CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
MENCARI PEKERJAAN


__ADS_3

Raditya baru saja selesai membereskan semua barang-barang dari rumah yang berganti pemilik menjadi rumah Dara. Lelaki itu sedang sibuk menata barang ke tempatnya.


Raditya beruntung karena menemukan sebuah rumah yang dikontrakkan dengan cepat. Meskipun tidak terlalu besar, paling tidak, rumah itu bisa menampung perabotan rumah yang ia bawa.


Sebagian perabotan yang lain yang tidak muat di rumah kontrakannya, Raditya jual. Lumayan, hasilnya buat tambahan saat dirinya menjadi pengangguran seperti ini.


Barang-barang yang berada di rumah mewah itu memang barang-barang bagus. Semua perabotan miliknya masih bisa dijual dengan harga lumayan. Raditya juga menjual semua barang-barang Kinara yang tertinggal.


Perhiasan, tas dan sepatu branded juga baju-baju yang bahkan belum sempat Kinara pakai Raditya jual. Hobi Kinara saat bersama Raditya memang berbelanja. Wanita itu membeli apapun yang diinginkannya tanpa peduli apakah barang itu penting atau tidak untuknya.


Kinara memang belum sempat membawa semua barang-barang miliknya dari rumah Raditya. Saat dia datang saat itu, Kinara malah bertengkar dengan Mira hingga niatnya untuk mengambil semua barang-barangnya yang tertinggal batal.


Perempuan itu berpikir, suatu hari nanti, bisa kembali ke rumah itu untuk mengambilnya. Namun, siapa sangka saat dirinya datang, Raditya langsung mengusirnya. Raditya tidak mengijinkan wanita itu untuk mengambil barang-barang yang dibeli menggunakan uangnya.


Raditya hanya memberikan baju-baju yang sudah pernah dipakainya. Sementara barang-barang yang masih bersegel, masih Raditya simpan di kamarnya. Benar saja, barang-barang itu saat ini bisa Raditya jual dengan harga sesuai. Raditya tidak peduli Kinara menganggapnya lelaki seperti apa, yang jelas, rasa kecewa dan sakit hatinya pada perempuan itu membuat Raditya tidak peduli.

__ADS_1


Setelah selesai beres-beres rumah dibantu oleh beberapa pegawai papanya seperti kemarin, Raditya kemudian beristirahat. Lelaki itu tertidur karena kelelahan.


Keesokan paginya, Raditya bertemu dengan sang papa di toko. Lelaki itu mengatakan kalau dirinya akan mencari pekerjaan. Sudah cukup dia menjadi pengangguran semenjak berpisah dengan Dara.


Uang tabungannya sudah menipis. Apalagi, semenjak berpisah dengan Dara, Raditya seringkali menghamburkan uangnya untuk mabuk-mabukan.


"Kamu mau nyari pekerjaan di mana, Radit? Kenapa kamu tidak bekerja di sini saja? Ada beberapa toko yang papa serahkan pada pegawai papa. Kamu bisa mengurus toko-toko itu kalau mau." Pratama menatap Raditya yang terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Aku nggak mau ngerepotin Papa." Raditya menatap Pratama yang ternyata bukanlah ayah kandungnya. Namun, semenjak dirinya kecil hingga dewasa, lelaki itu selalu mencurahkan kasih sayangnya dengan sepenuh hati. Tidak ada cela sedikitpun. Raditya bahkan tidak pernah membedakan antara dirinya dan Monika.


Mereka berdua saat ini sedang berada di belakang toko sambil menikmati kopi dan cemilan. Hal yang sudah lama sekali tidak dilakukan oleh Pratama dan Raditya. Kekecewaan Pratama pada Raditya saat putranya itu memilih menikah lagi dengan Kinara, membuat Pratama sedikit menjauh dari Raditya.


"Tapi usaha ini maju karena kerja keras Papa. Toko yang tadinya cuma beberapa sekarang sudah mempunyai puluhan cabang yang tersebar di mana-mana," ucap Raditya bangga.


"Kamu benar, sayangnya mama kamu selalu mengambil uang tanpa perkiraan hingga membuat beberapa toko terancam kebangkrutan." Pratama menghela napas panjang.

__ADS_1


"Entah apa yang mama kamu lakukan di luar sana, papa benar-benar pusing memikirkan mama kamu, Radit. Semakin tua bukannya bertaubat dan berubah menjadi baik, tapi–" Pratama tidak melanjutkan ucapannya. Pria paruh baya itu kembali mengembuskan napas panjang.


"Mama memang keterlaluan, Pa. Aku akui, aku juga salah ikut bersalah karena selama ini membiarkan mama. Aku bahkan ikut membantu mama agar mama bisa sepadan dengan teman-teman sosialitanya. Kebahagiaan mama adalah yang terpenting buatku saat itu, Pa. Tapi, sekarang aku menyesal. Apalagi, sekarang aku tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan mama karena aku menjadi pengangguran." Raditya ikut menghela napas panjang.


Kelakuan sang mama semakin hari semakin jadi. Wanita yang melahirkannya itu selalu saja meminta uang. Bukan hanya pada Raditya, tetapi, sang mama juga mengambil uang papanya dengan paksa hingga menyebabkan kerugian di tokonya.


"Kalau begini terus, usaha papa bisa bangkrut. Papa tidak bisa melarang mama saat mama kamu meminta uang. Semua ucapan papa tidak ada satupun yang mama kamu dengar."


"Itu karena Papa kurang tegas sebagai suami, Pa. Coba sekali-kali Papa itu jangan ngalah terus sama mama. Papa itu harus tunjukkin peran papa sebagai seorang suami." Raditya menatap sang papa yang terlihat tidak berdaya.


"Mama kamu mengancam papa akan mencelakai kakak kamu jika papa tidak menuruti keinginannya."


"Apa?"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1



__ADS_2