
Davin menghentikan mobilnya secara mendadak saat mendengar ucapan Dara. Beruntung, saat itu jalanan tidak terlalu ramai.
Davin menatap Dara sambil tersenyum kuda.
"Maafkan aku. Kamu tenang saja, aku pasti akan melamarmu dengan cara istimewa," ucap Davin percaya diri.
Lelaki itu kemudian kembali melajukan mobilnya.
"Tidak ada sesi kedua."
"Hah?"
Dara tertawa melihat ekspresi Davin.
"Aku serius, Sweetie."
"Aku juga serius, Davin. Banyak banget pekerjaan di kantor. Aku tidak punya waktu untuk–"
"Kita bicarakan ini di restoran. Aku lapar." Davin mengurangi kecepatan mobilnya kemudian berhenti di sebuah restoran. Seperti biasanya, Davin memilih restoran milik Dara. Lelaki itu bukan hanya mencintai Dara, tetapi, juga menyukai semua menu yang ada di restoran milik wanita pujaannya itu.
"Kamu tidak bosan makan di restoran ini?"
__ADS_1
Davin menggeleng. Lelaki itu membuka seatbelt, turun dari mobil. Setelahnya membukakan pintu mobil untuk Dara. Lelaki itu menggandeng tangan Dara masuk ke dalam restoran.
Mereka berdua terlihat serasi. Semua orang yang melihat mereka berdecak kagum melihat ketampanan dan kecantikan pasangan itu.
Dara tersenyum saat salah satu pegawainya mendekat ke arah mejanya sambil membawa buku menu. Davin juga tersenyum ramah. Semua pegawai di restoran itu hampir semuanya mengenal Davin Dara. Rata-rata semua pegawai Dara bahkan mendoakan Dara dan Davin bersatu dalam pernikahan.
"Aku mau makan ini." Dara menunjuk menu berbahan udang.
"Aku mau makan seperti biasa." Davin mengembalikan buku menu itu pada wanita yang melayani mereka. Wanita itu tersenyum kemudian mencatat makanan kesukaan pria tampan di hadapannya. Sangat mudah mengetahui apa itu makanan yang sama seperti yang diucapkan oleh Davin karena hampir setiap datang ke restoran, hanya makanan itu yang dia pesan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Davin? Aku sibuk banget. Kerjaan di kantor terpaksa aku tunda karena masalah penembakan itu. Aku bahkan membatalkan beberapa meeting penting karena merasa tidak enak jika aku tidak melihat keadaan Raditya yang sudah menyelamatkan nyawaku."
Davin menghela napas panjang mendengar ucapan Dara. Memang benar apa yang dikatakan oleh Dara, tetapi, Davin tetap saja merasa cemburu karena Dara terlihat begitu perhatian pada mantan suaminya itu.
Davin sangat khawatir terjadi sesuatu pada Dara sampai akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan bertemu langsung dengan wanita pujaan hatinya.
"Kenapa kamu tiba-tiba pulang ke sini? Bukankah kamu sedang dalam perjalanan bisnis ke Jepang?" Melihat Davin yang masih terdiam, Dara ingat kalau dirinya ingin menanyakan kepulangan Davin yang tiba-tiba.
Davin baru sehari sampai di Jepang. Akan tetapi, hari ini dia sudah sampai di sini. Bukankah Davin mengatakan kalau dirinya akan berada di Negara Sakura itu selama satu minggu?
"Aku baru saja sampai, tapi seseorang mengabariku. Mereka mengatakan kalau terjadi sesuatu padamu." Davin menghela napas panjang.
__ADS_1
"Aku merasa panik. Aku memutuskan untuk kembali ke sini menemui kamu dan memastikan kalau kamu baik-baik saja. Aku menunda semua pekerjaanku di sana karena aku sangat khawatir sama kamu." Davin menggenggam kedua tangan Dara yang berada di atas meja.
"Davin." Dara menatap lelaki di hadapannya dengan penuh haru. Ia sungguh tidak mengira kalau Davin akan berbuat seperti itu. Rela meninggalkan pekerjaannya hanya demi dia.
"Bisakah kamu tidak membuatku khawatir, Sweetie?" Davin menatap Dara dengan penuh cinta sekaligus cemas.
"Baru sehari aku meninggalkanmu sudah ada kejadian yang hampir saja menghilangkan nyawamu. Aku hampir saja gila saat mendengar jika seseorang ingin menghabisi nyawamu," ucap Davin dengan kedua mata berkaca-kaca.
Davin kembali teringat bagaimana napasnya hampir saja berhenti saat mendengar kalau Dara berada di rumah sakit karena baru saja mengalami penembakan.
Setelah kabar yang didengarnya, rasanya Davin ingin sekali menghajar orang yang pertama kali memberinya kabar yang tidak sesuai dengan fakta.
Davin baru mengetahui kalau orang kepercayaannya itu merasa panik karena saat itu dia mengira kalau Dara juga ikut tertembak karena posisi Dara dan Raditya saat itu begitu dekat.
"Maafkan aku karena telah membuatmu khawatir. Kejadiannya sangat cepat. Aku mana tahu kalau akan terjadi aksi penembakan di depan rumah Papa Pratama," ucap Dara sambil menatap Davin yang terlihat sendu.
"Aku takut. Aku kehilangan kamu, Sweetie. Aku juga takut kalau kamu akan kembali padanya karena kamu merasa berhutang budi. Apalagi, sampai sekarang kamu masih belum sepenuhnya melupakan dia."
"Aku sudah melupakannya, Davin. Aku sudah melupakan semua tentang dia. Aku sudah melupakannya."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1