
Raditya baru saja pulang ke rumahnya. Lelaki itu langsung menuju kamar Galang untuk mengetahui keadaan ayahnya. Galang sudah beberapa kali mengikuti terapi untuk kesembuhan kakinya, dan hari ini adalah jadwal terapinya.
Raditya sengaja pulang cepat agar bisa menemani sang papa melakukan terapi seperti biasanya. Namun, langkah Raditya terhenti saat mendengar suara anak kecil di kamar Galang.
"Papa." Raditya mendekati Galang, tetapi, langkahnya kembali terhenti saat melihat bocah kecil berusia empat tahun di hadapannya. Bocah kecil yang pernah Raditya usir bersama ibunya karena pengkhianatan yang dilakukan oleh ibunya.
"Zian ...." Kedua mata Raditya nyaris loncat melihat sosok kecil bocah laki-laki yang kini berada di hadapannya. Bocah kecil itu bahkan tampak mengenalinya.
"Papa."
"Zian."
"Kalian saling mengenal?" Galang tampak terkejut.
"Papa, siapa dia?" Raditya seolah sedang meyakinkan dirinya.
Tidak mungkin bocah kecil ini adalah anaknya Galang bukan? Tetapi, bukankah Galang mengatakan kalau dia mempunyai seorang anak berusia empat tahun?
"Dia adikmu, Zian."
Raditya sungguh sangat terkejut mendengar ucapan Galang.
"Tidak mungkin."
"Kenapa, Radit, apa kamu mengenalnya? Kenapa kamu terlihat kaget?"
"Papa. Tidak mungkin dia anak Papa kan?" Raditya mendekati Galang. Bertanya sekali lagi tentang Zian.
"Ya. Dia anak papa. Ibunya membohongi papa. Dia bilang, masih single, ternyata saat itu dia masih bersuami. Papa meninggalkannya karena merasa dikhianati olehnya." Galang menghela napas panjang saat bayangan wajah Kinara muncul.
Saat itu, perempuan cantik itu mengatakan kalau dirinya belum menikah karena itu Galang menjadikannya sebagai kekasih. Selama menjadi kekasih, Kinara dan Galang seringkali melakukan hubungan suami istri. Saat itu, Galang berniat ingin menikahi Kinara.
__ADS_1
Raditya menatap Galang. Namun pandangannya beralih pada bocah kecil yang saat ini sedang memegangi kakinya.
"Papa, gendong." Suara bocah kecil itu membuat hati Raditya mencelos.
"Papa." Zian kembali memanggil Raditya dengan sebutan papa membuat Galang merasa heran.
"Zian, dia kakakmu. Panggil dia Kak Raditya atau Abang Raditya, bukan papa." Galang yang sedang berbaring pada ranjang mencoba memberi pengertian pada bocah kecil itu. Galang hanya heran melihat Zian yang sepertinya mengenal Raditya.
"Ini Papa Raditya, bukan Kak Raditya. Ini Papanya Zian," ucap Zian membuat Galang terkejut.
Begitupun dengan Raditya yang tidak menyangka kalau Zian masih mengingatnya dengan jelas. Padahal, sudah setahun lebih mereka tidak bertemu.
"Papa Raditya?" Galang mengulangi ucapan Zian sambil menatap ke arah Raditya.
"Raditya, apa kamu mengenal Zian? Kenapa dia memanggilmu papa?" Galang sungguh merasa penasaran.
"Radit–"
"Apa?" Galang sungguh terkejut mendengar ucapan Raditya.
"Tidak mungkin ...." Seperti Raditya, Galang pun sangat terkejut mengetahui fakta yang baru saja ia ketahui.
Bagaimana mungkin dia berhubungan dengan wanita yang juga berhubungan dengan putranya?
"Tidak mungkin." Galang kembali berucap.
"Papa." Raditya mendekati Galang yang tampak syok mendengar ucapannya.
"Radit, papa sungguh tidak menyangka kalau kamu juga mempunyai hubungan dengan Kinara. Apa wanita itu yang membuat rumah tanggamu dengan istrimu hancur?"
Raditya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Ya, Tuhan ...." Galang mengusap wajahnya kasar. Begitupun dengan Raditya.
Kadang, takdir memang selucu itu. Dari sekian banyak perempuan, kenapa yang menjadi kekasih papanya adalah Kinara?
Raditya tersenyum getir.
"Jadi, dia bercerai dengan suaminya karena dia selingkuh dengan Papa?" Raditya menatap Galang.
"Papa tidak tahu. Saat papa mengetahui kalau dia sudah menikah, papa langsung meninggalkannya dan menutup semua akses agar papa tidak lagi bertemu dengannya. Papa sakit hati." Galang mengembuskan panjang.
"Saat itu, papa bertemu dengannya tanpa sengaja. Dia bilang, saat itu dirinya sedang hamil dan suaminya meninggalkannya karena tahu dia berhubungan dengan papa."
"Dan saat Papa meninggalkannya, aku bertemu dengannya dan kembali berhubungan dengan dia di belakang istriku. Dia bulan kami berhubungan dia mengatakan kalau dirinya hamil dan aku langsung menikahinya dan menganggap anak dalam perutnya itu adalah anakku."
"Biadab! Kinara benar-benar perempuan jahat!" umpat Galang.
"Kakek!" Zian yang sedari tadi terdiam melihat kedua lelaki dewasa itu berbicara, berteriak kegirangan saat melihat seseorang yang sudah lama tidak dilihatnya kini berada di depan pintu kamar.
"Zian." Pratama dan Monika yang baru saja sampai di depan pintu kamar tampak terkejut melihat sosok bocah kecil di hadapannya.
"Kakek." Zian memeluk Pratama dengan riang.
"Zian." Pratama menatap Raditya dan Galang yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Zian, kenapa kamu ada di sini?" tanya Monika.
"Ini rumah papaku. Aku tinggal di sini sama papa."
"Apa?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1