
Mira menatap Dara dengan pandangan tidak percaya. Beberapa waktu yang lalu, dia memang bertemu dengan Dara. Namun, seorang wanita cantik yang bersama Dara saat itu mengusirnya.
Dari wanita itulah, Mira mendapatkan informasi tentang Dara yang ternyata benar-benar orang kaya raya. Mira tidak tahu apa alasan Dara berpura-pura miskin di hadapannya dan juga Raditya.
Mira sungguh terkejut jika wanita yang selama menjadi menantunya itu ia anggap bodoh ternyata adalah wanita yang sangat pintar. Buktinya, Dara bisa memimpin perusahaan meskipun dia seorang perempuan.
Dalam hati Mira berangan-angan, seandainya saja Raditya masih bersama dengan Dara saat ini, kehidupannya pasti akan sangat terjamin. Mira akan menyuruh Dara untuk memberikan perusahaan itu pada putranya.
Mira yakin, Dara pasti mau menerima Raditya kembali setelah putranya minta maaf pada Dara. Bukankah Dara sangat mencintai Raditya? Mira begitu percaya diri hingga akhirnya wanita paruh baya itu memutuskan pergi ke kantor Dara untuk menemui mantan menantunya itu.
Menurut Mira, ia hanya perlu merendahkan diri sedikit di depan Dara agar wanita itu mau memaafkannya dan juga Raditya atas kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu.
Namun, saat melihat sikap Dara yang seperti ini, nyali wanita yang melahirkan Raditya itu langsung menciut.
"Saya tahu, saya dan Raditya bersalah padamu. Tapi saya mohon, tolong beri kesempatan pada saya dan Raditya untuk memperbaiki kesalahan kami," ucap Mira dengan menggunakan bahasa formal.
Ucapan Dara yang menolak saat Mira menyebut dirinya dengan sebutan mama membuat kepercayaan diri Mira menghilang.
"Di mata Anda, dulu saya memang bodoh. Tapi, sebodoh-bodohnya saya, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Pernah menjadi bagian dari keluarga Anda adalah hal yang sangat saya sesali. Jadi, jangan pernah berpikir apalagi berharap jika saya akan kembali pada Raditya dan menjadi menantu mertua kejam seperti Anda," jelas Dara panjang lebar.
"Saya sibuk. Saya tidak punya waktu untuk membahas masa lalu. Apalagi, memberi kesempatan kedua pada orang-orang jahat seperti Anda dan putra Anda." Dara menatap Mira yang tampak terkejut.
Wanita paruh baya itu sungguh tidak menyangka kalau Dara akan menolaknya mentah-mentah. Dara sungguh telah berubah. Bukan lagi Dara yang mengalah seperti dulu.
"Jadi ini sikapmu pada mantan ibu mertuamu? Mentang-mentang sekarang ini kamu kaya raya, terus kamu bisa seenaknya menghina saya?" Mira menatap Dara dengan penuh amarah.
"Sifat dan sikapku dari dulu seperti ini. Hanya saja, saat menikah dengan putra Anda saya berubah. Bukankah saya harus menyesuaikan diri dengan kehidupan Raditya saat itu?"
"Kamu–"
"Saya mengalah karena saya tidak ingin membuat kalian malu saat berada di samping saya. Keluarga kalian tidak sepadan dengan keluarga saya. Selama ini saya berpura-pura dengan kalian agar kalian tidak malu. Apa jadinya jika semua orang tahu kalau suami dari seorang pengusaha muda sukses seperti saya hanyalah seorang pegawai staf biasa di kantor?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Dara, kedua mata Mira membola. Mulutnya menganga lebar. Tiba-tiba Mira mengingat semua ucapan Raditya yang mengatakan kalau bukan karena Dara, pasti dirinya tidak akan mempunyai posisi yang bagus di perusahaan.
"Saya selalu bersikap baik dan terus mengalah pada kalian. Tapi apa balasan kalian selama empat tahun saya menjadi anggota keluarga kalian?" Suara Dara naik satu oktaf. Wajah cantiknya mencibir Mira.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan, sebaiknya Anda keluar dari ruangan saya."
"Dara–"
"Keluar!"
***
Setelah gagal berkali-kali melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan tetapi tidak ada satupun yang menerima, Raditya akhirnya menyerah.
Raditya butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semua uang tabungannya sudah menipis. Sudah berbulan-bulan dirinya menjadi pengangguran, dan selama itu pula, Raditya hanya mengandalkan uang tabungannya.
Uang itu adalah uang dari hasil penjualan rumah yang dulu diberikan oleh Dara dan juga uang hasil penjualan dari beberapa barang dari rumah mewah yang menjadi hak milik Dara.
Mengingat tentang Dara, hatinya terasa sesak. Raditya begitu merindukan wanita itu. Dulu, saat masih ada, ia merasa wanita itu tidak berarti. Kini, setelah wanita itu tidak ada, Raditya merasa kehilangan.
Raditya menarik napas panjang. Setiap kali mengingat Dara, dadanya terasa sesak. Hatinya berdenyut nyeri. Entah sampai kapan perasaan itu akan terus menyiksanya.
Dalam hati Raditya yang paling dalam, ia masih berharap jika suatu saat nanti Dara akan kembali padanya. Memang benar, semuanya tidak mungkin. Namun, bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini?
"Aku sangat berharap, cinta dalam hatimu untukku tetap ada sampai kapanpun. Sehingga saat aku kembali memantaskan diri denganmu, kamu masih mau menerimaku." Doa Raditya dalam hati.
Raditya memutuskan untuk bertemu dengan Pratama. Sepertinya, ia akan menerima tawaran dari sang papa untuk bekerja di toko milik papanya.
Tidak apa-apa walaupun gajinya sedikit, yang jelas, Raditya punya pemasukan untuk biaya hidupnya sehari-hari.
Raditya bersiap keluar rumah. Lelaki berparas tampan itu masuk ke dalam mobilnya, menuju toko elektronik milik sang papa yang terletak tidak begitu jauh dari rumahnya.
__ADS_1
***
"Papa."
"Raditya." Pratama tersenyum melihat Raditya yang kini berdiri di hadapannya.
"Kamu datang, Nak? Papa menunggu kamu di rumah, tapi kamu tidak datang-datang."
"Maafkan aku, Pa." Raditya memeluk sang papa.
"Papa."
Pratama dan Raditya menoleh ke arah suara.
"Eren, kamu juga datang hari ini?" Lauren atau biasa disapa Eren adalah anak dari Pratama dan Nadia. Gadis cantik yang dilabeli oleh Mira sebagai selingkuhannya Pratama.
Mira memang istri tidak ada akhlak. Mak Author sampai gemas dengan wanita kejam itu.
Pratama memeluk anak gadisnya. Pria itu tersenyum kemudian menatap Raditya yang masih terpaku melihat gadis cantik yang dipeluk oleh papanya.
"Raditya, kenalin, ini Lauren, kakak kamu. Anaknya papa dari istri pertama papa." Pratama tersenyum canggung menatap Raditya yang masih terdiam.
"Hai, aku Eren. Papa sudah cerita banyak tentang kamu." Lauren tersenyum cantik sambil mengulurkan tangannya di depan Raditya.
"Raditya." Raditya membalas uluran tangan Lauren dengan canggung. Laki-laki itu tersadar kalau dirinya baru saja terpesona pada wanita di hadapannya.
"Gila! Anak papa ternyata cantik sekali."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1