CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
PERMINTAAN PAPA


__ADS_3

Setelah berbicara dari hati ke hati dengan Dara saat di restoran, Davin merasa tenang kembali. Pria itu memutuskan kembali ke Jepang saat Dara mengatakan padanya kalau dia akan baik-baik saja.


Davin berjanji akan melakukan pekerjaannya dengan cepat agar dia bisa kembali secepatnya ke tanah air.


Sementara itu, Dara mengizinkan Davin menyuruh orang untuk mengawasinya dan juga mengawasi Mira. Dara tidak ingin wanita itu kabur sebelum diproses secara hukum.


Wanita itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Awalnya Dara merasa tidak percaya. Namun, saat mendengar cerita Lauren dan Pratama juga Raditya, wanita itu langsung percaya dengan apa yang terjadi.


Dara sangat mengenal Mira saat masih menjadi menantunya selama empat tahun. Wanita paruh baya itu selalu memerankan drama sebagai orang yang tertindas dan selalu menemukan cara untuk membuat dirinya berdebat dengan Raditya dan berujung pertengkaran.


Mira selalu memutar balikan fakta dan seolah bersikap sebagai korban padahal dia sendiri yang memprovokasi.


***


Dara baru saja sampai di kantor. Saat dirinya ingin masuk ke dalam ruangannya, Lisa mengatakan kalau Pak Haris sedang menunggunya.


Dara mengerutkan keningnya. Tumben sang papa yang super sibuk mampir ke kantornya. Namun, wanita itu melanjutkan langkahnya tanpa berkata apapun lagi pada sekretarisnya itu.


"Papa."


"Dara." Haris menatap putrinya dengan senyum mengembang di bibirnya. Pria paruh baya itu merentangkan tangannya memeluk Dara.

__ADS_1


"Tumben papa ke sini. Memangnya nggak sibuk?" Dara duduk di sebelah sang papa.


"Kebetulan pagi ini papa nggak ada kerjaan. Makanya mampir ke sini. Papa kangen sekaligus khawatir sama kamu," ucap Haris sambil mengusap kepala Dara.


"Aku tidak apa-apa, Pa. Aku baik-baik saja. Papa jangan khawatir." Dara menenangkan Haris.


"Bagaimana papa bisa tenang, saat papa mendengar kalau anak papa hampir saja menjadi korban penembakan," ucap Haris sambil menatap Dara dengan kedua mata berkaca-kaca.


Haris hampir saja kena serangan jantung saat mendengar kabar dari orang kepercayaannya kalau putrinya hampir saja menjadi korban penembakan. Sampai saat ini, Haris menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk menyelidiki apa motif dari penembakan itu. Haris sangat yakin kalau Dara tidak punya musuh, kecuali, jika memang orang itu adalah rival bisnisnya yang iri dengan kesuksesan Dara.


"Apa papa mendengar kabar ini dari Davin?" Dara tidak menyangka kalau sang papa sudah mengetahui insiden penembakan kemarin. Padahal, Davin sudah berjanji padanya tidak akan mengatakan kejadian itu pada kedua orang tuanya.


"Kamu lupa siapa papa, Dara?"


"Aku lupa kalau Papa dan Davin itu sama. Punya mata-mata yang senantiasa mengawasi aku ke mana-mana," ucap Dara dengan muka cemberut.


Haris tertawa mendengar ucapan putrinya. Apalagi, saat melihat Dara merajuk.


"Kamu sangat penting buat papa dan Davin. Jelas saja papa dan Davin khawatir sama kamu, Dara. Kamu adalah putri papa satu-satunya." Haris merangkul bahu Dara.


"Apapun akan papa lakukan untuk menjaga kamu. Sudah cukup empat tahun yang lalu papa menuruti kamu. Kini, papa tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Papa ingin menjaga kamu meskipun nanti kamu sudah menikah, Dara. Papa tidak mau apa yang terjadi pada kamu saat bersama Raditya kembali terulang."

__ADS_1


"Papa." Dara memeluk Haris dengan haru. Wanita itu menangis dalam pelukan sang papa.


"Terima kasih atas semua perhatian dan kasih sayang Papa sama aku selama ini. Aku janji, kali ini aku tidak akan membuat Papa khawatir." Dara berucap dengan sungguh-sungguh.


"Kalau kamu memang tidak ingin membuat papa khawatir, tolong penuhi permintaan papa, Nak." Haris mengusap kepala Dara.


"Papa."


"Dara, papa mohon, tolong penuhi keinginan papa dan mama. Menikahlah dengan Davin, Dara. Papa yakin, laki-laki itu adalah laki-laki yang tepat untuk kamu." Haris masih mencoba membujuk Dara.


Davin adalah pria baik. Pria yang cocok menjadi menantu idaman. Haris sungguh berharap kalau Dara menerima pria itu. Apalagi, Dara dan Davin sudah berteman dari dulu. Kedua orang tua Dara yakin, kalau Dara pasti tidak akan susah beradaptasi dengan pemuda itu.


Davin sangat mencintai Dara dari dulu, dari sebelum dara menikah dengan Raditya. Dara hanya perlu membuka hati untuk menerima pria itu menjadi suaminya.


"Menikahlah dengan Davin, Dara!" Haris mengulangi perkataannya saat melihat Dara hanya terdiam.


"Biarkan lelaki itu yang melindungimu, Dara. Papa dan mama akan tenang jika kamu mau memenuhi permintaan papa untuk menikah dengan Davin."


"Papa ...."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1



__ADS_2