
Suara tembakan dan suara rintih kesakitan terdengar di telinga Dara. Tubuh Raditya yang memeluk Dara lunglai kemudian merosot jatuh.
Dara menjerit histeris. Sementara itu, kedua orang pelaku yang mengendarai motor itu merasa terkejut saat melihat wajah Dara. Motor itu langsung melesat saat mendengar teriakan Dara.
Lauren yang baru sampai ke rumahnya beberapa menit sebelum Dara dan Raditya datang, segera membuka pintu gerbang diiringi oleh Raditya yang mendengar suara teriakan Dara.
Mereka berdua sangat terkejut melihat Dara memegangi tubuh Raditya yang berlumuran darah. Punggung Raditya tertembak, darahnya mengalir karena Dara memangku laki-laki itu.
Raditya masih tersadar saat dirinya mendengar suara teriakan Suara dan tangis perempuan itu yang terlihat begitu khawatir. Bibirnya tersenyum tipis sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
Mereka bertiga kemudian membopong tubuh Raditya yang sudah tidak sadarkan diri masuk ke dalam mobil. Pratama melepaskan kemejanya untuk menutupi luka Raditya yang terus mengeluarkan darah. Tangannya gemetar. Apalagi, saat bayangan masa lalu kembali terlintas.
Bayangan di mana dirinya dengan panik membawa Nadia ke rumah sakit saat wanita itu terjatuh dari tangga. Tubuh Nadia tidak sadarkan diri dengan darah yang keluar tanpa henti dari bagian kepala dan perutnya.
"Cepat, Lauren!" teriak Pratama dengan suara gemetar.
Tubuh Dara ikut gemetar melihat keadaan Raditya. Ia sungguh tidak menyangka kalau pertemuannya dengan Raditya akan berakhir seperti ini.
Siapa sebenarnya orang-orang itu. Kenapa tiba-tiba ada orang yang ingin menyerangnya?
__ADS_1
Lauren dengan sigap menyalakan mobil. Gadis itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Rasa panik ikut menyerangnya. Namun, dengan sekuat tenaga Lauren tetap berusaha untuk berkonsentrasi.
Bayangan beberapa orang yang mengikuti saat dirinya keluar menuju mini market kembali terlintas. Lauren pergi ke mini market yang terletak tidak jauh dari rumahnya untuk mencari pembalut karena tiba-tiba ia mengalami haid dan kehabisan stok di rumahnya.
Lauren tadinya ingin menyuruh Bi Inah, asisten rumah tangganya. Namun, wanita itu sedang sibuk memasak untuk menyambut kedatangan Dara yang diundang oleh papanya ke rumah.
Lauren pergi menggunakan motor maticnya. Wanita itu buru-buru pulang dan melajukan motornya dengan cepat saat melihat beberapa orang bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam sedang memperhatikan dan mengikutinya dari belakang.
Wanita itu langsung masuk ke dalam rumah. Setelahnya, tidak sampai sepuluh menit ia mendengar suara tembakan dan teriakan. Lauren mengembuskan napas panjang. Kedua matanya tetap fokus pada kemudi meskipun saat ini pikirannya sedang menebak-nebak sesuatu.
"Apa ada kemungkinan kalau semua ini adalah perbuatan istri Papa? Papa ingat bukan, kalau Raditya baru saja menelepon kita untuk berhati-hati?" tanya Lauren sambil tetap fokus pada kemudi.
"Ada apa, Pa? Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa tiba-tiba saja ada orang yang ingin menyerang–"
"Raditya baru saja menelepon agar aku dan Papa berhati-hati. Istri Papa tidak terima Papa pergi dari rumah dan memilih tinggal bersamaku," jelas Lauren.
"Jadi, Papa ada di rumah itu karena Papa meninggalkan ibunya Raditya?" Dara menatap Pratama dengan perasaan heran.
"Ceritanya panjang, Sayang. Nanti Papa jelaskan di rumah sakit." Pratama masih dengan wajah panik tersenyum getir.
__ADS_1
Seandainya ini benar-benar perbuatan Mira, Pratama tidak akan pernah lagi memaafkan wanita itu.
"Jika benar ini adalah perbuatan kamu, aku bersumpah, aku sendiri yang akan memasukkan kamu ke dalam penjara," ucap Pratama dalam hati.
Dara melaporkan insiden tadi ke polisi saat dirinya masih berada di depan rumah Pratama. Sebelum Pratama dan Lauren keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi, Dara dengan cepat menelepon polisi.
Dara bahkan menghapal ciri-ciri pengendara motor tersebut karena saat kejadian, kedua pria itu sempat menatap ke arah dirinya. Salah satu dari orang itu juga tidak menggunakan masker hingga wajahnya terekspos dengan jelas.
"Sebenarnya orang itu ingin menyerangku. Aku sudah melihat mereka saat aku keluar ke mini market tadi." Lauren kembali bersuara. Saat ini, mereka sudah sampai di gerbang rumah sakit.
"Sepertinya mereka salah sasaran. Mereka ingin menembak aku tapi karena saat itu ada kamu di depan rumah, mereka mengira kamu adalah aku. Beruntung, mantan suami kamu melindungi kamu. Kalau tidak, mungkin kamu yang akan menjadi korban," jelas Lauren sambil melirik ke arah bajunya. Wanita itu melirik ke arah Dara yang tampak terkejut menemukan ucapannya dari kaca spion.
Dara, mantan istri adik tirinya sekaligus calon bos di tempat kerjanya yang baru itu menggunakan baju dengan warna dan model hampir sama persis seperti yang dikenakan Lauren.
Saat keluar dari ruangannya, Dara memang mengganti pakaiannya dengan pakaian santai karena dirinya akan mengunjungi Pratama di rumahnya. Model rambut Dara bahkan mirip dengan Lauren. Hitam legam bergelombang dengan panjang di bawah bahunya.
Akankah tebakan Lauren benar? Jika benar, dirinya benar-benar tidak akan melepaskan Mira. Wanita itu, harus mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya sekarang dan juga di masa lalu.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1