
Raditya memperbaiki penampilannya di depan cermin di sebuah toilet yang berada dalam kawasan hotel.
Setelah menerima telepon dari Pratama, Raditya menangis di dalam mobil. Lelaki itu menumpahkan rasa sedih dan sakit hatinya. Saat ini, ia benar-benar sudah kehilangan Dara.
Raditya sungguh sangat menyesal karena dulu pernah menyia-nyiakan istri sebaik Dara. Kini, hatinya hancur berkeping-keping mendapati kenyataan kalau Dara sudah menjadi istri orang lain.
"Apa dulu hatimu juga sesakit ini saat melihat aku menikah dengan Kinara? Apa kamu dulu juga sehancur ini saat melihat aku bersama Kinara?" gumam Raditya dengan rasa sakit di hatinya.
Jika benar Dara juga merasakan rasa sakit seperti yang saat ini ia rasakan, maka memang pantas jika Dara meninggalkannya. Raditya saja hampir saja berhenti bernapas saat menyadari kalau dirinya benar-benar sudah kehilangan Dara.
"Kau memang pantas mendapatkannya, Raditya. Jika saat itu kamu berada di posisi Dara, kamu juga pasti akan pergi tanpa menoleh lagi." Raditya kembali berucap dalam hati. Menyesali kebodohannya di masa lalu.
Dara bahkan memergokinya bercinta dengan Kinara. Apa kabar Raditya seandainya dia yang di posisi Dara saat itu?
Setelah puas dengan penampilannya, Raditya keluar dari toilet kemudian menemui Pratama dan Monika di acara resepsi pernikahan Dara.
Resepsi pernikahan dengan dekorasi super mewah itu berjalan dengan lancar. Dara terlihat begitu cantik dengan gaun pengantin yang melekat pas pada tubuhnya. Begitupun dengan Davin yang terlihat sangat tampan dengan tuxedonya. Sungguh! Mereka berdua adalah pasangan yang sangat sempurna.
Raditya mengikuti langkah Pratama menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat pada sepasang pengantin yang terlihat sangat bahagia.
Pratama memeluk Dara. Memberikan selamat pada wanita yang dulu pernah menjadi menantunya selama empat tahun.
"Selamat, Nak. Semoga kamu bahagia," ucap Pratama dengan tulus.
"Terima kasih, Pa." Dara tersenyum menatap Pratama. Mantan ayah mertua yang begitu baik padanya.
Pratama beralih pada Davin. "Selamat, Davin. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian berdua. Tolong jaga Dara dengan baik dan bahagiakan dia, Davin."
"Tentu saja. Om tenang saja, aku akan menjaga Dara dan membahagiakannya." Davin memeluk Pratama.
Raditya menatap wajah cantik Dara. Hatinya berdenyut sakit melihat senyuman Dara.
"Selamat ya, semoga kamu bahagia. Maafkan aku karena dulu aku gagal menjadi suami yang baik untukmu. Maafkan aku karena dulu aku tidak pernah memberikan kebahagiaan padamu," ucap Raditya lirih.
"Semoga kamu bahagia."
"Terima kasih, Radit. Aku juga berdoa, semoga kamu bahagia." Dara tersenyum sambil melepaskan pegangan tangan Raditya yang menggenggamnya erat.
Pandangan Raditya beralih pada Davin. Pria itu mengulurkan tangannya pada Davin.
__ADS_1
"Tolong jaga dia, dan jangan pernah lakukan kesalahan yang sama seperti kesalahan yang telah aku lakukan padanya."
"Aku bukan dirimu, Raditya. Aku mencintai Dara bahkan sebelum Dara menikah denganmu. Dulu, aku merelakan dia untukmu karena aku pikir kamu bisa membahagiakannya. Tapi, ternyata aku salah. Sekarang, jangan harap kamu bisa merebut Dara lagi. Aku tahu kamu masih mencintai istriku."
Davin tersenyum ke arah Raditya, membuat Raditya langsung terdiam.
"Semoga kamu bahagia." Raditya berlalu meninggalkan pelaminan. Dadanya bergemuruh. Rasa sesak menghimpit membuat Raditya kesulitan bernapas.
Raditya pergi meninggalkan acara resepsi setelah berpamitan pada Pratama yang memilih berbincang sebentar dengan beberapa tamu yang kebetulan dikenalnya dengan ditemani yang menggamit lengannya. Malam itu, Monika juga terlihat sangat cantik.
Dara dan Davin tersenyum bahagia. Mereka berdua sangat bahagia begitupun dengan keluarga mereka.
