
Davin menatap wanita di depannya dengan penuh rasa cinta.
"Mana bisa aku berpindah ke lain hati. Selama bertahun-tahun, hati ini adalah milikmu, Dara. Hanya milikmu. Sampai kapanpun akan tetap begitu." Davin memindai wajah cantik Dara. Mengusap wajah itu kemudian memberikan sebuah kecupan pada kening Dara.
"Aku mencintaimu, Dara. Aku akan menunggu sampai kamu siap untuk menerimaku."
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, Davin. Aku hanya belum siap. Kamu sangat tahu bagaimana keadaan aku saat ini bukan?" Davin mengangguk pelan.
"Aku tahu, Sweetie. Aku sangat mengerti." Davin mengusap rambut Dara kemudian kembali memeluk wanita itu.
"Jangan terlalu memikirkan ucapan mama sama papa kamu. Oke?"
"Hmm."
"Kamu tidak keberatan aku pergi, Sweetie?"
Dara mendongakkan kepalanya.
"Kenapa aku harus keberatan? Kamu pergi untuk urusan bisnis kamu bukan?" Dara yang memang belum mempunyai perasaan yang sama dengan Davin tentu saja tidak peka dengan ucapan Davin yang sedang merajuk.
"Kau ini, benar-benar tidak peka!"
***
Pratama benar-benar menepati ucapannya. Lelaki itu sudah membereskan baju-bajunya ke dalam koper. Pratama akan tinggal di rumah Lauren. Dia bahkan tidak peduli saat Mira berteriak menahan langkahnya.
"Papa!" teriak Mira.
__ADS_1
"Keputusanku sudah bulat, Mira. Seharusnya aku melakukan ini dari dulu." Pratama menatap Mira dengan tajam kemudian menyingkirkan tubuh Mira dari hadapannya.
Lelaki itu pergi sambil membawa kopernya tanpa menoleh lagi. Pratama tidak memedulikan Mira yang berteriak dan terus mengejarnya.
Pratama masuk ke dalam mobil. Di belakang kemudi, Lauren tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Papa siap?"
"Sangat siap, Sayang."
Lauren melajukan mobilnya setelah mendengar ucapan Pratama. Gadis itu tersenyum mencibir saat melihat Mira berteriak sambil berlari mengejar mobil yang dikendarainya.
"Saat bersama papa, kamu bahkan tidak menghargai papa sama sekali. Giliran papa pergi, kamu mengejar-ngejar papa," batin Lauren.
Gadis itu sungguh merasa bersyukur karena akhirnya sang papa memutuskan untuk pergi meninggalkan wanita itu. Bukan karena Lauren membenci Mira karena telah menyebabkan ibunya meninggal dunia. Tetapi, ia sungguh kasihan melihat nasib papa yang selalu tertekan menghadapi sikap istrinya.
Dari semenjak kecil, Lauren selalu mengalah saat papanya tidak bisa menemaninya. Lauren tumbuh ditemani baby sitter yang menemaninya. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang ibu, tetapi, dia mendapatkan kasih sayang sang ayah yang begitu besar.
Meskipun Pratama tidak pernah tinggal serumah dengannya, tetapi, pria itu selalu mencurahkan kasih sayangnya yang begitu besar hingga dia dewasa seperti saat ini.
"Papa tidak akan menyesal?" Lauren melirik sekilas pada sang papa.
"Seharusnya sudah dari dulu papa melakukan hal ini, Nak. Dulu, papa memikirkan nasib Raditya dan Monika karena itu papa bertahan. Sekarang, anak-anak papa sudah dewasa. Mereka pasti tahu mana yang terbaik untuk kedua orang tua mereka," jelas Pratama sambil menghela napas panjang.
Bayangan kebersamaanya dengan Mira juga Nadia berseliweran di kepalanya. Begitupun dengan kedua orang tua Mira. Pratama mengingat janjinya pada ayah Mira.
"Maafkan saya karena saya tidak bisa menjaga Mira sampai seumur hidup saya, Pa," ucap Pratama dalam hati.
__ADS_1
***
"Brengsek, kamu, Mas. Bisa-bisanya kamu meninggalkan aku hanya demi anak wanita sialan itu. Seharusnya anak itu ikut mati bersama ibunya. Sialan!" Mira terus memaki. Wanita itu melempar barang apapun yang dilihatnya hingga hancur berkeping-keping.
Raditya dan Monika yang tahu kalau Mira mengamuk setelah kepergian sang papa, memilih membiarkan Mira melampiaskan amarahnya. Mereka berdua saat ini sedang duduk di taman ditemani oleh bibi yang merawat mereka sejak kecil.
"Kalian berdua harus mengawasi Ibu. Saya sangat tahu siapa Ibu Mira. Dia tidak akan tinggal diam. Ibu Mira pasti akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan Pak Pratama dan Non Eren," ucap Bi Rumsih, asisten rumah tangga yang bekerja pada keluarga Pratama semenjak Mira dan Pratama baru menikah.
Bi Rumsih bahkan mengetahui tragedi yang menimpa Nadia.
Raditya dan Monika saling berpandangan.
"Kenapa Bibi bicara seperti itu? Apa mungkin mama tega mencelakai papa dan Kak Eren?"
"Ibu Mira mungkin tidak akan mencelakai Pak Pratama, tapi Non Eren? Non Monik pasti tahu bukan, kalau Ibu sangat membenci Non Eren?"
***
Di kamar Mira, setelah wanita itu puas melempar barang-barang, ia mengambil ponselnya. Mira mencari nama seseorang yang sudah lama tidak dihubunginya.
"Halo, Sayang, sudah lama kau tidak menghubungiku. Kenapa–"
"Aku ada pekerjaan untukmu."
"Selagi pekerjaan itu menghasilkan uang, aku akan menerimanya dengan senang hati." Suara tawa seorang pria di ujung sana terdengar.
"Aku ingin kau melenyapkan seseorang."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....