
Dara melangkahkan kakinya dengan ringan. Wanita itu terlihat sangat cantik dan semakin bersinar. Selepas dari Raditya, Dara semakin terlihat cantik dan menarik.
Beberapa orang meliriknya. Berdecak kagum melihat CEO dari perusahaan mereka itu semakin hari semakin terlihat menggoda. Padahal, Dara memakai pakaian yang lumayan tertutup. Panjang roknya di bawah lutut. Atasannya juga memakai lengan panjang. Namun, meskipun begitu, semua orang menganggap wanita itu terlihat seksi. Aura cantiknya terpancar membuat mata lelaki yang melihatnya tidak tahan.
Seandainya saja Dara adalah pegawai biasa, semua pegawai di kantor itu sudah pasti berlomba-lomba untuk mengejarnya.
"Pagi, Bu Dara." Semua pegawai di kantor itu menyapa saat Dara melewatinya. Dara dengan senyum mengembang menjawab semua sapaan mereka.
Semua pegawai merasa kagum karena bos mereka begitu ramah dan murah senyum. Semenjak Dara kembali ke kursi kebesarannya tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi, semua pegawainya sangat senang. Perusahaannya juga semakin berkembang.
Tidak salah sang ayah, Haris Sanjaya memberikan perusahaan itu pada Dara. Wanita itu mempunyai kemampuan yang hebat. Tidak kalah dengan kemampuan seorang laki-laki.
"Bu Dara semakin hari semakin cantik dan bersinar ya," ucap salah satu pegawai perempuan saat Dara sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Iya. Bego banget si Raditya melepas berlian kaya Bu Dara. Dia itu buta apa gimana?" celetuk pegawai lainnya yang kebetulan adalah teman Raditya.
"Benar-benar bodoh! Sudah dapat orang sebagus Bu Dara malah selingkuh." Salah satu pegawai ikut menimpali.
"Sayang banget ya, orang secantik Bu Dara sudah menjadi janda."
"Iya. Tapi Bu Dara itu janda bukan sembarang janda. Lihat saja, dia masih muda, cantik, seksi, siapapun yang melihatnya nggak bakalan nyangka kalau Bu Dara itu seorang janda." Semua pegawai yang sedang bergosip itu mengangguk-angguk mendengar ucapan salah satu temannya.
"Bu Dara itu janda premium. Aku yakin, pasti banyak pengusaha yang bakal ngejar-ngejar Bu Dara setelah ini. Tak terkecuali Pak Davin yang sudah bucin akut." Semua orang tertawa mendengar ucapan salah satu teman mereka.
Memang sudah bukan rahasia umum lagi jika Davin Mahendra, teman sekaligus rekan bisnis Dara itu begitu tergila-gila pada Dara. Bagaimana semua orang tidak tahu, kalau Davin sendiri dengan terang-terangan mengejar CEO cantik mereka.
__ADS_1
***
"Sweetie."
Suara Davin menyapa pendengaran Dara. Wanita itu saat ini sedang makan siang bersama Lisa, sekretarisnya di ruangan Dara. Pekerjaan Dara sangat banyak hingga dia tidak sempat untuk makan siang di luar kantor.
Dara menyuruh Lisa menyiapkan makan siang di ruangannya sekalian mengajak perempuan itu bergabung. Dia tahu kalau sekretarisnya juga belum makan siang.
Davin langsung bergabung. Lelaki itu duduk di samping Dara. Dia bahkan dengan santainya melahap makanan dalam sendok Dara. Dara yang sudah bersiap menyuap makanan itu ke dalam mulutnya terlihat cemberut.
"Kebiasaan!" Dara memelototi pria itu. Sementara Davin tersenyum sambil mengunyah makanannya. Sedangkan Lisa terlihat canggung melihat kemesraan mereka.
"Aku lapar, Sweetie."
"Kalau lapar tinggal makan. Kenapa malah ngambil makanan aku?"
Dara mencebik. Tetapi, tidak marah. Mereka berdua pun akhirnya suap-suapan. Makan sepiring berdua. Lisa mempercepat makannya. Wanita itu tidak tahan melihat sepasang sahabat yang lebih layak dikatakan sebagai seorang kekasih itu.
Lisa baper sendiri melihat sikap Davin. Lelaki itu, terlihat dingin saat di luaran. Tetapi, saat bersama dengan bosnya, Davin terlihat sangat manja.
"Saya sudah selesai makan. Saya permisi dulu Bu Dara, Pak Davin," ucap Lisa. Wanita itu buru-buru mengemasi bekas makanannya.
Sandra dan Davin mengangguk bersamaan. Lisa kemudian keluar dari ruangan itu.
"Kamu masih mau makan lagi?" Davin menyuapkan makanan ke mulut Dara.
__ADS_1
"Aku masih lapar." Dara menatap piringnya yang sudah kosong.
"Aku juga masih lapar. Kita pesan lagi saja gimana?"
"Kamu aja yang pesan. Aku mau lanjutin pekerjaan aku." Dara berniat bangkit dari sofa. Namun, Davin mencegahnya.
Laki-laki itu mengusap sudut mulut Dara dan juga bibirnya dengan menggunakan jarinya.
"Mulutmu belepotan." Davin mengambil tisu kemudian kembali mengusap bibir merah Dara yang berlapis lipstik merah muda.
"Kamu membersihkan mulutku apa mau menghapus lipstik di bibirku." Dara mengerucutkan bibirnya.
"Dua-duanya. Gemes banget lihat ini. Pengen aku makan."
"Dih! Awas saja kalau berani. Aku bilangin sama papa," ancam Dara. Wanita itu bangkit dari duduknya.
"Coba saja bilang, palingan nanti kita langsung dinikahin," jawab Davin enteng.
"Memangnya kamu nggak malu nikah sama janda?"
"Ngapain malu? Apalagi jandanya janda premium kayak kamu." Davin tertawa sendiri dengan ucapannya.
"Apa-apaan janda premium?" Dara mendelik kesal. Sementara Davin tertawa. Lelaki itu mendekati Dara. Meraih pinggang wanita itu agar mendekat ke arahnya.
"Kamu itu biarpun janda, tapi kualitasnya tinggi. Nggak kalah sama gadis-gadis di luaran sana. Kamu bahkan jauh lebih baik daripada wanita yang mengaku gadis tapi sudah tidak perawan." Davin tersenyum kemudian mendekap tubuh wanita yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
"Aku tidak peduli apapun statusmu, Sweetie. Yang jelas, aku mencintaimu dengan segenap hatiku."
BERSAMBUNG ....