CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
PERASAANKU MASIH SAMA


__ADS_3

Dara mematut diri di depan cermin. Memastikan kembali penampilannya. Sebuah senyuman terbit saat melihat penampilannya yang begitu paripurna malam ini.


Setelah hampir sebulan menyandang status janda, wanita itu menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja. Dara bahkan tidak mempunyai waktu untuk menangisi kesedihannya karena baru saja bercerai.


Lagipula, buat apa menangisi kesedihan? Lelaki seperti Raditya tidak pantas untuk ditangisi. Meskipun sakit hatinya sangat dalam, tetapi, Dara tidak ingin larut dalam kesedihan.


Dara keluar dari kamar setelah kembali meneliti penampilannya. Malam ini, Davin mengajaknya makan malam. Entahlah! Padahal hanya sekedar makan malam dengan Davin, tetapi, penampilan Dara sudah seperti orang yang akan berkencan dengan pacar.


Dara tersenyum saat melihat Davin sudah menunggunya di ruang tamu. Seperti biasanya laki-laki itu terlihat sangat tampan dan mempesona. Dara mengakuinya.


"Kau cantik sekali malam ini, Sweetie." Davin menatap Dara dengan berbinar. Laki-laki itu memang selalu terhipnotis dengan penampilan Dara. Dari dulu sampai saat ini, Dara adalah perempuan yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali.


"Kau juga terlihat tampan." Dara tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya.


"Kau baru menyadarinya?" Davin tersenyum sinis.


"Keterlaluan!" kesal Davin.


Dara terkekeh mendengar ucapan Davin yang begitu percaya diri. Meskipun benar adanya. Davin memang terlihat sangat tampan!


"Ayo kita berangkat!" Dara mengalihkan pembicaraan saat wajah pria itu terlihat cemberut. Benar-benar menggemaskan. Kenapa Dara baru sadar jika pria di depannya itu juga bisa bersikap manja? Sungguh bukan seperti Davin yang seperti biasanya.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian keluar dari apartemen Dara. Davin menggandeng tangan Dara, perempuan itu tak menolaknya sama sekali. Keduanya tersenyum, terlihat bahagia layaknya sepasang kekasih.


***


Dara baru saja sampai di dalam restoran. Malam ini, mereka malam di restoran milik Dara membuat wanita itu tersenyum mencibir ke arah Davin.


Pria itu tertawa kecil mendengar cibiran dan tatapan sinis Dara.


"Kamu sangat tahu, bukan, kalau aku ini adalah penggemar makanan di restoran milikmu? Jadi, jangan kaget kalau aku membawamu ke sini meskipun kamu adalah pemilik restoran ini," ucap Davin menanggapi tatapan sinis Dara.


"Baiklah, karena aku menghormatimu, aku terima dengan senang hati makan di sini."


Davin terkekeh. Wanita pujaannya itu terlihat semakin menggemaskan saat sedang marah.


"Gimana kabarmu, Sweetie. Sudah berapa hari ini aku tidak melihatmu. Kamu baik-baik saja saat aku tidak ada 'kan?" Suara Davin begitu merdu menyapa pendengaran Dara. Wanita itu bahkan sedikit terpaku saat mendengar suara lembut Davin yang terdengar begitu mengkhawatirkannya.


Beberapa hari ini, lelaki yang menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun itu memang sedang sibuk di luar kota untuk mengurus pekerjaan. Hampir seminggu ini, Davin tidak bertemu dengan Dara.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," jawab Dara pelan sambil mengembuskan napas panjang.


"Semoga hatimu pun baik-baik saja." Davin menatap Dara dengan lembut. Netra cokelatnya memindai wajah cantik yang beberapa hari ini sangat dirindukannya.

__ADS_1


"Setelah apa yang terjadi pada pernikahanku, apa kamu pikir hatiku baik-baik saja?" Dara menatap datar pada pria di hadapannya.


"Tapi kamu jangan khawatir, aku sedang bekerja keras untuk melupakannya," lanjut Dara akhirnya. Bibirnya mengulas senyum manis saat manik mata cokelat itu menatapnya dengan tajam.


Lelaki itu menghela napas panjang.


"Perasaanku masih sama, Ra. Kapan pun kamu mau, kamu bisa berlari ke arahku saat kamu lelah."


"Davin." Dara menatap pria di depannya dengan tatapan tak terbaca.


"Kenapa kamu tidak mencari saja perempuan lain? Kenapa harus menunggu seseorang tanpa kepastian?" Dara sungguh penasaran dengan Davin. Kenapa lelaki itu sangat bersikeras untuk menunggunya yang jelas-jelas tanpa kepastian?


Mereka sudah bersahabat lama. Dara bahkan sudah tahu Davin luar dalam. Perasaan laki-laki itu juga Dara sudah mengetahuinya dari dulu. Dara merasa menjadi orang paling jahat karena trus mengabaikan perasaan cinta sahabatnya itu.


Tetapi, bukankah cinta tidak bisa dipaksakan? Davin tidak akan bahagia jika dirinya menerima lelaki itu dengan terpaksa.


Davin menggeleng pelan saat mendengar ucapan Dara.


"Karena hatiku sendiri yang memilihmu sebagai pelabuhan terakhirku, Dara."


Wanita itu berdecak mendengar ucapan pria tampan di hadapannya.

__ADS_1


"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika kamu menjadi bujang lapuk karena terus menungguku dalam ketidak pastian."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2