
Raditya terpesona untuk beberapa saat. Dia sungguh tidak mengira kalau sang papa ternyata mempunyai anak secantik itu.
Raditya menebak, istri pertamanya sang papa pasti sangatlah cantik. Walaupun Mama Mira juga tidak kalah cantik. Sang mama bahkan masih terlihat cantik sampai sekarang.
"Raditya, apa maksud kedatanganmu ke sini?" Pertanyaan Pratama mengagetkan Raditya.
Raditya tersenyum menatap Pratama. Kedua matanya kembali melirik ke arah Lauren yang kini duduk di sebelah papanya.
"Aku nagih janji Papa."
"Janji?" Pratama mengerutkan keningnya.
"Janji Papa untuk mempekerjakan aku di sini," sahut Raditya membuat pria paruh baya di hadapannya itu tersenyum simpul.
"Jadi, kamu setuju bekerja sama Papa untuk mengelola toko pemberian kakekmu?"
Raditya kembali mengangguk. Lelaki tampan itu tersenyum menatap sang papa yang terlihat lebih bahagia mendengar keputusan Raditya untuk bekerja di toko elektro.
"Dengan senang hati papa akan menerima kamu bekerja di sini." Pratama mengusap bahu Raditya.
"Eren, kamu tunggu di sini. Apa akan menjelaskan pada adikmu. Dia akan bergabung dengan kita."
__ADS_1
"Baik, Pa."
Raditya mengikuti langkah papanya. Kedua laki-laki beda generasi itu melangkah ke dalam ruangan yang biasa Pratama pakai untuk bekerja.
Lauren mendekati pegawai Pratama yang sedang melayani pelanggan. Gadis cantik itu ikut menawarkan pada pembeli barang-barang yang ada di tokonya.
Toko elektronik di mana Lauren berada saat ini adalah toko utama. Toko paling besar di antara puluhan toko milik Pratama.
Setiap libur kerja, Lauren akan datang ke toko milik papanya untuk bertemu dengan ayah kandungnya itu. Lauren juga membantu para pegawai melayani pelanggan.
Sebelum Lauren bekerja di perusahaan, dirinya ikut membantu Pratama di toko. Meskipun banyak pegawai yang membantu Pratama, tetap saja, lelaki paruh baya itu kerepotan. Pratama adalah orang yang mengurus segala keperluan toko juga keuangan.
Lauren pernah dipercaya sang papa untuk ikut membantu mengurus keuangan toko. Namun, saat mengetahui jika Mira seringkali datang untuk meminta uang, Lauren menolak keinginan sang papa.
Lauren dengan senyum mengembang pada wajah cantiknya mulai melancarkan aksinya merayu pembeli yang sedang mencari lemari pendingin.
Dengan lancar Lauren menyebutkan beberapa merek dan memperlihatkan barang yang diinginkan oleh pembeli. Setelah tawar menawar, pembeli berjenis kelamin perempuan itu akhirnya membeli barang yang ditawarkan oleh Lauren.
Perempuan itu sangat suka dengan pembawaan Lauren yang sangat ramah. Perempuan itu juga sangat puas karena mendapatkan barang yang diinginkan dengan harga yang terjangkau.
"Terima kasih sudah datang ke sini," ucap Lauren sambil menangkup kedua tangannya di depan dada. Tak lupa, senyuman cantik mengembang pada wajah cantiknya.
__ADS_1
Saat melihat pegawai yang lain sibuk, Lauren kembali membantu mereka. Saat semua orang sedang sibuk, seseorang datang dan langsung marah saat melihat Lauren ada di sana.
Wanita paruh baya itu dengan kasar menarik tangan Lauren yang sedang membantu melayani pembeli.
"Dasar wanita tidak tahu diri! Siapa yang mengizinkan kamu berada di sini?" teriak Mira seperti orang kesetanan. Teriakan wanita itu membuat para pengunjung terkejut.
Begitupun Pratama dan Raditya yang sedang berada dalam ruangannya. Suara Mira sangat keras. Wanita itu memaki Lauren dan menarik rambut gadis itu.
Lauren yang tidak sempat menghindar dari amukan Mira meringis menahan sakit pada rambutnya. Dua orang pegawai yang hendak menolong Lauren kembali mundur saat mendengar ancaman Mira yang akan memecatnya jika berani membela Lauren.
"Mira. Hentikan!" Suara teriakan Pratama mengagetkan Mira. Wanita itu melepaskan tangannya pada rambut Lauren. Raditya yang melihat sang mama seperti orang yang kesurupan dengan cepat mendekati Lauren kemudian menjauhkan kakak tiri yang baru dikenalnya itu dari Mira.
"Apa-apaan kamu, Mira? Kenapa kamu membuat keributan di sini?" Pratama kembali berteriak. Amarahnya memuncak melihat putrinya dianiaya oleh Mira.
"Kamu yang apa-apaan, Pa? Kenapa kamu membawa perempuan tidak tahu diri itu ke sini? Dia tidak berhak atas apapun yang ada di sini!" Mira tak kalah berteriak. Kemarahan yang sedari tadi tersimpan di dadanya meluap.
Mira yang sedang marah karena penolakan dari Dara, semakin murka saat melihat anak dari wanita yang dulu pernah menjadi istri suaminya berada dalam toko miliknya. Ia sungguh tidak terima melihat gadis itu ikut menikmati hasil dari toko yang dikelola oleh suaminya itu.
"Gadis yang kamu bilang tidak tahu diri itu adalah putriku, Mira. Darah dagingku! Seharusnya kamu bisa menerima dia seperti aku menerima Raditya meskipun aku tahu jika Raditya bukanlah darah dagingku!"
"Papa!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....