
"Kamu cemburu?" Dara menatap wajah pria di hadapannya yang sedang merajuk.
"Cemburu sama dia?"
"Hmm."
"Kau sangat lucu. Kenapa harus cemburu sama orang yang tidak memiliki hubungan apapun denganku?" Dara mendekati Davin. Menyuruh lelaki itu untuk duduk di sofa.
"Sebaiknya kamu duduk di sini. Aku mau benerin ranjangnya biar dia berbaring dengan nyaman. Biar bagaimanapun, dia sudah menyelamatkan aku." Dara tersenyum manis sambil mengusap rambut Davin. Wajah pria itu cemberut. Merasa tidak suka dengan perhatian Dara pada mantan suaminya itu.
Namun, apa yang dikatakan oleh Dara memang benar. Biar bagaimanapun, lelaki itu sudah menyelamatkan nyawa Dara. Davin juga buru-buru ke rumah sakit karena mengkhawatirkan Dara dan ingin berterima kasih karena Raditya sudah menyelamatkan Dara dari penjahat yang hampir saja menghilangkan nyawa wanita yang sangat dicintainya itu.
Mengingat penjahat itu, amarah dalam dada Davin kembali naik. Ia sungguh ingin menghabisi penjahat yang berniat mencelakai Dara.
Raditya menahan sesak di dadanya melihat pemandangan beberapa menit lalu saat pria yang dulu mengaku sebagai pemilik hotel itu terlihat begitu manja pada Dara.
Lelaki itu memaksakan senyumnya saat melihat Dara mendekatinya. Raditya terus menatap Dara lekat saat wanita itu membenarkan posisi tidurnya.
Dara membantunya berbaring dengan nyaman. Raditya sangat bahagia sekaligus sakit secara bersamaan. Bahagia karena dirinya merasakan sentuhan lembut Dara yang membantunya. Sakit karena dirinya tidak bisa memiliki Dara kembali. Apalagi, saat melihat betapa mesranya Dara dengan pria yang kini sedang memperhatikan mereka berdua dari posisi duduknya.
"Apa sekarang kamu sudah merasa nyaman?" Dara memperhatikan Raditya yang terlihat meringis kesakitan.
"Terima kasih sudah menyelamatkan aku," ucap Dara dengan tulus.
"Sudah menjadi tugasku. Bahkan bila aku mati karena menyelamatkan kamu, aku ikhlas." Raditya menatap wajah cantik Dara.
__ADS_1
Dara terdiam mendengar ucapan Raditya.
"Aku begitu bodoh karena telah melepaskan kamu. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku akan lebih memilih bersamamu. Merasakan lembut dan tulusnya cintamu padaku. Memelukmu seharian tanpa bosan." Raditya memejamkan mata ketika bayangan-bayangan masa lalunya bersama Dara kembali terlintas.
Raditya masih ingat bagaimana wanita di hadapannya memperlakukannya dengan mesra. Setiap hari mereka berpelukan. Tiada hari tanpa ungkapan kasih sayang. Saat itu, Raditya menganggap ungkapan cinta itu adalah kebiasaan.
Kebiasaannya dengan Dara yang pada dasarnya orangnya sangat lembut dan penuh cinta. Raditya tidak menyadari bahwa saat dirinya terbuai oleh Dara, pada saat itu jugalah sebenarnya Raditya mulai jatuh cinta pada Dara. Hanya saja, hatinya tidak menyadari karena setiap hari dia juga merasakan hal yang sama pada Kinara.
Dia jatuh cinta pada Dara tetapi, juga mencintai Kinara. Dua wanita yang kini sama-sama pergi darinya.
"Aku merindukanmu, Dara. Aku merindukan saat-saat kita masih bersama. Aku benar-benar merindukannya. Bisakah waktu itu bisa kita ulang kembali?" Raditya terisak sambil menatap Dara.
Hatinya terasa sakit. Melihat wanita yang dicintainya itu berada di hadapannya, sungguh membuat Raditya ingin sekali memeluk wanita itu.
"Penyesalan memang selalu datang terlambat, Radit. Kamu sangat tahu bagaimana perasaanku dulu padamu. Tapi kamu menyia-nyiakannya."
Raditya menangis mendengar ucapan mantan istrinya.
"Kini, perasaanku padamu tidak tersisa sedikitpun. Rasa sakit yang kau berikan, membunuh semua perasaanku padamu."
"Dara."
"Sweetie." Kedua laki-laki itu berucap bersamaan.
"Waktumu sudah habis," ucap Davin saat melihat Dara menengok ke arahnya. Laki-laki itu bangkit dari duduknya kemudian mendekati Dara dan Raditya.
__ADS_1
Davin mengulurkan tangannya pada Raditya. Menggenggam tangan Raditya yang tidak terdapat jarum infus.
"Terima kasih." Davin berucap dengan tulus.
"Terima kasih karena sudah menolong Dara," ucap Davin sambil tersenyum menatap ke arah Raditya.
Raditya tersenyum menanggapi ucapan Davin.
"Itu belum seberapa. Aku bahkan rela mati buat dia." Raditya menatap Davin yang masih tersenyum menatapnya.
"Seharusnya kata-kata itu kamu ucapkan dan buktikan saat dirimu masih bersama Dara," ucap Davin sambil melepaskan tangannya pada Raditya.
Raditya tersenyum getir. Apa yang dikatakan oleh Davin memang benar. Seharusnya dulu dirinya menunjukkan perasaannya terhadap Dara.
"Aku ingin membawa calon istriku pulang. Banyak pekerjaan yang menunggunya di kantor." Davin meraih tangan Dara.
"Semoga cepat sembuh." Dara dan Davin berucap bersamaan.
Dara menurut saat Davin menggenggam tangannya kemudian membawanya pergi dari hadapan Raditya.
Raditya menatap kepergian mantan istrinya itu dengan rasa sakit di hatinya. Apalagi, saat lelaki bernama Davin itu mengklaim kalau Dara adalah calon istrinya.
Lauren yang baru saja dikabari oleh Dara untuk segera datang ke ruangan Raditya sudah muncul di depan pintu saat Dara dan Davin baru saja akan keluar dari kamar.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1