
Dara memasuki rumah mewah yang terlihat sepi tanpa penghuni. Perempuan cantik itu memindai ruangan yang masih penuh dengan perabotan.
Dara tersenyum sinis saat mengetahui kalau Raditya ternyata masih belum bersiap untuk pergi dari rumah itu. Padahal, hari ini sudah lebih dari sebulan dirinya bercerai dengan Raditya.
"Sepertinya dia ingin bermain-main denganku," gumam Dara.
Saat Dara sedang asyik memindai ruangan di rumah mewah itu, asisten rumah tangga yang beberapa menit lalu membukakan pintu untuk Dara langsung menuju ke taman, di mana Raditya dan Pratama berada.
Asisten rumah tangga bernama Nani itu mengatakan pada Raditya kalau di luar ada seorang wanita yang menunggunya.
Raditya dan Pratama yang saling berpandangan. Sama-sama menebak siapa yang datang ke rumah besar itu. Namun, Raditya dan Pratama sama-sama mengangkat bahu tanda tidak tahu siapa yang datang.
Seandainya yang datang adalah Mira dan Monika, asisten rumah tangganya pasti sudah tahu dan mengenal mereka berdua.
Raditya berjalan beriringan dengan Pratama. Mereka berdua menuju ruang depan. Merasa penasaran dengan wanita yang disebutkan oleh Nani.
Saat Raditya sampai di ruang depan, laki-laki itu tersenyum saat melihat siapa yang datang.
"Sayang, kamu datang ke sini?" Raditya mengulas senyum pada wajahnya. Lelaki itu dengan penuh semangat mendekati Dara.
"Stop! Jangan mendekat!" teriak Dara membuat langkah lelaki itu terhenti. Sementara itu, Pratama tidak beranjak dari tempatnya.
Lelaki paruh baya itu tidak ingin ikut campur dengan masalah Raditya dan Dara. Lelaki itu lebih memilih duduk di sofa.
__ADS_1
Dara menatap Raditya yang terlihat sangat berbeda dengan terakhir kali dirinya bertemu dengan pria saat di pengadilan.
Pria yang biasanya terlihat rapi itu kini terlihat berantakan meskipun Dara akui, Raditya tetap terlihat tampan.
Dara menatap ke arah Pratama. Mendekati lelaki paruh baya itu dan menyalaminya. Kebiasaan Dara saat masih menjadi menantu Pratama.
"Apa kabar, Pa?" Dara tersenyum menatap wajah Pratama yang terlihat sedih.
"Papa baik-baik saja, Nak. Papa hanya sedih karena papa kehilangan menantu terbaik papa." Pratama mengusap rambut Dara. Menatap wanita yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri itu dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku, Pa. Maaf karena aku tidak bisa mewujudkan keinginan papa untuk terus bersamanya."
"Tidak apa-apa, Sayang. Papa mengerti. Papa sangat senang karena kamu mengambil keputusan yang tepat untuk meninggalkannya putra bodoh papa."
Lelaki itu tidak pernah menyangka kalau dirinya akan secepat itu kehilangan menantu yang sangat disayanginya.
"Terima kasih, Pa." Dara tersenyum pada lelaki paruh baya itu. Hanya Pratama yang menganggapnya baik saat menjadi istri Raditya.
Pandangan Dara beralih pada Raditya. Dara menatap pria yang kini sedang menatapnya dengan wajah memelas. Wajah yang tidak pernah Raditya perlihatkan pada Dara selama menjadi suaminya.
"Sayang–"
"Diam, Raditya!" Dara berteriak. Ia sungguh muak mendengar kalimat 'sayang'yang keluar dari mulut pria itu. Kalimat yang sama-sama pria itu pakai saat memanggil wanita simpanannya.
__ADS_1
"Aku datang ke sini hanya untuk memastikan kalau kamu sudah mengosongkan rumah ini. Namun, tidak disangka kamu justru dengan tidak tahu malu masih tinggal di rumah ini." Dara bersidekap menatap Raditya dengan pandangan meremehkan.
Sementara Raditya gelagapan karena tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang dikatakan oleh Dara memang benar. Seharusnya dirinya sudah meninggalkan rumah itu dari semenjak ia resmi bercerai dengan Dara.
Namun, keinginannya untuk bertemu dengan Dara tidak bisa dibendung, hingga akhirnya Raditya memilih menunggu Dara datang. Pria itu yakin, kalau mantan istrinya itu pasti akan datang saat mengetahui dirinya masih tinggal di rumah mewah itu.
"A–aku–"
"Apa kamu sudah lupa dengan tenggang waktu yang aku berikan padamu untuk mengosongkan rumah ini?" Dara tidak sedikitpun memberikan kesempatan pada Raditya untuk bicara.
"Sayang–"
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu Raditya! Aku bukan wanita simpananmu!" teriak Dara lagi. Ia benar-benar muak.
Dulu, dengan bodohnya dia merasa sangat bahagia saat Raditya seringkali merayunya dengan panggilan itu. Rasanya, dunia hanya milik berdua saat laki-laki itu begitu perhatian dengan ucapan-ucapan sayang dan kata cinta yang selalu keluar dari bibir lelaki itu.
"Dulu, aku benar-benar bodoh karena terlalu mencintai kamu, Radit. Sampai-sampai, aku menganggap kalau semua yang kamu ucapkan itu tulus untukku. Aku benar-benar bodoh karena pernah memilihmu menjadi suamiku!"
"Sayang–"
"Kemasi semua barang-barangmu dan pergi secepatnya dari rumah ini!"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1