CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
LAMARAN KELUARGA DAVIN


__ADS_3

Mira menangis tanpa henti. Wanita paruh baya itu terlihat sangat putus asa karena tidak ada lagi yang mau menolongnya.


Raditya, bahkan terang-terangan melaporkannya atas kasus penembakan itu. Mira sangat kaget saat mengetahui kalau kedua orang suruhannya ternyata menembak Dara bukannya Lauren.


Hanya saja, Raditya yang saat itu berada di lokasi kejadian melindungi Dara hingga akhirnya Raditya lah yang menjadi korban peluru dari pembunuh bayaran yang disewa oleh Mira.


Menyesal?


Dalam lubuk hatinya jelas Mira sangat menyesali perbuatannya yang telah menyebabkan Raditya terluka. Penyesalannya semakin mendalam saat melihat Raditya begitu acuh padanya.


Anak lelaki yang begitu ia banggakan dan begitu menurut padanya itu kini membencinya. Mira jelas melihat bagaimana kecewanya Raditya terhadapnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semua yang sudah terjadi tidak bisa ditarik lagi.


Mira ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana. Kedua pembunuh bayaran itu sudah mengaku pada polisi kalau mereka memang disuruh oleh Mira untuk membunuh Lauren.


Mira terancam hukuman penjara puluhan tahun bahkan seumur hidup. Saat mendengar tentang hukuman yang akan menimpanya, Mira merasa ketakutan. Mira tidak ingin menghabiskan masa tuanya di dalam penjara.


Akan tetapi, siapa lagi yang akan menolongnya sekarang? Mira sungguh takut kalau dirinya benar-benar di penjara seumur hidup.


Dalam kekalutannya, tiba-tiba wajah seseorang tebersit di kepalanya. Wajahnya sedikit berbinar penuh harapan. Tidak ada jalan lain. Hanya orang itulah yang saat ini bisa menolongnya. Tetapi, bagaimana cara Mira menghubungi orang itu?


Mira kemudian meminta tolong pada petugas untuk menelepon seseorang. Wanita paruh baya itu mengatakan pada petugas untuk memberitahukan pada orang itu tentang keberadaannya di penjara.


Dalam hati, Mira berdoa, semoga nomor ponsel orang itu tidak berubah. Ia sungguh sangat berharap kalau dia akan datang dan menolongnya.


"Jika benar, aku akan mendekam di sini, kamu harus tahu siapa putramu. Biar bagaimanapun, dia adalah darah dagingmu," batin Mira.


***


Dara dan Davin kini sudah berada di rumah kedua orang tuanya Dara. Mereka baru saja sampai di ruang tamu.

__ADS_1


Dara mengembangkan senyum saat melihat wanita paruh baya yang melahirkannya.


"Mama."


"Sayang, kamu datang? Mama kangen sekali sama kamu." Ana memeluk putrinya. Wanita itu sangat senang karena Dara datang ke rumahnya.


Sudah lama Dara tidak pulang ke rumah. Kesibukannya sebagai seorang CEO membuat Dara merasa tidak punya waktu untuk datang ke rumah ibunya.


Ana sangat mengerti bagaimana sibuknya Dara karena suaminya pun begitu. Menjadi seorang pemimpin perusahaan tidaklah mudah. Ana sungguh bangga pada Dara yang mampu memimpin perusahaan di saat dia masih muda. Apalagi, Dara adalah seorang perempuan.


"Mama apa kabar?" Dara melepaskan pelukan Ana.


"Mama baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat sekarang. Mama bahkan merasa sangat sehat setelah kamu datang," jawab Ana sambil tersenyum.


Pandangan Ana beralih pada


Davin.


"Halo, Tante." Davin meraih tangan Ana kemudian menciumnya. Tak lupa, pria itu juga memberikan elukan dan ciuman pada wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu.


"Kamu makin gagah aja, Dav. " Ana mengusap bahu Davin sambil tersenyum.


"Terima kasih, Tante." Ana mengangguk pelan.


Mereka bertiga kemudian duduk di ruang tamu.


"Sebentar lagi kedua orang tuamu ke sini. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan," ucap Ana. Kedua anak muda itu mengangguk.


"Sayang, kamu sudah siap bukan?" Ana menatap Dara yang saat ini tersenyum padanya.

__ADS_1


"Siap, Ma." Dara tersenyum menatap kebahagiaan yang terpancar pada wajah ibunya. Sungguh! Dara tidak ingin merusak kebahagiaan wanita yang sudah memberikannya banyak perhatian dan kebahagiaan dari semenjak dirinya masih kecil itu.


"Syukurlah! Mama senang akhirnya kamu mengambil keputusan yang benar." Ana menghela napas panjang.


Keinginannya yang terlalu memaksakan Dara agar menikah dengan Davin memang sungguh keterlaluan.


Namun, demi kebaikan Dara, Ana terpaksa melakukannya. Davin adalah sosok pria yang sangat baik dan sangat sempurna untuk dijadikannya menantu idaman. Ditambah lagi, pria itu sudah mencintai Dara selama bertahun-tahun.


Tak berapa lama kemudian, kedua orang tua Davin datang bersama dengan Haris. Mereka kemudian berkumpul di ruangan itu.


Rima, ibunya Davin sangat senang melihat Dara. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sosok cantik yang sedari dulu bersahabat dengan Davin.


Bukan hanya Rima, Mahendra pun sangat suka dengan Dara. Menurut Mahendra, Dara sangat cocok dengan Davin. Mereka berdua akan menjadi pasangan yang nantinya akan menjadi penerus kerajaan bisnis milik Mahendra juga Sanjaya.


"Kedatangan saya, istri, juga anak saya adalah untuk melamar putri Pak Sanjaya untuk menjadi menantu di keluarga kami," ucap Mahendra tanpa basa-basi.


Davin tersenyum menatap Dara. Sementara itu, Dara justru terlihat sangat canggung. Dia memang tidak menginginkan pernikahan itu. Akan tetapi, dalam hatinya yang paling dalam, Dara tidak ingin kehilangan Davin.


Hanya pria itulah yang selama ini sangat mengerti dirinya. Dara merasa nyaman saat bersama dengan Davin meskipun terkadang pria itu terlihat sangat menyebalkan.


"Bagaimana, Dara. Apa kamu bersedia menerima Davin?"


Anggukan Dara membuat semua orang menarik napas lega.


"Terima kasih, Sayang." Rima memeluk Dara.


"Baiklah, karena kamu sudah setuju. Besok, kalian berdua akan menikah."


"Hah?"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....



__ADS_2