CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
DASAR BODOH!


__ADS_3

"Jadi selama ini Dara tidak mandul?" Mira membelalakkan kedua matanya.


"Aku yang menyuruh Dara mengkonsumsi obat pencegah kehamilan agar dia tidak hamil. Aku belum siap mempunyai anak dengan Dara. Apalagi, saat itu pekerjaanku di kantor tidaklah bagus."


"Dasar bodoh!"


"Mama!"


"Kenapa? Kau tidak terima?" Mira berteriak di depan Raditya.


"Kamu melarang istrimu hamil tapi membiarkan selingkuhan kamu hamil anakmu. Apa itu namanya kalau bukan bodoh?" Suara Mira menggelegar ke seluruh ruangan.


"Zain bukan anakku. Saat itu Kinara hamil hanya untuk menjebakku agar aku menikahinya!" Raditya tidak terima dengan ucapan ibunya.


"Tapi tetap saja kamu salah karena sudah menyuruh Dara menggunakan pil pencegah kehamilan, Radit! Mama sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu."


"Saat itu aku belum siap, Ma, karena kondisi keuanganku belum stabil."


"Ya, kamu benar. Tapi setelah kondisi keuanganmu membaik, kamu justru menikahi perempuan ****** itu," kesal Mira.


"Mama merestui pernikahanku dengan Kinara kalau Mama lupa! Mama bahkan orang yang pertama kalinya mendukung perselingkuhan dan pernikahan diam-diamku dengan Nara!" teriak Raditya. Ia merasa kesal karena saat ini sang mama justru menyudutkannya.


Raditya merasa heran, kenapa tiba-tiba mamanya membela Dara? Padahal, selama ini sang mama tidak pernah menyukai Dara sama sekali. Sang mama bahkan berulang kali menyuruhnya untuk menceraikan Dara. Apalagi, setelah pernikahannya dengan Kinara.


"Semuanya sudah terjadi, Ma. Kekesalan Mama tidak ada gunanya sama sekali. Bukankah Mama selama ini sangat membenci Dara? Seharusnya Mama senang dong, karena Dara sekarang sudah tidak lagi menjadi istriku," ucap Raditya santai. Raditya bahkan tidak memedulikan raut wajah sang mama yang terlihat sangat murka mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Aku membenci Dara karena aku pikir dia adalah gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa. Kalau Mama tahu Dara adalah wanita kaya raya, sudah pasti mama akan menyayangi wanita itu bahkan lebih dari rasa sayang mama pada wanita ****** yang mama kira sedang mengandung anakmu waktu itu!"


Raditya berdecak kesal. Ternyata, mamanya memang tidak pernah berubah. Selalu serakah jika sudah menyangkut tentang uang dan harta benda.


"Semuanya sudah terlambat, Ma. Aku sudah kehilangan Dara. Jadi, simpan saja kemarahan Mama yang juga sangat terlambat!"


Mira mendengus kesal mendengar ucapan Raditya.


"Jika kamu tidak ceroboh, mama yakin, Dara pasti saat ini masih menjadi istrimu."


"Jika saat itu Mama tidak mendukung perselingkuhanku dengan Kinara, saat ini Dara juga pasti masih menjadi istriku."


"Kamu menyalahkan mama atas perselingkuhan yang kamu lakukan dengan wanita murahan itu?" Kedua bola mata Mira melotot mendengar ucapan Raditya.


"Seandainya saat itu Mama melarangku berhubungan dengan Kinara, aku pasti tidak akan pernah menikahi perempuan itu. Seharusnya sebagai seorang ibu, Mama melarangku berselingkuh dengan Kinara bukannya malah mendukung dan menyuruhku menikahi perempuan itu secara diam-diam di belakang Dara."


"Anak tidak tahu diuntung! Jadi kamu menyalahkan mama atas apa yang terjadi padamu saat ini?"


"Seandainya saja saat itu Mama mencegahku menikahi Kinara dan melarang hubunganku dengan wanita itu, rumah tanggaku saat ini pasti akan baik-baik saja. Mama terlalu ikut campur dalam keluargaku." Raditya terus berbicara. Kehilangan Dara membuat perasaannya tidak karuan.


Lelaki itu seolah tidak sadar dengan ucapannya.


"Kau benar-benar keterlaluan, Raditya!"


"Mama lebih keterlaluan karena membiarkan aku melakukan sesuatu yang menyakiti Dara."

__ADS_1


"Cukup, Raditya! Hubungan kamu dengan Kinara adalah karena keinginan kamu sendiri bukan keinginan mama!"


Raditya terdiam. Lelaki itu tidak lagi menjawab ucapan Mira.


"Maafkan aku, Dara. Seharusnya aku tidak mengkhianatimu. Kini aku sadar, kalau aku benar-benar tidak bisa kehilangan kamu," batin Raditya.


"Sekarang, sebaiknya kamu minta maaf pada Dara. Mama yakin, Dara pasti masih mencintaimu." Mira menatap Raditya yang terlihat putus asa.


"Aku dan Dara sudah resmi bercerai, Ma. Hubungan kita sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Bukan hanya itu saja, Dara juga memberikan waktu sehari saja untuk mengosongkan rumah ini.


"Apa?" Mira kembali berteriak.


"Kau benar-benar menuruti keinginan Dara untuk memberikan rumah ini?" Sepertinya sebentar lagi darah tinggi Mira kumat karena sedari tadi mendapatkan kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan.


"Itu sudah keputusan pengadilan, Ma. Aku tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Raditya pelan.


Pria itu juga tidak pernah menyangka kalau dirinya akan kehilangan semuanya hanya dalam waktu cepat. Kehilangan Dara, kehilangan semua asetnya. Kini, yang tertinggal hanya uang yang tidak seberapa di dalam ATM nya.


Raditya sangat menyesali keputusannya yang justru menghamburkan uang untuk memenuhi keinginan Kinara saat itu. Seandainya ia tahu semua akan berakhir seperti ini, dirinya pasti akan berpikir berkali-kali untuk menghabiskan uangnya.


"Mama akan menemui Dara. Mama akan memohon padanya agar tidak mengambil rumah ini darimu."


"Mama!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1



__ADS_2