
Raditya dan Monika menutup mulut mereka saat mendengar ucapan Mira yang kini sedang menelepon seseorang.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah saat mendengar cerita Bi Rumsih yang mengatakan jika sang mama bisa melakukan apapun untuk mewujudkan keinginannya, termasuk menyingkirkan orang-orang yang menghalanginya.
Mereka berdua berhenti di depan pintu kamar yang sedikit terbuka. Mereka terlebih dahulu mengintip keadaan Mira. Namun, langkah mereka terhenti saat mendengar ibunya sedang menelepon seseorang.
Kedua anak kandung Mira itu sangat terkejut saat mendengar Mira mengatakan kalau dirinya menyuruh orang untuk melenyapkan seseorang.
Ternyata, ucapan Bi Rumsih memang benar. Mereka berdua benar-benar tidak menyangka kalau ibu mereka ternyata begitu jahat.
"Mas Radit, kita harus menghentikan mama. Aku tidak mau kalau mama sampai mencelakai seseorang. Aku tidak mau kalau mama sampai di penjara karena perbuatannya," ucap Monika dengan kedua mata berkaca-kaca. Ia sungguh merasa syok mendengar ucapan ibunya tentang melenyapkan seseorang.
"Kita harus beritahu papa tentang ini," lanjut Monika panik.
"Tenang dulu, Monik. Tenang." Raditya menenangkan adiknya.
"Kita temui mama sekarang. Kamu harus tenang, oke?"
Monika mengangguk kemudian mengikuti langkah Raditya masuk ke dalam kamar.
"Melenyapkan siapa yang Mama maksud?" Raditya menatap wanita yang melahirkannya dengan tatapan tajam. Sungguh! Dalam hati ia tidak pernah mengira kalau ibunya mampu melakukan hal yang melanggar hukum seperti itu.
__ADS_1
"Ra–Radit." Suara Mira tergagap saat melihat kedatangan Raditya dan Monika di kamar itu.
"Apa Mama ingin melakukan hal yang sama seperti yang mama lakukan di masa lalu?" Raditya menatap ibunya dengan raut wajah kecewa.
"Radit–"
"Harusnya Mama sadar, apa yang papa lakukan itu semua karena ulah Mama. Jika Mama tidak mengusik Lauren, papa tidak akan pergi dari rumah ini," ucap Raditya pelan.
"Jadi kamu menyalahkan Mama? Jelas-jelas papa kamu pergi karena wanita sialan itu, tapi kamu masih menyalahkan mama?" Mira menatap Raditya dengan tajam.
"Wanita yang Mama sebut Sialan itu adalah anak Papa. Sama seperti aku dan Monika. Tidak bisakah Mams juga menerima dia seperti Papa menerima aku?" Raditya menggeleng pelan. Tidak mengerti jalan pikiran sang mama.
Seandainya memang harus saling membenci, bukankah seharusnya Lauren dan papanya yang membenci sang Mama karena dia telah begitu jahat menjadi penyebab kematian ibunya Lauren?
Mereka saja sebagai anak sudah menerima Lauren sebagai saudara mereka, tetapi, kenapa sang mama tidak mau menerimanya? Apa karena mama masih merasa cemburu dengan ibunya Lauren yang sangat dicintai oleh papa?
"Mama jelas-jelas tahu kalau aku bukanlah anak papa, tapi kenapa nama bersikeras?"
"Raditya!" teriak Mira.
"Kenapa? Semua ucapanku benar bukan? Kenapa Mama begitu membenci Lauren yang jelas-jelas adalah istri sah Papa saat itu? Sementara aku, aku adalah anak haram yang Mama pakai untuk menjebak papa agar mau menikahi Mama!"
__ADS_1
"Raditya!" Suara Mira menggema di dalam kamar.
"Kenapa? Mama masih tidak sadar dengan kesalahan Mama di masa lalu? Seharusnya Mama senang karena papa tidak melaporkan Mama ke polisi, Ma. Seandainya papa melaporkan mama, mungkin aku akan menjadi anak dari seorang ibu narapidana." Semua kata-kata yang keluar dari mulut Raditya hampir mirip dengan ucapan Pratama.
Putranya itu, kenapa tidak mengerti kalau apa yang dia lakukan itu demi kebaikannya? Ia tidak akan membiarkan Pratama hidup bersama dengan anaknya Nadia. Lauren harus mati agar Pratama kembali hidup bersamanya dan anak-anak.
"Selama ini, papa selalu bersama kita dan mengabaikan Lauren. Dari semenjak Lauren lahir ke dunia, dia tidak pernah merasakan kasih sayang ibu dan juga ayahnya. Tapi aku dan Monika? Papa bahkan menyayangi aku lebih dari anak kandungnya. Apa Mama tidak tersentuh sama sekali dengan pengorbanan papa selama ini?
"Mama tidak peduli! Pokoknya gadis sialan itu harus mati. Dia yang menyebabkan papa kalian meninggalkan kita. Kalau sia mati, papa pasti akan kembali pada kita."
"Mama!" Monika yang sedari tadi terdiam berteriak mendengar ucapan Mira.
"Aku tidak pernah menyangka kalau aku mempunyai ibu sekejam Mama." Monika menatap Mira dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Saat Mama benar-benar melenyapkan Lauren, papa bukan akan kembali pada kita. Tapi papa akan memasukkan mama ke dalam penjara. Mama akan membusuk di penjara, sementara papa bisa hidup bahagia karena terbebas dari orang jahat seperti Mama. Apa itu yang Mama mau?"
"Jika benar memang itu yang Mama mau, jangan salahkan aku dan Mas Radit jika kamu juga akan meninggalkan Mama."
"Monik–"
"Aku tidak mau mempunyai seorang ibu yang jahat seperti Mama."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....