CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
MENIKAH KARENA KEINGINAN PAPA


__ADS_3

Setelah Mira tertangkap, Dara terpaksa harus bolak-balik ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Bukan hanya Dara, tetapi, Raditya, Pratama juga Lauren pun ikut dimintai keterangan.


Dara dan Raditya bersaksi karena mereka adalah korban. Apalagi, Raditya juga dengan jelas melihat pelaku penembakan. Bukan hanya Raditya, Lauren juga menjadi saksi karena gadis itu pun melihat kedua pelaku.


Seminggu setelah Mira tertangkap, Dara kembali ke aktivitas biasanya. Dara tidak lagi bolak-balik menunggu Raditya di rumah sakit karena lelaki itu sudah diperbolehkan pulang.


Selama Raditya dirawat, ia memang setiap hari mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Raditya. Biar bagaimanapun, Raditya telah menyelamatkannya. Dara menggunakan alasan kemanusiaan saat Davin begitu terang-terangan mengatakan tidak suka kalau Dara terus memberikan perhatian pada mantan suaminya itu.


Sebenarnya, saat ini Dara merasa prihatin atas kejadian yang menimpa keluarga Raditya. Sebenci apapun dirinya terhadap Raditya, ia tetap punya sisi kemanusiaan. Apalagi, saat melihat Pratama. Lelaki yang sampai sekarang masih ia panggil papa, sama seperti saat dirinya masih menjadi menantunya.


Raditya pasti sangat terpukul melihat ibunya di penjara. Begitupun dengan Mira yang merasa sangat menyesal karena telah melukai putra tercintanya. Seandainya dia tidak menyuruh orang untuk menghabisi Lauren, Raditya pasti tidak akan menjadi korban salah sasaran dari sang pembunuh bayaran.


Sebenarnya, Dara bisa saja mencabut laporan agar Mira bisa bebas karena dalam hal ini dirinya adalah korban. Akan tetapi, Lauren yang sudah terlanjur geram sudah pasti tidak akan membiarkan Mira lolos. Begitupun dengan Pratama. Sementara itu, Raditya merasa serba salah. Raditya adalah saksi sekaligus bukti kejahatan yang dilakukan oleh ibunya.


Seandainya saja penjahat itu tidak melukai Dara, mungkin Raditya akan berpikir panjang dan berusaha membebaskan sang ibu. Namun, karena orang yang hampir saja celaka adalah Dara, Raditya seolah menutup mata. Biar bagaimanapun, Mira harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Apa yang terjadi padanya saat ini adalah akibat dari segala perbuatannya. Pidana yang akan diterima oleh Mira ternyata bukan hanya itu saja. Lauren, anak kandung papanya dengan sang istri pertama berniat menggugat Mira atas kematian ibunya.


Lauren ingin, Mira bertanggung jawab karena telah dengan sengaja mencelakai ibunya hingga menyebabkan ibunya meninggal dunia.


Lauren berusaha keras untuk mengumpulkan bukti-bukti. Dia juga meminta asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Mira untuk bersaksi. Dia adalah saksi saat Mira mendorong Nadia hingga terjatuh di tangga.

__ADS_1


***


Dara mengembuskan napas panjang. Berdiri menatap jendela kamarnya. Perempuan itu memikirkan semua ucapan kedua orang tuanya yang menyuruhnya untuk segera menikah dengan Davin.


Setelah pembicaraannya dengan sang papa waktu itu, beberapa hari kemudian, Haris kembali meneleponnya dan mengatakan pada Dara kalau kedua orang tua Davin ingin bertemu untuk membicarakan pernikahan Dara dan Davin.


Dara sendiri tidak mengerti, ia jelas-jelas belum menerima Davin sebagai kekasih apalagi calon suami. Akan tetapi, kedua orang tua mereka begitu antusias menjodohkannya dengan Davin. Pria itu bahkan sampai saat ini belum mengatakan apapun.


Dara belum bertemu lagi dengan Davin semenjak lelaki itu berpamitan pergi ke luar negeri untuk mengurus pekerjaan.


"Seharusnya dia sudah pulang. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum menemuiku?" Dara menghela napas panjang. Wanita itu meraih ponselnya kemudian mengecek nomor Davin.


Dara kembali mengembuskan napas panjang. Haruskah dia menerima laki-laki itu meskipun hatinya masih bimbang?


Setelah berpikir beberapa saat, Dara akhirnya memutuskan untuk menelepon Davin. Ia harus membicarakan semuanya dengan Davin. Semoga saja pria itu mau bekerja sama dengannya. Biar bagaimanapun, masalah ini menyangkut masa depan dirinya dan juga Davin.


"Halo, Sweetie, ada apa?" Suara Davin terdengar di ujung sana setelah panggilan telepon itu tersambung.


"Aku ingin bertemu denganmu. Apa kamu ada waktu?" Dara menunggu jawaban dari pria itu. Ini sudah lebih dari seminggu semenjak pria itu berpamitan padanya untuk melakukan perjalanan bisnis. Seharusnya dia sudah pulang bukan?


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang penting?" Suara pintu terbuka.

__ADS_1


Seorang pria masuk dengan senyum yang mengembang pada wajah tampannya. Tangan kanannya memegang ponsel yang menempel di telinganya.


"Apa kamu merindukan aku, Sweetie, sampai-sampai kamu ingin segera bertemu denganku?"


"Davin." Dara merasa terkejut melihat Davin tiba-tiba sudah berada di hadapannya.


Davin tersenyum saat melihat wanita yang sangat dirindukannya itu kini berada di hadapannya.


"Sweetie, kangen." Suara Davin terdengar manja. Pria itu kemudian mendekati Dara kemudian memeluknya.


"Kangen tapi tidak langsung datang. Padahal, janjinya cuma seminggu saja di sana." Wajah Dara terlihat cemberut membuat Davin tertawa.


"Davin, aku setuju menikah denganmu."


"A–apa?" Kedua bola mata Davin membola mendengar perkataan Dara.


"Aku ingin menikah denganmu seperti keinginan papa."


"Dara."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2