CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
MENGUSIR RADITYA


__ADS_3

Dara menatap sinis ke arah pria di hadapannya. Laki-laki di hadapannya itu terlihat sangat frustasi karena sedari tadi Dara mengabaikannya.


"Sayang, aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku janji, aku tidak akan mengulangi hal yang sama. Aku akan menceraikan Kinara." Raditya menatap Dara dengan penuh permohonan.


Laki-laki itu benar-benar kalut dan ketakutan. Bagaimana tidak? Semalam dirinya patah hati karena perempuan yang selama ini dicintainya mengkhianatinya.


Raditya mengunci kamar agar dirinya tidak bertemu dengan Kinara yang terus menggedor pintu kamar karena ingin bertemu dengannya dan meminta maaf atas perbuatannya.


Lalu, pagi harinya, saat Raditya baru saja turun dari kamar, asisten rumah tangganya memberikan sebuah surat. Surat gugatan cerai dari pengadilan.


Raditya benar-benar syok saat membuka surat itu. Tidak menyangka jika Dara ternyata benar-benar serius ingin bercerai dengannya.


Pagi ini, Raditya baru menyadari kalau dirinya benar-benar takut kehilangan Dara. Istri yang sudah ia bohongi selama bertahun-tahun.


Laki-laki itu sungguh menyesal karena telah mengkhianati perempuan baik seperti Dara hanya demi bersama perempuan murahan seperti Kinara.


Dirinya telah membuang berlian hanya dengan batu kerikil yang berserak di jalanan. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Itulah gambaran perasaan Raditya saat ini.


"Sayang–"

__ADS_1


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" teriak Dara kesal.


"Dasar laki-laki tidak tahu diri! Mau apalagi dia ke sini?" kesal Dara dalam hati. Ia sungguh muak melihat wajah tampan Raditya.


Bayangan pria itu bercinta dengan perempuan lain saat di hotel membuat Dara merasa sakit hati setiap kali melihat Raditya. Rasa sakit atas pengkhianatan yang dilakukan oleh pria itu jelas tidak akan pernah Dara lupakan seumur hidup.


"Aku tahu aku salah, tapi aku benar-benar tidak ingin bercerai denganmu, Dara. Aku mencintaimu. Maafkan aku karena aku sudah mengkhianatimu. Tapi aku mohon, aku benar-benar tidak ingin berpisah denganmu." Raditya kembali memohon pada wanita yang sudah empat tahun menjadi istrinya itu.


Laki-laki itu bahkan kali ini berlutut di depan Dara. Memohon ampun karena telah mengkhianati cinta tulus istrinya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali lagi padamu. Meskipun kamu berlutut dan bersujud di kakiku pun aku tetap tidak akan pernah kembali padamu, Brengsek!"


"Sayang–"


"Dara." Raditya sungguh terkejut melihat sikap Dara. Beberapa tahun hidup bersama dengan perempuan itu, baru kali ini Raditya melihat sisi yang berbeda dari Dara.


Dara yang lemah lembut dan bertutur kata sopan kini berubah menjadi Dara yang tidak ia kenal. Perempuan yang selalu menurut dan begitu patuh padanya itu telah berubah menjadi orang lain.


"Aku tidak ingin berpisah denganmu, Dara. Apapun yang terjadi, aku tidak ingin bercerai denganmu!" teriak Raditya putus asa.

__ADS_1


"Tidak! aku tidak boleh kehilangan Dara. Kalau dia sampai pergi, hidup aku pasti akan hancur." Raditya berucap dalam hati.


"Keluar dari ruanganku sekarang!" teriak Dara. Ia sungguh muak melihat pria yang selama ini dicintainya itu.


Seandainya waktu bisa diputar, Dara pasti tidak akan memilih jatuh cinta pada pria seperti Raditya. Dara mencintainya.


"Dara–"


"Pergilah! Atau mau aku panggil petugas keamanan untuk mengusirmu dari sini?"


"Dara ...." Raditya merasa kaget dengan ucapan Dara. Kedua matanya bahkan membola saking terkejutnya.


"Kamu mengusirku?" Raditya yang masih berlutut di hadapan Dara tampak terkejut.


"Kenapa? Apa kamu terkejut?" Dara mencibir lelaki di hadapannya.


"Dengar, Raditya Pratama. Aku tidak peduli meskipun kau bersikeras, yang jelas, sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali padamu! Camkan itu baik-baik, Raditya!


"Dara ...."

__ADS_1


BERSAMBUNG


"


__ADS_2