CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
RUMAH SAKIT


__ADS_3

Raditya baru saja ingin bangkit dan mendekati Dara dan Davin yang sedang berpelukan mesra. Akan tetapi, suara dering ponselnya membuat Raditya mengurungkan niatnya.


Raditya melihat nama yang terlihat pada layar ponselnya.


"Halo, Pa."


"Raditya, kamu di mana?" Suara Pratama terdengar sangat khawatir.


"Aku sedang makan di restoran, Pa. Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Mendengar nada cemas dalam ucapan Pratama, membuat Raditya sedikit panik.


"Papa kamu, Nak."


"Papa?"


"Iya, papa kamu, Galang, masuk rumah sakit. Dia kecelakaan."


"Apa?" Raditya sangat terkejut mendengar ucapan Pratama.


"Tidak mungkin, Pa. Dia baru saja meneleponku. Dia bilang, dia sudah minta maaf sama papa."


"Ya, tadi Galang memang baik-baik saja. Dia baru saja pulang dari rumah papa. Tapi saat dalam perjalanan pulang, mobilnya mengalami kecelakaan."


"Ya, Tuhan ...."


Raditya menggusar rambutnya. Ingatannya kembali pada saat Galang meneleponnya beberapa saat yang lalu.


"Papa tahu, kamu marah dan kecewa sama Galang. Tapi, biar bagaimanapun, Galang adalah papamu. Beri dia kesempatan, Raditya. Dia sangat ingin bertemu denganmu."


"Aku akan ke sana, Pa. Papa kasih tahu alamat rumahnya." Raditya menutup panggilan teleponnya secara sepihak.

__ADS_1


Lelaki itu kembali menatap Dara dan Davin yang tampak bahagia. Rasa sakit menghantam hatinya.


"Kami bilang, dia itu adalah sahabatmu bukan? Tapi, kenapa kalian terlihat begitu mesra seperti sepasang kekasih?" batin Raditya.


Lamunannya tersadar saat seorang pelayan menghampirinya kemudian menyerahkan bon pembayaran.


Raditya kemudian dengan tergesa meninggalkan restoran setelah membayar.


Raditya mengurungkan niatnya untuk mendekati mantan istrinya di sana. Saat ini, pikirannya hanya tertuju pada Galang. Lelaki paruh baya yang masih terlihat sangat gagah yang mengaku sebagai ayah biologisnya.


Kenapa Raditya tiba-tiba merasa khawatir? Padahal, saat bertemu dengan Galang di depan rumahnya ia merasa sangat kesal pada pria itu.


Raditya mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit yang disebutkan Pratama melalui pesan. Pikirannya semakin kacau mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Galang.


Bukan hanya pikirannya. Hatinya juga merasa hancur melihat kemesraan Dara dan Davin.


Raditya menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai ke rumah sakit.


Sementara itu, di rumah sakit, Pratama dan Lauren baru saja sampai. Mereka mencari tahu pada resepsionis tentang pasien yang baru saja mengalami kecelakaan mobil beberapa saat yang lalu.


Petugas mengatakan kalau Galang masih di ruang IGD dan sedang menjalani tindakan pemeriksaan dari dokter.


Pratama dan Lauren segera bergegas menuju ruang IGD.


"Pa, apa tidak ada pihak dari keluarga Om Galang yang bisa dihubungi?" Lauren menatap Pratama. Lelaki paruh baya itu menggeleng.


"Kamu lupa, kalau Galang mengatakan kalau dirinya tidak punya keluarga lain, kecuali anak kecil yang katanya adalah anaknya, hasil hubungan gelap dengan istri orang."


Lauren menghela napas panjang. Gadis itu mengingat-ingat semua ucapan Galang beberapa waktu lalu saat pria itu datang ke rumahnya setelah Raditya pergi meninggalkannya di depan pintu gerbang.

__ADS_1


Galang memang mengatakan kalau dia hidup sendiri. Lelaki itu mengatakan kalau dia tidak mempercayai pernikahan. Apalagi, Galang sudah merasakan beberapa kali rasanya dikhianati oleh perempuan.


Galang bahkan beberapa kali terlibat hubungan dengan istri orang karena dia tidak tahu kalau wanita yang berhubungan dengannya itu sudah menikah.


Hanya saja, Galang mengatakan kalau dia mempunyai seorang putra berusia lima tahun yang saat ini tinggal dengannya. Seorang wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya meninggalkan anak itu di rumahnya dan menyuruh Galang untuk menjaga bocah kecil itu.


Galang bahkan sampai melakukan tes DNA untuk membenarkan jika bocah berumur empat tahun itu benar-benar putranya. Wanita yang memberikan putranya itu kemudian pergi setelah meminta uang sebagai ganti rugi karena selama ini dia yang merawat putranya.


Sungguh! Benar-benar seorang ibu yang tidak punya hati. Dia pergi meninggalkan putranya pada ayah biologisnya kemudian pergi dengan pacar barunya.


"Papa, apa Papa yakin kalau Om Galang adalah ayah dari Raditya?" Lauren menatap sang papa yang terlihat khawatir.


"Di masa lalu, papa sering sekali melihat Galang dan Mira keluar dari hotel."


"Apa?" Kedua mata Lauren membola.


"Papa bahkan mendengar sendiri saat Mira dan Galang membicarakan anak yang berada dalam kandungannya. Galang, pria bodoh yang mengorbankan cintanya hanya demi melihat kebahagiaan Mira. Dia menyetujui ide gila Mira untuk menjebak papa menggunakan anak itu."


Lauren menggelengkan kepala mendengar ucapan sang papa. Semenderita itu papanya, tetapi, kenapa dia masih bertahan dengan Mira selama bertahun-tahun?


"Saat itu papa merasa tak berdaya, karena itu papa tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalani takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk papa."


"Papa ...."


Lauren memeluk lelaki yang sangat disayanginya itu. Dalam hati, ia berjanji, akan membahagiakan sang papa di masa mendatang. Papanya telah mengalami tekanan batin dari semenjak lama. Kini, dia tidak akan pernah membiarkan orang-orang menindas papanya lagi.


"Aku sayang banget sama, Papa."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2