
Dara menatap surat cerai di hadapannya dengan tersenyum getir. Wanita itu sungguh tidak menyangka kalau rumah tangganya berakhir dalam waktu empat tahun saja.
Kini, dirinya sudah berstatus menjadi janda. Janda muda kaya raya.
"Keputusanmu menyuruhku menggunakan pil pencegah kehamilan adalah keputusan yang sangat tepat, Raditya. Aku sungguh tidak bisa membayangkan seandainya ada anak di antara kita saat ini," ucap Dara lirih. Bibirnya tersenyum getir.
Sedih? Tentu saja sedih. Raditya adalah pria yang sudah ia pilih sebagai pendamping hidupnya sampai akhir hayat. Ia sungguh tidak menyangka kalau pernikahannya justru berakhir hanya dalam waktu beberapa tahun saja.
Rasa cintanya pada Raditya juga belum hilang, tetapi, bukan berarti Dara akan terpuruk dalam kesedihan. Lelaki seperti Raditya tidak pantas untuk ditangisi. Jadi, Dara tidak akan membuang waktunya untuk bersedih apalagi untuk menangisi lelaki itu.
Dara menarik napas panjang. Hari ini adalah awal yang baru bagi kehidupannya. Dara akan memulai babak baru dalam kehidupannya tanpa suami.
"Semangat, Dara! Kamu pasti bisa!" ucap Dara dalam hati. Perempuan itu menyemangati diri sendiri.
Sementara itu, tidak jauh dari tempatnya berada, Davin datang mendekati Dara dengan senyum mengembang pada wajah tampannya.
"Sweetie," ucap Davin sambil tersenyum. Sementara, Dara menatap Davin jengah. Namun, Davin tidak peduli.
"Orang akan salah paham jika kamu terus-terusan memanggilku dengan sebutan itu."
__ADS_1
"Nggak masalah buatku. Aku malah seneng." Davin nyengir kuda.
Dara berdecak kesal. Bibirnya mengerucut, merasa kesal mendengar ucapan sahabat baiknya itu.
"Kita harus merayakan hari ini." Davin kembali memasang senyum di wajah tampannya.
"Sepertinya kamu sangat senang melihatku menjadi janda."
"Tentu saja aku senang. Pria brengsek seperti dia tidak pantas untuk wanita sebaik dan setulus kamu, Ra. Kamu pantas bahagia." Davin mengusap rambut Dara.
"Kalau kamu ingin menangis, menangislah! Aku tahu bagaimana kamu sangat mencintai dia dari dulu. Semuanya memang tidak mudah. Tapi aku yakin, kamu wanita kuat. Aku janji, aku akan selalu ada buat kamu kapanpun kamu membutuhkan aku."
Apa yang dikatakan oleh Davin memang benar. Davin bahkan sangat tahu bagaimana dirinya begitu memuja Raditya sedari dulu. Jadi, tidak mudah buat dirinya melupakan pria itu begitu saja.
Semua kemarahan dan kebencian Dara tetap tidak bisa mengubah jika saat ini hatinya belum benar-benar bisa melupakan Raditya. Namun, dalam hatinya, ia tetap berniat untuk melupakan lelaki itu.
Cukup sudah selama ini dirinya menjadi orang bodoh karena terlalu mencintai Raditya. Kini, Dara tidak akan lagi membiarkan hatinya menyimpan semua kenangan tentang lelaki itu.
Rasa cinta, rasa rindu, dan perasaan apapun yang ia miliki untuk Raditya, akan ia hapus semuanya. Meskipun tidak mudah, tetapi Dara harus melupakannya. Apalagi, saat ini dirinya sudah bercerai dengan Raditya.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa. Masih banyak lelaki baik di luaran sana, Dara. Aku yakin, suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan cinta sejatimu."
"Tapi, dari sekian banyak lelaki di dunia ini yang akan kamu pilih, aku ingin kamu memilih aku. Kamu sangat tahu bukan, bagaimana aku mencintaimu?" lanjut Davin tidak tahu malu.
"Kamu mengatakan banyak pria yang akan menjadi pilihanku, tapi, ujung-ujungnya kamu merekomendasikan diri kamu sendiri dasar tidak tahu malu!" Dara tertawa pelan disela isak tangisnya.
Davin memang seperti itu lelaki itu selalu saja punya cara untuk membuat dirinya tertawa.
"Ini namanya usaha. Sambil menyelam minum susu." Davin tertawa mendengar ucapannya sendiri. Sementara Dara yang masih dalam pelukannya mencubit pinggang laki-laki itu.
"Aku serius, Sweetie, aku ingin kamu memberiku kesempatan. Kali ini, aku tidak akan lagi membiarkanmu menjadi milik orang lain. Sudah cukup aku melepaskan kamu untuk pria brengsek itu." Davin menghela napas panjang. Seandainya dulu dia tidak menyerah untuk mendapatkan Dara, perempuan itu pasti tidak akan menderita seperti sekarang.
"Aku adalah lelaki baik yang akan menjadi masa depanmu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk membuktikan perasaan cinta yang bertahun-tahun aku rasakan untukmu," lanjut Davin dengan serius.
Sementara itu, Dara hanya terdiam mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut Davin.
"Kamu benar-benar keterlaluan! Bisa-bisanya kamu merayu perempuan yang baru saja sah berstatus sebagai janda."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1