
Mira berteriak histeris saat beberapa petugas polisi itu menangkapnya. Wanita itu berniat melarikan diri membuat petugas yang masih berdiri di depan rumah ikut mengamankan Mira. Seorang petugas langsung memborgol kedua tangannya.
"Lepaskan aku!"
"Aku bukan pembunuh! Lepaskan aku!" Mira terus berteriak. Wanita itu tidak menyangka kalau dirinya akan ditangkap atas tuduhan pembunuhan.
Memang benar, ia menyuruh orang untuk membunuh Lauren. Akan tetapi, Mira tidak pernah menyangka kalau pembunuh bayaran itu tertangkap hingga akhirnya menyeret dirinya.
Saat mengingat akan masuk penjara, Mira kembali histeris.
Monika memeluk asisten rumah tangganya. Gadis remaja itu menangis. Pasrah melihat ibunya digelandang masuk ke dalam mobil polisi.
Mira tidak berhenti berteriak. Wanita paruh baya itu tidak terima dirinya ditangkap. Mira berteriak menyebut nama Monika dan Raditya. Wanita itu berteriak sambil meronta meminta untuk dilepaskan.
Monika menatap sang mama hingga akhirnya mobil petugas yang membawa Mira menghilang dari pandangannya.
"Sabar, Non. Sabar ...." Sang asisten rumah tangga itu mengusap bahu Monika yang bergetar karena menangis.
"Kenapa Mama begitu jahat, Bi? Padahal aku dan Kak Raditya sudah mengingatkannya, tapi mama tetap nekad." Monika terisak di pelukan Bibi.
"Aku kasihan sama mama, tapi aku juga tidak bisa melihat mama bebas begitu saja setelah melakukan kejahatan. Mama pantas mendapatkan hukuman karena perbuatannya," lanjut Monika di sela tangisnya.
__ADS_1
"Sabar, Non. Semoga ada jalan keluar untuk ibu, Non. Semoga ibunya Non Monik sadar setelah ini dan mau bertaubat."
"Sekarang, sebaiknya Non Monik menelepon Bapak dan Den Raditya. Kasih tahu mereka kalau ibu ditangkap polisi."
***
Pratama menghela napas panjang. Baru saja, ia selesai menerima panggilan telepon dari Monika. Ada perasaan iba mendengar istrinya ditangkap. Namun, ada rasa lega bersamaan karena dengan begitu, untuk sementara, Mira tidak akan lagi mengusik Lauren, putrinya.
Entah apa yang ada dalam pikiran Mira sampai-sampai dia sangat membenci Lauren. Padahal, Lauren tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Mira menganggap putrinya sebagai musuh hanya karena Lauren adalah anak dari Nadia, wanita yang sangat dicintainya.
Rasa cinta Pratama pada Nadia membuat Mira sangat membenci wanita itu. Dia kesal karena tidak bisa memiliki Pratama, lelaki yang membuatnya jatuh cinta setengah mati hingga rela melakukan apapun untuk mendapatkan pria itu.
Mira memang memiliki raga Pratama, tetapi, dia tidak bisa memiliki hati pria itu karena seluruh hati Pratama sudah menjadi milik Nadia, perempuan yang menjadi istri pertamanya.
Saat ini, dirinya masih berada dalam ruangan di mana Raditya dirawat. Lauren sudah pulang. Pratama menyuruhnya pulang agar putrinya itu bisa beristirahat.
Apalagi, saat ini Lauren masih bekerja di tempat yang lama. Rencananya ia akan langsung berhenti setelah Dara menerimanya di perusahaan wanita itu. Namun, sebelum dia keluar, Lauren ingin menyelesaikan semua pekerjaannya dulu baru mengundurkan diri.
Pratama menyuruh Monika ke rumahnya dan tinggal bersama selama Mira masih di kantor polisi. Anak gadisnya itu saat ini pasti sangat terpukul melihat keadaan Mira. Bagaimanapun jahatnya Mira, perempuan itu tetaplah ibunya. Mira tidak mungkin tidak bersedih melihat ibunya saat ini sedang terlibat masalah dengan hukum.
Raditya baru saja membuka matanya. Keningnya berkerut dalam saat melihat sang papa yang duduk di hadapannya kini sedang melamun. Pratama memang sengaja menunggu Raditya dengan duduk di hadapan putranya yang berbaring di atas ranjang rumah sakit.
__ADS_1
"Papa melamun?" Suara Raditya membuat Pratama tersadar dari lamunannya.
"Ada apa, Pa?" Raditya kembali bertanya saat melihat Pratama masih terdiam sambil menatapnya.
"Tidak ada apa-apa." Pratama mengusap lengan Raditya.
Pratama begitu menyayangi Raditya. Meskipun putranya itu pernah mengecewakannya saat memutuskan menikah lagi dengan Kinara, tetapi, Pratama tidak bisa marah terlalu lama karena kasih sayangnya begitu besar pada Raditya.
Cukup melihat penyesalan Raditya saja sudah cukup membuatnya memaafkannya. Apalagi, saat Pratama melihat kehancuran Raditya setelah ditinggal oleh Dara.
"Papa nggak bisa bohong sama aku, Pa." Raditya menatap Pratama yang terlihat gelisah.
Pratama mengembuskan napas panjang.
"Adikmu baru saja menelepon kalau mama kamu dijemput oleh polisi. Mama ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana."
Raditya sangat terkejut mendengar ucapan papanya. Lelaki itu kemudian memejamkan matanya. Menahan gejolak yang menyesakkan dada. Wajah sang mama terbayang.
Raditya tahu, cepat atau lambat, ibunya pasti tertangkap. Apalagi, pelaku penembakan itu sudah tertangkap. Sudah dipastikan, nama ibunya pasti terseret karena dialah dalang dari kasus penembakan itu.
"Apa yang harus kita lakukan, Pa? Kita tidak mungkin bisa menyelamatkan mama bukan?"
__ADS_1
"Kamu benar, Radit. Kita tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Papa memang bersedih. Tapi, tindakan mama kamu juga tidak bisa dibenarkan. Saat ini kamu yang terluka, lain waktu, kita tidak akan pernah tahu siapa lagi yang menjadi korbannya. Papa tidak mau mempertaruhkan nyawa Lauren. Dari bayi, anak itu sudah menderita karena kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Papa tidak mau mengulangi kesalahan yang sama hanya karena rasa kasihan papa pada mama kamu."
BERSAMBUNG ....