"Terima kasih sudah mau menjadi pendamping hidupku."
"Aku juga berterima kasih karena kamu bertahan menungguku." Dara menatap Davin dengan penuh cinta. Begitupun dengan Davin.
"Aku mencintaimu, Sweetie."
"Aku juga mencintaimu, Davin."
****
Sesampainya di rumah, Pratama tidak mendapati Raditya yang sudah berpamitan pulang dari semenjak ia dan Monika masih di hotel.
Pratama yang khawatir karena Raditya belum juga pulang, segera menelepon Galang karena Raditya sudah berjanji akan menginap di rumahnya setelah pulang dari acara pernikahannya Dara.
Kekhawatiran Pratama semakin bertambah saat Galang memberitahukan padanya jika Raditya juga tidak pulang ke rumahnya.
"Keadaan kakakmu sedang tidak baik-baik saja, Monik. Seharusnya, papa tidak membiarkan kakakmu pulang lebih dulu." Pratama memijat keningnya yang terasa berdenyut.
"Pa, Kak Raditya udah dewasa, aku yakin, dia pasti baik-baik saja." Monika mencoba menenangkan sang papa meskipun dirinya juga merasa khawatir.
"Aku akan melihatnya di apartemen. Siapa tahu dia berada di sana." Lauren yang baru saja terbangun dari tidurnya mendekati Pratama dan Monika.
"Tapi bukannya kamu sedang tidak enak badan?"
"Aku baik-baik saja, Pa. Keadaanku membaik setelah minum obat dan istirahat tadi."
"Tapi ini sudah malam, Nak."
__ADS_1
"Tenang, Pa. Tidak akan terjadi apa-apa. Lagipula, apartemen Raditya tidak jauh dari sini." Lauren tetap kekeuh.
"Baiklah! Hati-hati di jalan, Sayang."
"Oke, Pa."
Pratama dan Monika mengantarkan Lauren ke depan. Mereka berdua baru kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dikendarai Lauren menghilang dari pandangan.
Tidak sampai dua puluh menit, Lauren sampai di depan pintu apartemen. Setelah beberapa kali memencet bel tapi tidak ada yang membuka pintu, Lauren akhirnya memencet sandi apartemen.
Semenjak bekerja di kantor Galang, Raditya membeli sebuah apartemen. Lauren seringkali ke sana jika Raditya menyuruhnya memanggil tukang bersih-bersih untuk membersihkan apartemen itu.
Raditya juga memberitahukan sandi apartemennya untuk memudahkan Lauren keluar masuk.
Lauren masuk ke dalam. Ia memeriksa seluruh ruangan dan tidak mendapati Raditya. Laki-laki itu sepertinya juga tidak pulang ke sini. Lauren mencoba menghubungi nomor ponsel Raditya tetapi, ponselnya tidak aktif.
Merasa lelah, Lauren kemudian tertidur di dalam kamar Raditya.
****
Raditya pulang ke apartemen dalam keadaan mabuk. Pria itu pergi ke klub malam setelah pulang dari acara resepsi pernikahan mantan istrinya. Raditya merasa patah hati karena Dara menikah dengan pria lain.
Raditya membuka pintu apartemen dengan susah payah. Setelah berkali-kali limbung, akhirnya dia berhasil menekan sandi apartemennya.
Mulut Raditya terus meracau menyebut nama Dara. Pria itu dengan susah payah berjalan menuju kamarnya.
"Sayang, kamu pulang? Kamu ada di sini?" Wajah Raditya berbinar mendapati seorang perempuan yang saat ini tertidur pulas di ranjangnya.
Dengan penuh semangat Raditya langsung mencium dan mencumbu wanita yang saat ini sudah berada dalam kungkungannya.
"Aku merindukanmu, Dara. Sangat merindukanmu." Raditya mencium wanita yang berada di bawah tubuhnya itu dengan penuh gairah.
Meskipun wanita itu terus meronta, Raditya terus memaksanya. Raditya bahkan tidak memedulikan teriakan dan tangisan wanita itu.
Pengaruh alkohol membuat pikiran Raditya dipenuhi oleh Dara. Raditya bahkan tidak sadar telah menghancurkan hidup seseorang karena mengira orang itu adalah Dara.
"Dara, aku mencintaimu." Tubuh Raditya ambruk di samping tubuh perempuan itu dengan napas memburu.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu." Radit mendekap erat tubuh wanita yang kini menangis perih dalam pelukannya.
__ADS_1
TAMAT