CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
HARTA WARISAN


__ADS_3

Galang baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap. Lelaki perih baya itu sudah melewati masa kritisnya dan kini tinggal menjalani perawatan untuk kesembuhan dirinya.


Akibat kecelakaan itu, Galang mengalami kelumpuhan. Meskipun dokter mengatakan kalau kelumpuhan itu masih bersifat sementara. Galang bisa melakukan terapi setelah luka-lukanya sembuh nanti.


Mendapati keadaannya yang sedang tidak baik-baik saja, Galang memerintahkan pengacaranya untuk datang ke rumah sakit.


Raditya, Pratama dan Lauren bergantian menjaga Galang dari dua hari yang lalu, semenjak Galang masih belum sadarkan diri. Mereka bertiga merasa kasihan pada Galang yang tidak mempunyai satupun saudara.


Raditya menurunkan ego dan kemarahannya pada lelaki yang berstatus sebagai ayah biologisnya itu. Biar bagaimanapun, saat ini lelaki itu sangat membutuhkan dukungannya.


"Ra–Raditya." Suara Galang terdengar pelan.


"Pa–pa minta maaf."


"Aku sudah memaafkan Papa. Tenanglah! Papa hanya perlu beristirahat agar Papa cepat sembuh." Raditya menatap Galang yang terlihat lemah.


"Papa ingin mengatakan sesuatu padamu." Galang menatap Raditya dan juga Pratama yang berada di samping putranya itu.


"Tama, terima kasih karena sudah merawat putraku dengan baik. Maafkan atas semua kesalahan yang dulu pernah aku lakukan padamu." Galang menatap Pratama dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Aku sudah memaafkanmu dari dulu." Pratama mengusap lengan Galang.


"Kamu harus sembuh. Bukankah, kamu ingin sekali hidup bersama dengan putramu?" Pratama tersenyum membuat Galang ikut tersenyum.


"Damar, apa kamu sudah mengurus semua yang aku minta?" Galang menatap ke arah pengacaranya.


"Semuanya sudah siap sesuai keinginan Pak Galang." Damar memegang dokumen yang sudah dipersiapkannya dari semalam.

__ADS_1


"Tolong kamu berikan dokumen itu pada Raditya."


Damar mengangguk kemudian memberikan dokumen itu pada Raditya.


Raditya membuka dokumen itu dan membacanya. Netranya membola saat membaca semua tulisan yang tertera di sana.


"Ini ...." Raditya menatap Galang tak percaya.


"Papa mempercayakan perusahaan papa padamu, Raditya. Perusahaannya memang tidak besar, tapi sedang cukup berkembang saat ini. Papa ingin kamu yang mengurusnya."


"Tapi, Pa, ini terlalu berlebihan. Lagipula, aku tidak mengerti. Aku tidak pernah memimpin perusahaan." Raditya menggelengkan kepalanya.


"Orang-orang papa akan membantumu, Radit. Bukankah kamu sudah punya pengalaman bekerja di perusahaan orang lain?" Galang memberikan semangat.


"Iya. Perusahaan itu milik istriku. Mantan istri maksudnya." Raditya melarat ucapannya. Sementara itu, Galang terlihat sedikit terkejut mendengar ucapan Raditya.


"Ceritanya panjang. Nanti aku ceritakan sama kamu kalau kamu sudah sembuh," ucap Pratama saat Galang menatap ke arahnya seolah meminta penjelasan.


Galang tersenyum mendengar ucapan Pratama.


"Kalau papa memberikan semua ini padaku, lalu bagaimana dengan putra papa yang satunya lagi?"


"Papa sudah menyisakan bagiannya. Kamu tenang saja. Lagipula, umur dia baru lima tahun. Masih lama. Papa yang akan mengurus perusahaan yang papa persiapkan untuknya dibantu oleh orang-orang papa, sementara kamu urus bagianmu," terang Galang membuat Raditya bernapas lega.


Entah dia harus merasa senang atau sedih. Setelah bertemu dengan Galang Raditya bagai mendapatkan durian runtuh. Rasanya seperti mimpi, tiba-tiba dirinya mendapatkan warisan sebuah perusahaan yang harus ia pimpin.


Membayangkan itu, Raditya jadi teringat dengan Dara. Jika statusnya sama dengan Dara akan ada kemungkinan kalau dirinya akan kembali percaya diri untuk mendapatkan Dara.

__ADS_1


Tidak seperti sekarang yang hanya melihat wanita itu dari jauh karena merasa bersalah dan tidak selevel dengan Dara.


"Bagaimana, Radit? Apa kamu bersedia menerima pemberian papa?"


Raditya menatap ke arah Pratama yang menganggukkan kepala.


"Aku terima semua pemberian Papa. Tapi, aku mohon bimbingannya agar aku tidak mengecewakan Papa nantinya."


Raditya menatap Galang yang tersenyum bahagia.


"Tentu saja. Papa akan menyuruh orang kepercayaan papa untuk mendampingimu sampai papa pulih. Setelah papa sembuh, papa sendiri yang akan mengajarimu."


"Terima kasih, Pa." Raditya tersenyum bahagia. Apalagi, saat melihat senyum bahagia yang terpancar dari wajah Galang.


"Selain perusahaan, papa juga memberikan rumah yang papa tempati untukmu. Papa ingin tinggal bersama kamu selama masa tua papa."


"Terima kasih, Pa. Aku janji, aku akan merawat Papa dengan baik. Bukan hanya Papa Galang, tapi juga Papa Pratama." Raditya memeluk Pratama.


Raditya berjanji, akan selalu menjadi anak Pratama meskipun dirinya sudah menemukan papa kandungnya.


"Galang, bagaimana dengan mama kamu? Apa kamu benar-benar tidak akan mencabut laporanmu?" tanya Galang hati-hati.


"Kalau laporannya dicabut, mama tidak akan pernah menyadari kesalahannya, Pa. Untuk saat ini, biar mama menjalani hukuman atas perbuatannya." Raditya berucap dengan rasa sedih di hatinya. Biar bagaimanapun, Mira adalah ibunya. Bohong saja jika dia tidak merasa sedih. Akan tetapi, sikap Mira sudah keterlaluan. Dia pantas mendapatkan hukuman agar dia sadar.


"Baiklah! Terserah kamu saja. Papa hanya bertanya." Galang dan Pratama menatap Raditya yang mengangguk.


"Papa tolong carikan pengacara untuk membela mama. Mudah-mudahan hukuman mama bisa diperingan dari yang seharusnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2