
"Jadi ini, yang kamu bilang pulang telat karena lembur?" Suara Dara mengangetkan kedua insan yang saat ini sedang memacu tubuhnya untuk mengejar kenikmatan. Tubuh mereka sama-sama polos dengan keringat yang sudah membanjiri tubuh mereka.
Dara memandang mereka dengan jijik dan penuh kebencian. Hatinya serasa tersayat dengan ribuan pisau. Sungguh! Ia tidak pernah menyangka akan tiba waktu di mana orang yang sangat dipercayainya ternyata mengkhianatinya sedemikian rupa.
Lelaki itu, lelaki hangat yang selalu memperlakukan dengan penuh cinta. Lelaki yang selalu membuatnya percaya bahwa mereka berdua mempunyai cinta yang sama-sama besar. Namun, sekarang lihatlah lelaki itu! Dia dengan tidak tahu malunya berbagi keringat dengan wanita lain di dalam sebuah kamar hotel.
"Da–Dara." Raditya dengan cepat menutupi tubuh polosnya yang masih menyatu dengan tubuh bagian bawah Kinara dengan selimut. Sementara itu pakaian mereka sudah berserakan di lantai hotel.
"Jahat! Jadi ini balasan kepatuhanku padamu selama ini?"
"Da–Dara." Raditya kembali tergagap saat melihat tatapan Dara yang begitu tajam. Tatapan yang menyiratkan sakit hati dan kebencian.
"Sayang, kenapa kamu bisa ada di sini?" Raditya meraih celana yang tergeletak tidak jauh darinya. Laki-laki itu dengan segera memakainya. Setelah itu, ia pun memunguti pakaian Kinara.
"Menjijikan!" Dara menatap Raditya saat laki-laki itu mengambil pakaian selingkuhannya yang berserak di lantai.
Mendengar nada suara dan kalimat yang keluar dari mulut Dara, Raditya mematung seketika.
Sementara Dara berbalik, berniat pergi dari tempat yang membuatnya hampir kehilangan napas. Dadanya terasa sesak, seiring rasa sakit yang *******-***** hatinya.
Kau benar-benar bodoh, Dara! Hanya karena cinta, kau begitu mempercayainya dan membuat bajingan itu menghancurkanmu berkeping-keping.
"Brengsek! Sialan! Memangnya apa kelebihan wanita ****** itu dibandingkan aku? Kecantikan wajahnya bahkan sangat jauh dariku," batin Dara.
"Dara, aku bisa menjelaskan semuanya!" Raditya berteriak panik. Ia memang ingin berpisah dengan Dara, tetapi, bukan dengan cara seperti ini.
__ADS_1
"Menjelaskan apa?" Dara berbalik.
"Semuanya sudah jelas! Suamiku yang katanya lembur di kantor ternyata sedang bercinta dengan selingkuhannya di kamar hotel!"
"Dara." Raditya memindai wajah cantik istrinya. Hari ini, Dara terlihat sangat berbeda. Wanita itu memakai dress yang melekat pas pada tubuh indahnya. Wajah cantiknya bahkan semakin terlihat sangat cantik saat dipoles dengan makeup.
"Sungguh tidak dapat dipercaya. Kau menyuruhku berdiam diri di rumah dan tidak boleh bepergian kemanapun selain denganmu, tapi, kau sendiri tidak bisa dipercaya. Bisa-bisanya kau membohongiku, Raditya Pratama!" Suara Dara naik beberapa oktaf membuat Raditya terkejut. Wanita itu bahkan tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Mas seperti biasanya.
Wajahnya merah padam karena amarah.
"Kalian berdua benar-benar sampah!" teriak Dara dengan kedua mata berkilat penuh amarah. Sekuat tenaga wanita itu menahan agar air matanya tidak keluar.
"Kamu jangan bicara sembarangan, Dara!" Raditya menatap Dara sambil mengepalkan kedua tangannya. Kata-kata Dara yang menyebut dirinya sampah sungguh melukai harga dirinya sebagai lelaki.
"Kenapa? Kau tidak terima?" Dara menatap laki-laki yang selama empat tahun ini bertahta di hatinya.
"Sebaiknya kau pulang. Aku akan menjelaskan semuanya di rumah." Mengingat kesalahan fatal yang sudah diperbuatnya, Raditya akhirnya mengalah. Tutur katanya kembali berubah lembut.
Dara mencibir sambil tertawa pelan.
"Kau pikir, setelah apa yang kau lakukan dengan ****** itu, aku akan kembali ke rumahmu dan kembali menjadi budakmu?"
"Dara!" Raditya menatap Dara dengan penuh amarah.
"Kenapa? Apa kau juga tidak terima aku menyebutnya sebagai jala–"
__ADS_1
"Dia bukan ******! Dia istriku!"
BERSAMBUNG ....
Sambil nunggu update, otewe ke novel temen Author yuk, teman-teman ....
Masihku berdiri dalam penantian yang kau janjikan.
Mencoba tetap bertahan meski ku tahu, aku telah dilupakan.
Masihku ingat, waktu itu kau memintaku untuk melupakanmu.
Kau tahu, saat itu aku meringkuk, meringkih bagaikan janin, tersiksa menahan perih.
Masihkah tak puas kau hancurkanku?
Kau putar kata, seolah perih ini salahku.
Inginku teriak semua janji yang kau ingkari yang membuatku menanti dan kini tersakiti.
Agar kau tahu, seberapa lelah aku akan sikapmu yang tak berperi.
Dan bila nanti kau tak temui lagi, jangan kau cari, jangan kau sesali.
__ADS_1
Karena sesungguhnya saat itu aku benar-benar telah lelah menantimu. Akankah Angel, bertahan menjalani rumah tangganya bersama Veri? Lalu akankah Veri berubah atau pergi meninggalkan Angel, untuk hidup bersama tunangannya?