CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
WANITA MURAHAN


__ADS_3

Raditya menghisap rokok yang terselip di jarinya kemudian mengeluarkan asap rokok itu dari mulutnya. Pria itu menghela napas panjang. Merenungi nasibnya yang kini tinggal sendirian.


Lelaki yang biasanya hidup dengan dua istri yang cantik dan berlimpah kebahagiaan juga kemewahan itu kini duduk sendirian. Menyesali perbuatan yang menyebabkan dirinya telah kehilangan semuanya.


Lelaki itu meraih ponselnya yang berdering nyaring. Sebuah nama terlihat pada layar ponselnya. Raditya dengan segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo, Bro, lu nggak pergi malam ini?" Terdengar suara Dean dan suara musik yang terdengar keras di ujung sana. Dean bahkan setengah berteriak karena alunan musik itu menelan suaranya.


"Gue males jalan malam ini. Kayaknya gue nggak bakal dateng deh!"


"Serius lu? Hari ini si Leon mau bikin perayaan mengakhiri masa lajang, dua hari lagi dia married. Lu beneran nggak mau dateng?"


Dean dan Leon adalah teman satu kantor saat Raditya masih bekerja di kantor Dara. Setiap hari libur, mereka mengajak Raditya ke klub malam. Dulunya Raditya sering menolak. Namun, setelah Raditya berpisah dengan Dara dan Kinara, pria itu akhirnya mau diajak pergi.


Apalagi, saat itu Raditya sedang kecewa dan patah hati. Pria itu menyetujui saat kedua temannya itu mengajaknya minum-minum sampai mabuk di sana. Sejak saat itu, mereka berteman baik. Raditya tenggelam dalam dunia malam bersama Sean dan Leon. Meluapkan kekecewaan dan sakit hatinya pada minuman beralkohol.


"Gue tunggu lu di sini, Dit. Buruan, nggak pake lama!" Belum sempat Raditya menjawab, Dean sudah mematikan panggilan ponselnya.


Raditya berdecak kesal. Baru beberapa hari yang lalu, ia berjanji pada sang papa dan juga dirinya sendiri untuk tidak lagi berbuat sesuatu yang merugikannya, tetapi, kedua temannya itu malah menyuruhnya datang ke klub malam.


Raditya mengembuskan napas panjang. Menimbang-nimbang apakah dirinya akan pergi atau tidak.


"Nggak enak sama Leon kalau lu sampai nggak dateng, Bro!" Sebuah pesan dari nomor Dean terlihat pada ponselnya membuat Raditya semakin dilema.


Lelaki itu kemudian memutuskan untuk pergi ke tempat itu lagi. Tempat yang ingin dia hindari. Biar bagaimanapun, masa depannya masih panjang. Papanya benar, ia harus kembali menyusun tujuan hidupnya.

__ADS_1


Seandainya bisa, Raditya sungguh ingin sekali kembali pada Dara. Apalagi, saat Dean dan Leon menceritakan seperti apa Dara sekarang. Wanita itu kini semakin cantik dan menarik. Banyak sekali orang yang mengaguminya dan memujanya.


Hampir seluruh pegawai pria di kantor begitu mengagumi kecantikan mantan istrinya itu. Semua ucapan Leon dan Dean membuat hati Raditya semakin sakit karena penyesalan. Menyesali kebodohannya yang tega membuang berlian seperti Dara hanya demi wanita murahan seperti Kinara.


"Kinara bahkan tidak sepadan dengan Dara, tapi kenapa dulu aku begitu tergila-gila padanya?" Raditya mencibir dirinya sendiri.


Raditya meraih jaket di dalam lemari. Pria itu menatap dirinya di depan cermin. Wajahnya memang tampan dan mempunyai daya tarik yang membuat lawan jenisnya merasa terpesona.


