman kakek. Karena tidak aman untuk ibu yang sedang hamil berada di kota ini."
Setelah mendengar jawaban Leo, Jack segera pergi. Namun tidak dengan Phinix.
__ADS_1
Ia tampak sedih karena akan berpisah dengan Leo untuk waktu yang lama.
Lalu Leo mendekat ke Phinix karena menyadari ekspresi sedihnya.
"tidak perlu sedih! Aku hanya akan pergi selama sekitar 4 bulan. Juga aku akan selalu menghubungimu. Agar kamu tidak terlalu rindu."
Leo mencoba menenangkan Phinix. Dan Phinix mengangguk setelah mendengar ucapan Leo.
Tak lama, pintu terbuka dan dua orang masuk.
"apa benar apa yang Jack ucapkan? Besok kamu akan pergi ke ibukota dan mengantar kami ke kediaman ayah?" ibu masuk dengan dibantu oleh ayah.
"benar! Aku tidak mungkin meninggalkan ibu di sini. Apa lagi tidak ada petugas medis di kota ini. Jadi lebih aman untuk ibu berada di kediaman kakek."
Ayah setuju dengan ucapan Leo. Ia memang cukup khawatir dengan kesehatan istri dan calon anaknya.
"baiklah! Itu lebih baik untuk kembali kesana. Lagi pula, kota ini masih belum terlalu aman. Banyak orang jahat yang mungkin akan menyerang kota ini kapan saja." Ucap ayah.
"hah... Ini bukan masalah ada petugas medis atau tidak. Ini masalah jika aku sudah harus berpisah lagi dengan Leo." ibu merasa sedih saat dirinya akan berpisah lagi dengan Leo.
Itu hal wajar untuk seorang ibu untuk merasa khawatir serta rindu disaat anaknya akan pergi dari hadapannya. Apa lagi Leo masih berumur 11 tahun. Tentu insting ibu masih ingin melindungi Leo.
Sementara Phinix sedang memandangi perut ibu yang di elus lembut oleh ayah. Lalu ia melihat perutnya sendiri dan mengelusnya. Ia ingin merasakan rasanya menjadi ibu. Disaat dirinya sedang mengandung anak Leo nantinya, dan Leo mengelus perutnya. Membuat dirinya tersenyum. Lalu ia kembali melihat ibu kembali.
Ibu yang menyadari sikap aneh Phinix, ia bertanya. "ada apa Phinix? Sampai mengelus perut sendiri! Apa kamu ingin mencoba mengelus perut ibu?"
Phinix menjadi panik dan malu saat ibu menyadari perbuatannya. Untuk menutupi pemikirannya, ia mengangguk mengiyakan ucapan ibu.
"iya! Saya penasaran dengan rasanya menjadi seorang ibu."
Ibu yang mendengar ucapan Phinix, ia tertawa.
"ahahha.. Rasanya menjadi ibu ya? Jika dijelaskan, kamu tidak akan mengerti. Jadi disaat kamu sudah menikah dan memiliki anak, kamu akan sangat senang dan bahagia. Karena tidak ada kebahagian lain yang lebih besar dibandingkan memiliki seorang anak!"
Dari ucapan ibu, ia dengan sangat tulus dan jujur mengatakan semua itu. Hal itu dapat dirasakan oleh Leo dan juga Phinix yang jadi membayangkan mereka menikah dan memiliki anak.
Lalu Phinix merasa sudah tidak sabar ingin segera menikah dan memiliki keturunan dari Leo.
Namun disisi lain ia juga takut jika orang tua Leo tidak merestui hubungan mereka. Itu karena umur Phinix dan Leo terpaut jauh.
__ADS_1
Meski penampilan Phinix terlihat muda dengan umur sekitaran 20 tahun, namun sebenarnya umurnya lebih dari ratusan tahun.
Itu karena dirinya berasal dari ras Phoenix. Ras yang memiliki umur yang hampir abadi.
Ia hanya berharap jika nantinya mereka bisa mendapatkan restu dari ayah dan ibu.
Sementara itu, Leo hanya membayangkan jika dirinya memiliki keturunan bersama Phinix. Namun ia tak terlalu memikirkan itu. Karena perjalanannya masih snaagt panjang.
Lalu ibu merasakan adanya pergerakan di dalam perutnya. Lebih tepatnya janin dalam perut ibu bergerak dan menendang dinding perut.
"ah... Dia menendang perut ibu!
Phinix! Mendekatlah! Coba rasakan gerakan dia!"
Phinix mendekat lalu berlutut didepan ibu. Tangan kanannya ia angkat dan menempelkan ke perut buncit.
Namun ia merasa takut jika dirinya salah melakukannya. Ia ragu dengan apa yang akan ia lakukan. Tangannya gemetar karena takut jika membahayakan kehidupan yang masih sangat rentan.
Ibu yang melihat tangan Phinix ragu untuk menyentuh, ia lantas memegang yang Phinix dan ia arahkan untuk menyentuh bagian yang ditendang oleh sang bayi.
Phinix menurut begitu saja dan ia bisa merasakan adanya pergerakan di tangannya.
Perasaan senang bisa ia rasakan. Sebuah kehidupan baru yang sangat lemah dan sangat membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya.
Ibu menempelkan tangan Phinix ke perutnya hingga pergerakan bayi berhenti.
"bagaimana rasanya?"
Phinix menarik tangannya lalu kembali berdiri.
Dengan senyuman di wajahnya ia menjawab. "saya sangat senang! Saya jadi tidak sabar untuk segera menjadi seperti nyonya!"
Semua orang menjadi bahagia mendengar jawaban Phinix. Sementara kebahagiaan terbesar berasal dari Leo. Dimana ia dari awal sudah membaca pikiran Phinix dengan sengaja.
'aku juga tidak sabar Phinix!'
Setelah itu mereka kembali ke kegiatannya masing-masing. Hingga hari berganti dan Leo serta ayah dan ibu bersiap untuk berangkat.
Jack, Sylf, Elena, dan Brock sudah berkumpul untuk mengantar kepergian Leo.
__ADS_1
Tentu dengan Phinix yang masih merasa sedih karena harus berpisah dengan Leo.