CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
AKAD NIKAH


__ADS_3

Setelah acara lamaran itu, besok paginya, Dara dan Davin benar-benar menikah. Mereka mengadakan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga besar mereka saja.


Rencananya, tiga bulan kemudian, mereka akan mengadakan resepsi besar-besaran. Tidak mungkin Harus dan Mahendra tidak melakukan perayaan pernikahan putra-putri mereka.


Mereka hanya mencari waktu yang pas untuk merayakan pernikahan anak-anak mereka. Kesibukan Dara dan Davin adalah salah satu alasan kenapa hari ini mereka menikah secara sederhana dulu.


Jika menunggu waktu luang, tiga bulan mendatang Dara dan Davin baru bisa menikah. Padahal, kedua keluarga besar itu sudah sangat menginginkan mereka berdua menikah.


Sebenarnya, Dara masih merasa syok dengan keputusan yang diambil oleh kedua orang tua mereka. Namun, lagi-lagi, saat melihat kebahagiaan mama dan papanya Dara merasa tidak tega untuk menolak.


Dara pernah mengecewakan kedua orang tuanya saat menikah dengan pria tidak bertanggung jawab seperti Raditya. Kini, Dara ingin menebus kesalahannya di masa lalu. Dia ingin membahagiakan kedua orang tuanya dengan menikah dengan Davin.


Dara terlihat begitu cantik saat dirinya memakai kebaya pengantin modern berwarna putih. Begitupun dengan Davin yang terlihat sangat tampan. Meskipun acaranya sederhana, tetapi, mereka tetap memakai pakaian pengantin terbaik yang sudah disiapkan oleh ibunya Davin.


Davin terlihat gugup saat Haris menjabat tangannya.


"Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau, dengan pinanganmu, putriku, Dara Jelita dengan mahar lima ratus juta rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Dara Jelita binti Haris Sanjaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Davin menghela napas lega.


"Sah!"


"Saah!"


"Alhamdulillah." Semua keluarga yang hadir berucap syukur karena akhirnya Dara dan Davin sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


Dara mencium tangan Davin dengan takzim. Tiba-tiba bayangan saat dirinya mencium tangan Raditya terlintas. Namun, dengan cepat Dara menepisnya.


Davin tersenyum tampan kemudian mencium kening Dara.


"Terima kasih karena sudah mau menjadi istriku, Sweetie," bisik Davin yang dibalas senyuman oleh Dara.

__ADS_1


"Semoga pernikahanku kali ini baik-baik saja." Dara berdoa dalam hati.


***


Davin menatap Dara yang terlihat sangat cantik. Terkadang ia merasa heran. Kenapa wanita itu selalu tampak cantik dalam keadaan apapun?


Saat Dara dirias memakai kebaya pengantin saat akad nikah mereka beberapa jam yang lalu, perempuan itu terlihat sangat cantik. Sekarang, wajah polosnya tanpa makeup pun terlihat sangat cantik dan segar karena Dara baru saja selesai mandi.


"Kenapa kamu menatap aku terus?" Dara yang sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk menatap heran ke arah Davin.


Davin tersenyum, kemudian mengambil alih handuk di tangan Dara.


"Memangnya nggak boleh lihatin istri sendiri?" tanya Davin. Kedua tangannya sibuk mengeringkan rambut Dara.


Sementara itu, Dara terdiam saat mendengar kalimat 'istri' yang diucapkan oleh Davin. Namun, setelahnya senyuman terbit pada wajah cantiknya. Entah kenapa, Dara merasa senang mendengar ucapan Davin.


"Kamu cantik, Sweetie."


"Aku sudah cantik dari lahir. Memangnya kamu baru sadar?"


"Kamu benar. Kamu memang begitu cantik. Kenapa aku baru menyadarinya?" Davin mengecup pipi Dara sekilas.


Davin kemudian mengambil alat pengering rambut agar rambut Dara kering dengan sempurna. Dara terdiam menatap wajah tampan Raditya dari cermin di depannya.


Ia sungguh tidak menyangka kalau dirinya sudah menikah dengan sahabatnya sendiri.


"Selesai." Davin meletakkan hairdryer setelah mencabut kabelnya. Menyuruh Dara berdiri kemudian memeluk perempuan itu dengan erat.


"Terima kasih, Sweetie, karena kamu telah mewujudkan impianku," ucap Davin.


Dara melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Davin. Membalas pelukan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu. Rasanya sangat nyaman.

__ADS_1


"Memangnya, apa impianmu?" Dara memejamkan mata saat harum tubuh Davin masuk ke dalam indera penciumannya.


"Menikah denganmu adalah impianku sejak pertama kali aku jatuh cinta padamu."


"Hah? Bagaimana bisa? Memangnya sejak kapan kamu jatuh cinta padaku?"


"Sejak kamu memperkenalkan diri sebagai murid baru di kelasku."


Dara mendongak menatap wajah tampan Davin yang tersenyum padanya.


"Aku memperkenalkan diri sebagai murid baru di kelas?" Dara tampak berpikir keras.


"Bukankah saat itu–"


"Ya! Saat itu kita masih kelas dua SMA. Sampai sekarang, aku bahkan masih ingat raut wajahmu saat memperkenalkan diri di depan semua orang."


"Davin." Dara menatap tak percaya pada lelaki di hadapannya.


"Se–selama itu kamu menyimpan perasaanmu padaku?" Dara tergagap. Tidak pernah menyangka kalau lelaki di hadapannya itu sudah mencintainya dari semenjak lama.


Dara pikir, Davin tertarik padanya saat dirinya sudah menjadi mahasiswa. Tetapi, ternyata dugaannya salah. Bagaimana ada orang yang sekuat itu memendam perasaannya pada seseorang?


Bahkan selama itu pula dia bertahan menjomblo. Davin tidak pernah berpacaran dengan wanita manapun semenjak Dara berteman dengan pria itu sejak jaman putih abu-abu.


Bukan karena Davin tidak laku. Banyak sekali wanita yang mengejarnya, tetapi, tidak ada satupun di antara mereka yang membuatnya tertarik.


"Selama itu kamu menyimpan perasaanmu padaku, dan selama itu pula kamu membiarkan aku bersama dengan lelaki lain yang saat itu menjadi kekasihku. Memangnya hatimu itu terbuat dari apa?" Dara kembali memeluk Davin. Membayangkan laki-laki itu menyimpan perasaannya yang begitu lama membuatnya merasa begitu sedih.


"Rasa cintaku sangat tulus padamu, Sweetie. Bohong jika aku tidak merasa sakit hati saat aku mengetahui kamu mencintai laki-laki lain. Tapi, bukankah cinta tidak harus memiliki? Aku bahagia saat melihatmu bahagia, Sweetie." Davin mempererat pelukannya.


"Meskipun kebahagiaanmu bukan bersamaku."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....



__ADS_2