CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
KEMARAHAN MIRA


__ADS_3

"Apa-apaan ini? Kenapa seluruh barang yang ada di sini dibawa keluar?" teriak Mira. Wanita itu sungguh sangat terkejut saat melihat ada sekitar tiga mobil boks yang biasa dipakai untuk mengangkut barang-barang belanjaan di toko miliknya berderet di depan rumah Raditya.


Keterkejutannya semakin bertambah saat melihat orang-orang yang sedang sibuk membawa perabotan ke dalam mobil. Bahkan sofa mewah yang biasa wanita itu duduki pun lenyap karena sudah diangkut ke dalam mobil.


Semua orang terdiam mendengar ucapan Mira. Mereka merasa tidak enak karena wanita paruh baya itu berteriak-teriak.


Pratama segera turun ke bawah saat mendengar jeritan istrinya. Lelaki itu menatap Mira dengan pandangan datar. Sudah beberapa waktu ini, Pratama dan Mira selalu perang dingin.


Semenjak Mira mengetahui kalau Pratama menyembunyikan putri dari istri pertamanya, Mira tidak berhenti mencari masalah dengan Pratama. Wanita tidak sadar diri itu marah pada Pratama karena menganggap lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu diam-diam merawat anak dari istri pertamanya yang sudah meninggal.


Mira bahkan tidak sadar kalau apa yang dilakukannya bahkan melebihi apa yang dilakukan oleh Pratama. Lelaki itu jelas akan merawat putrinya yang notabene adalah darah dagingnya. Apalagi, putrinya tidak mempunyai siapapun di dunia ini selain dirinya karena ibu dari anaknya itu sudah meninggal dunia karena perbuatan Mira.


Selama bertahun-tahun Pratama merawat Raditya meskipun dia tahu kalau Raditya bukanlah anak kandungnya. Lalu, kenapa dia harus menelantarkan putrinya sendiri? Apalagi, demi seorang Mira.


Selama ini Pratama menyembunyikan anak dari istri pertamanya itu karena takut kalau Mira akan melakukan hal yang sama terhadap putrinya seperti apa yang sudah Mira lakukan pada Nadia, istri pertamanya.


"Kenapa kalian membereskan barang-barang di rumah ini?" Mira kembali berteriak. Suara teriakannya menggema di ruangan itu. Namun, semua orang yang berada di sana masih tetap bungkam.

__ADS_1


Pratama mendekati Mira. "Tidak bisakah kau tidak berteriak? Ini rumah bukan hutan!" Pratama berucap penuh penekanan.


Mira menatap Pratama dengan pandangan berapi-api. Kekesalannya terhadap Pratama semakin menjadi.


"Kenapa kamu menyuruh orang untuk mengemasi semua barang-barang di sini, Mas? Ini rumah Raditya!" pekik Mira berang.


"Rumah ini memang rumah Raditya. Tapi sepertinya Mama lupa kalau rumah ini sudah menjadi hak milik Dara sesuai dengan perjanjian pra nikah mereka." Pratama menatap sang istri yang semakin terlihat marah.


"Tidak bisa! Rumah ini adalah hasil kerja keras Raditya. Wanita sialan itu tidak bisa seenaknya mengambil rumah ini!" Kedua mata Mira melotot. Merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Dara.


"Kalau kamu tidak terima, kamu bisa ajukan ke pengadilan," jawab Pratama santai. Dirinya malas berdebat dengan Mira. Perempuan itu, entah kapan sadarnya.


Baginya, rumah ini adalah milik Raditya. Persetan dengan Dara dan keputusan pengadilan, yang jelas, rumah ini adalah milik Raditya, putra kesayangannya.


"Yang tidak tahu diri itu kamu, bukan Dara. Selama ini, Dara hanya diam saja diperlakukan tidak adil oleh kamu dan Raditya, Mira. Rumah ini sudah seharusnya menjadi milik Dara."


"Mas! Apa maksud kamu? Raditya yang membeli rumah ini memakai uangnya. Tidak ada kerja keras Dara sedikitpun. Kenapa rumah ini harus menjadi milik wanita sialan itu?" Mira semakin marah mendengar ucapan Pratama yang terus membela Dara.

__ADS_1


"Karena di rumah ini ada bagian yang seharusnya menjadi nafkah untuk Dara, Ma. Mama jangan lupa, dari awal pernikahanku dengan Dara, sampai aku naik jabatan dan mempunyai gaji besar, aku bahkan tidak pernah memberikan nafkah untuk Dara dengan layak. Semua uang gajiku sudah habis aku berikan pada Mama dan Kinara. Sementara Dara, uang yang aku berikan bahkan tidak cukup untuk membeli keperluan dapur." Suara Raditya terdengar di ujung tangga.


Lelaki itu sangat kesal karena sang mama masih saja terus menyalahkan Dara. Kenapa wanita yang pernah melahirkannya itu sama sekali tidak mempunyai rasa penyesalan setelah kelakuannya yang tidak pernah adil pada Dara?


"Mama tidak peduli, Raditya. Kamu tidak boleh memberikan rumah ini pada wanita sialan itu!"


"Mama! Berhenti menyebut Dara dengan wanita sialan!" teriak Raditya keras membuat Mira terkejut. Raditya tidak pernah berteriak keras di hadapannya. Tetapi, hari ini anak itu membentaknya.


"Raditya, kamu–"


"Maafkan aku, Ma. Aku tidak bermaksud membentak Mama. Aku mohon, sekali ini saja Mama dengerin aku, Ma." Raditya menatap Mira dengan wajah memohon.


"Selama ini, aku selalu menuruti semua kata-kata Mama, menuruti semua keinginan Mama meskipun terkadang keinginan Mama itu salah dan tidak masuk akal. Tapi, karena baktiku pada Mama, aku tidak pernah protes. Aku bahkan tidak pernah protes saat Mama melakukan hal yang tidak baik pada Dara."


"Sekarang, aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku pada Dara, Ma. Aku bersalah pada Dara karena telah mengkhianatinya. Rumah ini bahkan tidak sepadan dengan rasa sakit yang sudah aku ukir dalam hati Dara. Aku menyesal karena telah menyakiti hati perempuan sebaik dia. Jadi, aku mohon, berhentilah memakinya dan berhentilah mengganggu Dara," ucap Raditya.


"Jangan halangi aku untuk memberikan rumah ini pada Dara karena pengadilan juga sudah memutuskan kalau rumah ini menjadi milik Dara."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....



__ADS_2