Di klub malam yang biasa dikunjunginya, beberapa gadis juga sering menggodanya. Namun, Raditya tidak tertarik sama sekali. Bagi Raditya, cukup hanya dengan Dara dan Kinara saja dia mengenal wanita. Kedua wanita itu sudah membuatnya kecewa, dia tidak ingin lagi berhubungan dengan wanita lain lagi.


"Seharusnya aku sadar diri saat aku dicintai olehmu, Dara. Seharusnya aku bisa menahan diri saat Kinara datang menggodaku." Lagi-lagi rasa penyesalan menggerogoti hatinya. Dadanya terasa sesak. Hatinya sakit bagai ditusuk ribuan jarum.


Raditya mengembuskan napas panjang. Pria itu meraih kunci mobil di atas nakas kemudian keluar dari kamar. Lelaki itu pergi menuju ke klub malam di mana dua sahabatnya itu kini sedang menunggu.


***


Raditya tersenyum saat melihat lambaian tangan Dean dan Leon tidak jauh dari hadapannya. Mereka berdua sedang menikmati minumannya di meja Bar.


Raditya dan kedua temannya memang selalu datang ke tempat itu hanya untuk minum. Mereka tidak pernah bermain perempuan. Dean dan Leon termasuk pria-pria setia.


Mereka tidak suka bermain dengan wanita lain. Mereka sangat menjaga kesetiaan pada pasangan mereka. Tidak seperti masa lalu Raditya yang tergoda pada mantan pacar hingga mengkhianati istrinya secara sadar.


"Seharusnya lu tobat karena sebentar lagi lu mau nikah. Bukan malah ngajak minum." Raditya berdecak melihat Leon yang sedang menyesap minumannya.


"Abis nikah gue tobat, Dit. Sekarang nikmatin dulu sebelum ijab kabul." Leon tertawa kecil. Pria itu memesan minuman yang biasa Raditya minum.

__ADS_1


"Gue nggak mau mabuk malam ini, Leon."


"Sedikit doang. Buat ngerayain terakhir masa lajang gue." Leon menuang minuman beralkohol itu ke dalam gelas kemudian memberikannya pada Raditya.


Raditya terpaksa menerimanya. Mereka bertiga berbincang-bincang sambil sesekali tertawa.


"Gue sebenernya pengen cerita soal Dara. Tapi, takut bikin lu sedih," ledek Leon membuat Raditya berdecak kesal.


"Harusnya lu jangan cerita juga. Makin inget gue sama dia." Raditya menatap orang-orang yang sedang asyik menari sambil sesekali menikmati minumannya.


Raditya menggeleng pelan saat dirinya mengenali seseorang yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini.


Wanita itu duduk di pangkuan seorang pria. Bibir mereka saling bertautan. Mereka berdua bercumbu tanpa rasa malu. Sang wanita bahkan dengan begitu agresif membalas cumbuan lelaki itu.


"Dasar wanita murahan!" maki Raditya. Rahangnya mengeras melihat wanita yang pernah menjadi istri keduanya itu tanpa rasa malu bercumbu di tempat umum.


"Siapa yang murahan, Dit?" Leon dan Dean merasa penasaran. Pasalnya Raditya itu tidak pernah berkomentar apapun saat melihat pengunjung lain.


Raditya menunjuk dengan dagunya. Kedua sahabatnya itu menatap ke arah yang ditunjukkan oleh Raditya. Kedua mata Leon dan Dean membola. Mereka berdua tidak percaya melihat wanita cantik yang kini sedang duduk di pangkuan seorang pria. Posisi sang wanita yang kini duduk membelakangi sang lelaki membuat wajah wanita itu terlihat jelas. Apalagi, saat lampu warna-warni itu mengarah padanya.


"Dia, Kinara? Istri keduamu?" tanya Dean Leon bersamaan. Mereka sungguh terkejut melihat mantan istri sahabatnya sedang asyik bercumbu tidak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Mantan, bukan istri!"


"Gila, Dit! Ternyata Kinara itu tidak lebih dari wanita murahan! Sia-sia banget lu mengkhianati Bu Dara demi wanita murahan kaya dia."

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2