CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
DARA DEMAM


__ADS_3

Davin bergegas masuk ke dalam apartemen setelah mendengar suara Dara yang terdengar tidak seperti biasanya. Davin memang sudah tahu sandi apartemen Dara. Namun, laki-laki itu akan selalu meminta izin pada sang pemilik jika dirinya ingin masuk ke apartemen wanita itu.


Biar bagaimanapun, Davin tetap tidak ingin mengganggu Dara kecuali dalam keadaan darurat.


"Dara!" Davin meletakkan paper bag di atas meja kemudian bergegas menuju ke kamar Dara. Hatinya tiba-tiba merasa panik, takut terjadi sesuatu pada wanita yang dicintainya itu.


"Dara!"


"Da–Davin ...." Suara Dara terdengar lemah.


"Dara, kamu kenapa?" Davin mendekati Dara. Perempuan itu menutup tubuhnya dengan selimut. Wajahnya terlihat sangat pucat.


"Kamu sakit?"


Dara tidak menjawab. Kepalanya terasa pusing. Ia merasa dingin, tetapi, suhu badannya terasa panas. Bibir Dara bahkan bergetar karena kedinginan.


Davin menempelkan punggung tangannya pada kening Dara.


"Kau demam, Dara!" Davin memekik kaget saat merasakan panas pada punggung tangannya saat menyentuh kening wanita itu.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang." Davin bermaksud menggendong tubuh Dara. Akan tetapi, perempuan itu menggeleng.


"Mi–minum. Aku haus." Suara Dara terdengar lirih. Davin segera beralih dari hadapan Dara. Pria itu bergegas menuju dapur untuk mengambil air minum. Dara memang tidak pernah menyediakan air minum di dalam kamarnya.


Tak berapa lama kemudian, Davin kembali sambil membawa air putih untuk Dara. Laki-laki itu membantu Dara minum. Setelahnya, Davin segera menggendong tubuh lemas Dara dan segera berlari meninggalkan apartemen menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Davin sungguh merasa panik melihat keadaan Dara.


Tadi sore dia masih sehat. Tapi, kenapa sekarang tiba-tiba demam?


Kalau aku tahu dia akan sakit begini, lebih baik aku temani saja dia.


Davin merasa menyesal karena telah membiarkan Dara sendirian di saat keadaan wanita itu sedang kacau.


"Kalau kamu tidak ingin ke rumah sakit, aku panggil dokter


ke sini." Dara mengangguk setuju.


Davin segera meraih ponsel dalam sakunya. Memencet nomor dokter pribadi keluarganya. Laki-laki itu membelai wajah cantik Dara yang terlihat pucat. Sungguh! Davin merasa tidak tega membiarkan wanita yang dicintainya terlihat lemah seperti ini.


"Untung saja aku datang, kalau tidak, aku pasti tidak akan tahu kalau kamu sakit," ucap Davin dalam hati.


Laki-laki itu kemudian bergegas menuju dapur. Mengambil air untuk mengompres. Dokter tadi mengatakan untuk mengompres Dara sebelum dia datang agar suhu tubuhnya sedikit menurun.


Davin duduk di samping Dara, laki-laki itu kemudian meletakkan handuk kecil yang sudah ia basahi dengan air di kening Dara. Mata kedua perempuan itu masih terpejam.


"Aku membawa makanan kesukaanmu. Kamu makan dulu ya?" Davin menatap Dara dengan rasa sakit di hatinya.


Davin mencintai Dara. Setiap kali melihat perempuan itu sedih apalagi sampai sakit, lelaki itu juga pasti akan bersedih.


"Perutku mual, aku tidak bisa makan," jawab Dara dengan suara lirih, tetapi, masih didengar dengan jelas oleh Davin.

__ADS_1


"Hanya sedikit saja. Perutmu tidak boleh kosong dalam keadaan sakit begini." Davin mengusap rambut Dara, membujuk perempuan itu agar mau makan malam. Namun, Dara kembali menggeleng pelan.


Bibirnya yang bergetar bergerak pelan seiring matanya yang terbuka.


"Kepalaku pusing, Davin. Perutku juga mual. Aku sedang tidak ingin makan." Dara memegang tangan Davin yang membelai wajahnya.


Perempuan itu sangat tahu, lelaki itu sangat mengkhawatirkannya. Ah! Seandainya saja Davin adalah Raditya dan keadaan mereka sedang baik-baik saja saat ini, Dara pasti akan sangat bahagia karena diperhatikan oleh orang yang dicintainya.


Akan tetapi, pria itu adalah Davin. Seorang sahabat yang begitu mencintainya, tetapi, Dara tidak pernah mencintainya.


Perasaan cintanya yang begitu besar pada Raditya membuat Dara tidak pernah memedulikan pria lain meskipun itu adalah sahabat baiknya sendiri.


"Baiklah! Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku hanya khawatir melihat keadaanmu seperti ini." Davin menghela napas panjang. Laki-laki itu kemudian kembali meletakkan handuk kecil yang kembali ia basahi dengan air.


Dara memaksakan senyumnya. Pria di depannya itu, meskipun tahu dirinya tidak akan pernah bisa membalas perasaannya, tetapi, Davin tidak pernah berhenti memperhatikan dan menjaganya.


"Aku hanya demam, Davin."


"Hanya?" Davin melotot mendengar ucapan Dara.


"Keadaan kamu seperti ini kamu bilang hanya?" Davin menatap kesal pada Dara.


"Sebentar lagi aku juga sembuh kalau dokter sudah datang. Tidak usah khawatir, tenanglah!" Dara mengusap wajah Davin dengan telapak tangannya yang terasa dingin.


"Aku akan tenang jika melihatmu bahagia. Aku akan tenang jika melihatmu baik-baik saja. Meskipun bahagiamu tidak bersamaku, tapi aku merasa bahagia jika kamu bahagia, Dara. Melihatmu seperti ini, bagaimana aku bisa tenang?"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2