CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
RUMAH SAKIT


__ADS_3

Mereka bertiga sampai di depan rumah sakit. Beberapa petugas medis berlari menuju mobil mereka dengan mendorong brankar setelah mendengar suara teriakan Lauren yang mengatakan tentang keadaan Raditya.


Dara melangkah bersisian dengan Pratama yang tampak panik melihat sang putra dibawa ke ruang IGD menggunakan brankar.


"Tenang, Pa. Raditya pasti akan baik-baik saja," ucap Dara menenangkan Pratama. Padahal, dalam hatinya, ia juga tidak kalah panik. Apalagi, apa yang terjadi pada Raditya adalah karena dirinya. Raditya menghalangi orang yang akan menembak dirinya.


Raditya sudah masuk ke ruang IGD. Lauren mengajak sang papa duduk di kursi tunggu diikuti oleh Dara. Mereka bertiga kemudian duduk dengan gelisah.


"Ceritakan padaku tentang salah sasaran tadi–"


"Eren. Panggil saja aku Eren," sela Lauren saat mendengar Dara tampak kebingungan menyebutkan namanya.


"Eren, kenapa kamu bisa berpikir kalau Raditya adalah korban dari salah sasaran?" Dara menatap tajam ke arah wanita di hadapannya.


"Aku hanya menebak."


"Menebak? Apa maksudmu dengan menebak?" Dara semakin penasaran.


Pratama kemudian menceritakan tentang kepindahannya ke rumah Lauren. Lelaki itu juga juga menceritakan tentang masa lalunya. Semuanya, termasuk tentang Raditya yang bukan anak kandungnya.


Pratama juga menceritakan tentang semua kejahatan yang pernah dilakukan oleh Mira di masa lalu dan juga ancaman Mira setelah dirinya meninggalkan wanita itu di rumah yang bertahun-tahun mereka tempati bersama.


Dara tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut mantan ayah mertuanya itu. Ia sungguh tidak menyangka kalau Mira benar-benar wanita yang kejam.

__ADS_1


Dara pikir, kejahatan Mira hanya sebatas ucapan dan tingkah lakunya saja. Namun, ternyata wanita itu juga mampu berbuat kejahatan yang menghilangkan nyawa seseorang.


Dara menggeleng pelan sambil mengembuskan napas panjang-panjang. Tidak pernah menyangka kalau wanita yang sering menghina dan merendahkannya saat dirinya masih menjadi istri Raditya ternyata adalah seorang yang tega menghabisi nyawa orang lain demi ambisinya.


"Aku sungguh tidak menyangka kalau ibunya Raditya adalah seseorang yang sangat menyeramkan." Dara menatap Pratama dan Lauren secara bergantian.


"Maafkan papa karena dulu papa tidak bisa mencegah semua kejahatan yang Mira lakukan padamu." Pratama menatap Dara dengan rasa bersalah.


"Papa juga minta maaf sama kamu, Eren, karena sampai sekarang papa belum bisa menjadi papa yang terbaik untuk kamu." Pratama menggenggam erat tangan Lauren. Menyalurkan rasa bersalah di hatinya karena bertahun-tahun membiarkan anak gadisnya hidup sendirian.


Sejak kecil hingga beranjak dewasa Lauren hanya ditemani oleh asisten rumah tangganya.


"Papa sudah berusaha menjadi Papa yang terbaik buat aku, Pa. Aku tidak pernah menyesali apapun. Aku justru berterima kasih sama Papa karena selalu memberikan kasih sayang Papa untukku meskipun kita tidak pernah tinggal bersama." Lauren menatap sang papa dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Lalu, kenapa kamu mengira kalau mereka salah sasaran?" Dara masih belum mengerti.


Tujuan utama mereka adalah mencelakai Lauren. Berarti sudah jelas, mereka pasti akan mencari Lauren. Lalu, kenapa mereka ingin menembak dirinya sementara jelas-jelas dirinya bukanlah Lauren? Tidak mungkin para penjahat itu tidak mengenal target mereka bukan?


Lauren menunjuk ke arah dirinya. "Baju yang kita pakai hari ini sama. Model rambutmu dan bentuk tubuh kita hampir sama," ucap Lauren.


Dara memperhatikan pakaian yang melekat pada tubuh Lauren. Memang benar apa yang dikatakan oleh gadis itu. Gaya rambut mereka juga hampir sama.


"Mereka sudah mengikuti aku dari semenjak aku di mini market. Kejadian penembakan itu terjadi selang hampir sepuluh menit aku masuk ke dalam rumah. Kemungkinan, para penjahat itu mengira kalau kamu adalah aku karena mereka hanya melihatmu dari arah belakang. Benar bukan?" Lauren menatap Dara yang menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Kamu benar. Raditya langsung melindungiku dengan tubuhnya saat dia melihat penjahat itu menodongkan senjatanya," ucap Dara sendu.


Kenapa harus Raditya yang menolongnya? Dara sungguh tidak ingin lagi berurusan dengan lelaki itu. Tetapi, kenapa takdir jutsru kembali mempertemukan mereka?


Suara pintu ruangan terbuka. Pratama, Lauren dan Dara segera mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?" Pratama terlebih dulu mengungkapkan kekhawatirannya.


"Masa kritisnya sudah lewat. Kami sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di punggungnya. Beruntung, lukanya tidak terlalu dalam dan tidak merusak organ tubuh yang lain," jelas dokter bernama Dika. Lelaki dewasa itu tersenyum ramah.


"Sebentar lagi pasien akan segera dibawa ke ruang rawat inap," lanjut Dokter Dika sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga yang terlihat tersenyum lega.


"Syukurlah, Raditya baik-baik saja," ucap Dara dan Lauren bersamaan. Begitupun dengan Pratama yang terlihat menarik napas lega.


Lelaki paruh baya itu sungguh bersyukur karena keadaan Raditya baik-baik saja.


"Aku sudah melaporkan kasus tadi ke kantor polisi. Maafkan aku karena aku sangat panik melihat Raditya terkena tembakan."


"Tidak apa-apa. Biar saja Mira mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Papa sudah tidak peduli meskipun kasus ini akan menyeretnya ke dalam penjara." Pratama mengepalkan kedua tangannya.


"Aku akan selalu mendukung Papa," Dara dan Lauren berucap bersamaan.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1



__ADS_2