
Setelah meluapkan kemarahannya pada sang mama, Raditya keluar dari rumahnya. Lelaki itu menelepon papanya agar berhati-hati karena Mira tetap nekad tidak mau menghentikan kegilaannya.
Wanita itu tetap pada rencana utamanya, yaitu mencelakai Lauren. Khawatir dengan keadaan kakak ipar dan papanya, Raditya memutuskan mendatangi rumah Lauren setelah sebelumnya gadis itu memberikan alamat pada Raditya.
Lelaki itu juga sudah mengabari Lauren untuk tidak keluar rumah dan terus waspada karena orang suruhan mamanya pasti sudah berkeliaran untuk mencari Lauren.
"Eren, kamu harus berhati-hati. Jangan sembarangan membuka pintu. Tolong jaga papa sampai aku datang," ucap Raditya sebelum ia mengakhiri panggilan teleponnya.
Raditya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dirinya tidak ingin orang suruhan mamanya berhasil menemukan persembunyian papa dan kakaknya. Lelaki itu sangat cemas memikirkan keselamatan kedua orang itu.
"Semoga tidak terjadi apa-apa pada papa dan Eren."
Eren, gadis cantik yang merupakan kakak iparnya. Raditya bahkan belum sempat meminta maaf padanya karena telah mengambil kasih sayang papanya dari kecil.
Raditya tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Lauren saat kecil. Gadis itu kehilangan kasih sayang seorang ibu dan ayahnya sekaligus.
Mengingat itu, rasa bersalah memenuhi hatinya. Dirinya yang bukan anak kandung Pratama bisa merasakan kasih sayang pria itu dari kecil. Pratama bahkan menganggapnya sebagai putra kandung tanpa memikirkan perasaannya sendiri yang hancur akibat ulah Mira, ibunya.
***
Dara masuk ke dalam mobil. Wanita cantik itu baru saja keluar dari kantor. Biasanya, Davin sudah ada di depan ruangannya untuk menjemput Dara. Namun, hari ini pria itu tidak datang. Pria itu sedang ada perjalanan bisnis di luar negeri selama seminggu.
__ADS_1
Hari ini, Dara berencana menemui Pratama. Selama ini, sesekali memang bertemu dengan pria paruh baya yang pernah menjadi ayah mertuanya itu. Dara ingin bertemu dengan Lauren, gadis cantik yang ternyata adalah putri Pratama dari istri pertamanya.
Beberapa hari yang lalu, wanita itu melamar pekerjaan di perusahaan Dara. Saat melihat gadis itu untuk pertama kali, Dara sudah merasakan kalau gadis itu mempunyai kemampuan. Dara ingin menjadikan Lauren sebagai asisten pribadinya jika gadis itu mau.
Lauren melamar pekerjaan di kantor Dara atas rekomendasi dari Pratama. Dia sangat tergiur dengan gajinya. Gaji pegawai di perusahaan Dara lebih besar dibanding tempat Lauren bekerja sekarang.
Dara melajukan mobilnya ke arah alamat yang diberitahukan oleh Pratama saat bertemu dengan pria itu kemarin. Pratama sengaja menemui Dara untuk memberitahukan jika putrinya melamar pekerjaan di perusahaan wanita itu.
Hubungan mereka memang masih baik meskipun saat ini mereka sudah bukan mertua dan menantu lagi. Dara bahkan bekerja sama dengan Pratama. Wanita itu menggunakan beberapa produk elektronik yang tersedia di toko milik Pratama untuk keperluan kantor dan restorannya.
Dara turun dari mobilnya setelah sampai di alamat yang diberikan oleh Pratama. Baru saja dia menutup mobil, pandangannya tak sengaja bertemu dengan pria berparas tampan yang sama-sama juga baru keluar dari mobil.
Sejenak, pandangan mereka bertemu. Namun, Dara segera memutuskan pandangan matanya. Sementara itu, di ujung sana, Raditya membeku. Tidak menyangka akan bertemu dengan wanita yang setiap hari menyiksa tidurnya. Wanita masa lalu yang sangat dirindukannya dan juga wanita yang meninggalkan penyesalan yang teramat dalam di hatinya.
Dara dengan langkah elegan mendekati pintu gerbang. Sepertinya Pak Pratama tidak mempekerjakan seseorang untuk membuka pintu gerbang hingga mobil mereka tidak bisa langsung masuk.
"Biar aku yang buka." Suara Raditya menghentikan langkah Dara. Wanita itu mundur setelah melirik sekilas pada Raditya. Namun, saat Raditya sampai di hadapannya, lelaki itu justru berdiri sambil menatapnya tak berkedip.
"Dara," ucap Raditya pelan.
Dara menghunuskan tatapan tajam pada pria di hadapannya. Wanita itu mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
Melihat tatapan Dara seketika membuat jantungnya serasa diremas-remas.
"Ka–kamu apa kabar?" tanya Raditya canggung. Semenjak Dara tahu dirinya berselingkuh, wanita itu tidak pernah mengizinkannya untuk bertemu. Dara menutup semua akses hingga mantan suaminya itu tidak bisa menemuinya.
Sampai akhirnya mereka berdua bercerai, Dara baru kali ini bertemu dengan wanita yang dulu pernah ia sia-siakan itu.
"Pertanyaan bodoh. Apa matamu buta sampai-sampai kamu tidak melihat bagaimana keadaanku sekarang?" Dara tersenyum mencibir. Sementara itu, Raditya gelagapan karena pertanyaannya dijawab dengan begitu ketus oleh Dara.
"Maafkan aku." Raditya tersenyum getir. Menyadari, jika Dara yang saat ini berada di hadapannya bukanlah Dara yang seperti dulu.
"Aku merindukanmu, Dara. Aku sungguh sangat menyesal karena aku telah melukaimu begitu dalam. Sampai saat ini, aku sangat menyesali semuanya. Maafkan aku." Kedua mata Raditya berkaca-kaca.
"Ini belum seberapa, Radit. Aku bahkan berharap kalau kamu akan menyesalinya sampai seumur hidup!" Dara masih menatap tajam ke arah pria berwajah tampan itu.
Ya! Raditya memang sangat tampan. Paras tampannya sebelas dua belas dengan Davin. Bedanya, saat ini Davin jelas lebih unggul dari Raditya.
"Dara!" Raditya ingin mengomentari ucapan Dara, tetapi, kedua matanya membola saat dirinya melihat dua orang yang tiba-tiba berhenti di belakang Dara sambil menodongkan senjata api.
Raditya dengan cepat menarik Dara dalam pelukannya kemudian segera berbalik melindungi wanita itu.
"Dor!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....