
Davin masih menemani Dara yang baru saja pulih setelah seharian kemarin demam. Wajah wanita yang dicintainya itu masih terlihat pucat. Dara menolak dibawa ke rumah sakit karena itu, dokter menyarankan agar wanita itu beristirahat dan meminum obat yang sudah diresepkan padanya.
Semalaman, Davin menemani Dara di apartemen. Perempuan itu tertidur setelah minum obat yang diberikan oleh dokter pribadi keluarga Dara. Davin juga tidak lupa mengabari kedua orang tua Dara agar mereka tidak khawatir dengan putri mereka.
Davin memindai wajah cantik Dara. Wanita itu masih tertidur padahal hari sudah menjelang siang.
Pria itu menghela napas panjang saat mengingat betapa buruk nasib yang menimpa perempuan Dara. Kita memang tidak bisa menolak takdir yang sudah digariskan Tuhan pada kita. Begitupun dengan Dara.
Perempuan sebaik dia seharusnya tidak dipertemukan dengan lelaki pecundang seperti Raditya. Seandainya saja dulu Davin bisa membuat Dara jatuh cinta, wanita itu pasti tidak akan menderita seperti ini.
Kenapa Dara harus jatuh cinta pada lelaki brengsek seperti Raditya? Kenapa wanita itu tidak jatuh cinta saja padanya yang jelas-jelas sangat mencintai Dara dengan tulus.
Davin mengusap wajah Dara dengan lembut saat perempuan itu mengerjapkan kedua matanya. Davin mengulas senyum saat kelopak mata Dara terbuka sempurna.
"Syukurlah kamu sudah sadar. Aku pikir kamu tidak akan bangun lagi."
Davin meringis saat merasakan nyeri pada pinggangnya saat tangan wanita itu dengan cepat mendarat dan mencubit pinggangnya.
"Apa kau ingin aku mati?" Dara melotot ke arah Davin yang langsung tertawa.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kamu ingin mati? Sampai-sampai membiarkan dirimu sakit hanya karena lelaki brengsek seperti dia?" Davin berucap kesal.
Sementara itu, Dara terdiam karena memang apa yang dikatakan oleh Davin memang benar. Dari kemarin dirinya mengabaikan kesehatannya karena terlalu memikirkan masalahnya dengan Raditya.
"Aku sudah bilang, kamu hanya perlu menenangkan diri. Kalau dia memang masih mengganggumu, biar aku yang menanganinya. Kamu hanya cukup berdiam diri dan fokus pada pekerjaan kamu," ucap Davin panjang lebar.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sangat mencintainya. Tidak mudah bagimu melupakan semua kenangan selama empat tahun bersamanya. Tapi, kamu jangan lupa, masa depanmu masih panjang. Lelaki seperti dia sangat pantas untuk kamu buang dan kamu lupakan. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk menangisi lelaki brengsek seperti dia." Davin mengepalkan kedua tangannya.
Laki-laki itu menahan amarah saat mengingat Raditya. Sementara Dara hanya terdiam mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya.
"Aku akan mengantarmu ke kamar mandi. Setelah itu, kita makan bersama. Aku sudah menahan lapar dari tadi," ucap Davin. Tangannya bergerak mengangkat tubuh Dara.
"Aku bisa sendiri." protes Dara saat pria itu berniat menggendongnya.
"Nggak usah bawel!"
Dara mengerucutkan bibirnya kesal. Percuma melawan pria di hadapannya karena ia tidak akan menang.
"Kamu bilang kamu lapar. Kenapa tidak makan duluan saja?"
"Aku tidak pingsan. Aku hanya tidur!" elak Dara. Ia ingat betul kalau semalam dirinya tertidur setelah meminum obat yang diberikan dokter padanya.
Davin menurunkan Dara tepat di depan kamar mandi.
"Bersihkan dirimu. Aku menunggumu di meja makan," ucap Davin sebelum pria itu keluar dari kamar Dara.
Dara hanya mengangguk sebagai jawaban. Perutnya pun terasa lapar karena ia melewatkan sarapan paginya.
***
"Heh! Wanita sialan! Gara-gara kamu Mas Radit menceraikan aku!" Seseorang tiba-tiba berteriak di depan Dara yang saat itu sedang meeting bersama klien di sebuah restoran.
__ADS_1
Dara dan ketiga orang kliennya merasa terkejut dengan kedatangan Kinara yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya dan memaki Dara.
Semua orang saling berpandangan menatap Dara. Sementara Dara dengan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.
Amarahnya seketika naik melihat wanita yang telah menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya itu berdiri di sana. Dara melirik ke arah pelayan yang dengan tergesa masuk ke dalam ruangan VIP yang digunakan oleh Dara untuk makan siang sekaligus meeting dengan beberapa klien penting.
"Maafkan saya, Bu Dara. Saya sudah melarangnya tapi wanita itu tetap nekad ke sini," ucap pelayan itu dengan ketakutan. Takut kalau setelah ini dirinya akan dipecat oleh Dara karena keteledorannya membiarkan Kinara masuk ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan untuk meeting.
Dara mengangkat tangannya, mengisyaratkan pada pelayan itu agar dia segera pergi dari sana. Sang pelayan membungkuk, meminta maaf sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.
"Apa kamu sadar dengan ucapanmu?" Dara menatap tajam ke arah Kinara.
"Tentu saja aku sadar! Gara-gara kamu Mas Raditya menceraikan aku. Seharusnya kamu yang bercerai dengannya bukannya aku!" Kinara berteriak dengan tidak tahu malu.
Sementara Dara menundukkan kepala pada tiga orang kliennya untuk meminta maaf karena sudah mengganggu ketenangan mereka.
"Dasar pelakor!" teriak Kinara lagi. Perempuan itu dengan penuh percaya diri menyebut Dara sebagai pelakor.
Dara berdiri kemudian mendekati wanita yang telah menghancurkan keluarganya itu.
"Aku? Pelakor?" Dara menunjuk ke arah dirinya.
"Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan istri sah disebut pelakor dan pelakor disebut istri sah?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1