CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
CEMBURU


__ADS_3

Dara menatap lelaki yang terbaring lemah di hadapannya dengan pandangan remeh.


"Mencintai? Memangnya kamu tahu artinya mencintai?" Dara mencibir Raditya. Tidak ada rasa belas kasih sedikitpun meski Raditya adalah orang yang sudah menyelamatkannya dari bahaya.


"Maafkan aku, Dara. Maafkan aku karena aku telah melukaimu begitu dalam. Aku–"


"Meskipun ribuan kali kamu meminta maaf, tetap tidak akan merubah apapun. Kamu tidak bisa mengembalikan semuanya seperti semula. Bahkan dengan pengorbananmu saat ini, tetap tidak bisa membayar rasa sakit yang pernah aku rasakan!"


"Dara." Raditya menatap wanita cantik di hadapannya dengan air mata yang mengalir di pipinya. Dadanya terasa sesak. Hatinya serasa dicabik-cabik saat mendengar ucapan Dara.


Rasanya memang sangat sakit. Raditya mengakuinya karena dia pun merasakan sakit yang sama saat mengetahui pengkhianatan Kinara. Hatinya hancur saat mengetahui kalau Kinara ternyata tidak sebaik yang dia kira. Wanita itu berselingkuh dengan banyak pria.


"Seandainya saja bisa, aku ingin mengganti pengorbanan kamu yang sudah menyelamatkan aku itu dengan uang agar aku tidak berhutang budi padamu," ucap Dara dengan kejam membuat Raditya hampir saja tersedak.


Ia sungguh tidak menyangka kalau Dara akan mengucapkan kata-kata sekejam itu.


"Aku ikhlas melakukannya, Dara. Kamu tidak perlu merasa berhutang budi. Anggap saja, aku sedang berusaha memperbaiki diri di matamu." Raditya menatap Dara dengan rasa sakit di hatinya.


Wanita yang dulu menatapnya dengan penuh cinta dan kasih sayang itu kini menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian. Sungguh! Tatapan matanya saja membuat hatinya serasa ditikam dengan benda tajam berkali-kali.


"Memperbaiki diri?" Dara tertawa kecil.


"Bagus jika kamu sadar dan mau memperbaiki diri. Tapi bukan untukku. Aku tidak peduli kamu mau melakukan apapun."

__ADS_1


"Dara–"


"Terima kasih sudah menyelamatkan aku. Kamu tenang saja, Raditya. Aku sudah melaporkan kejadian itu pada polisi. Aku dan papamu baru saja memberikan kesaksian di kantor polisi. Kini, polisi sedang melakukan pengejaran pada pelaku yang sudah menembakmu," ucap Dara panjang lebar. Dara tidak tahu, jika ucapannya itu membuat Raditya sangat terkejut.


"Dara, kamu melaporkan kejadian penembakan itu ke polisi?" Raditya menatap wanita itu dengan cemas.


"Iya, kenapa? Papa kamu dan kakak kamu juga bersedia menjadi saksi. Mereka juga melihat pelakunya. Aku yakin, kamu juga pasti melihat wajah pelaku itu dengan jelas bukan?"


Raditya menggeleng pelan. Seandainya pelaku itu sampai tertangkap, maka kejahatan sang mama akan terungkap. Biar bagaimanapun, Mira adalah ibunya. Raditya tidak mungkin membiarkan ibunya masuk penjara.


Akan tetapi, perbuatan ibunya sungguh sangat keterlaluan. Seandainya saja dia tidak melihat kedua pelaku yang ingin menembak Dara, sudah pasti perempuan itulah yang saat ini sedang berada di ranjang pesakitan.


Saat itu terjadi, Raditya pasti akan sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan Dara dan ia juga tidak akan memaafkan Mira karena telah melukai Dara untuk kesekian kalinya.


"Dara–"


"Aku sudah mengetahui semuanya, Radit. Aku tidak menyangka kalau ibumu mampu melakukan hal yang begitu kejam. Pantas saja dia begitu buruk memperlakukan aku. Ternyata, bukan aku yang melakukan kesalahan, melainkan ibumu yang sengaja mencari-cari kesalahan yang bahkan tidak pernah aku lakukan sama sekali." Dara berucap panjang lebar tanpa memedulikan Raditya yang tampak gelisah.


"Dara, aku minta maaf atas perbuatan mama padamu di masa lalu," ucap Raditya dengan tidak enak hati.


"Hanya di masa lalu? Kamu tidak sekalian meminta maaf atas kesalahan ibumu yang telah mempermalukan aku beberapa hari terakhir ini?"


"Mama menemui kamu?" Raditya tampak kaget.

__ADS_1


"Ibumu bukan hanya mempermalukan aku di depan kolegaku saat di restoran, tetapi, ibumu juga datang ke kantorku. Dia mempermalukan aku di depan seluruh pegawaiku."


"Apa?" Raditya sungguh terkejut mendengar ucapan Dara tentang Mira, ibunya. Pria itu terlihat meringis kesakitan. Luka di punggungnya terasa nyeri. Dara yang melihatnya merasa tidak tega.


"Demi kemanusiaan, Dara," batin Dara meyakinkan diri.


Wanita itu mendekati Raditya yang meringis sambil mendesis kesakitan.


"Kamu tidak boleh banyak bergerak. Dokter baru beberapa jam yang lalu mengeluarkan peluru di punggungmu. Jangan sampai jahitannya terlepas karena kau terlalu banyak bergerak," ucap Dara sambil membantu Raditya memperbaiki posisi tidurnya.


"Terima kasih, Dara. Kamu–"


"Sweetie." Sebuah suara terdengar begitu nyaring membuat kedua orang itu langsung menoleh ke arah datangnya suara.


Dara tampak terkejut melihat Davin yang tiba-tiba datang. Namun, detik berikutnya, Dara tersenyum manis menatap pria yang kini mendekatinya.


"Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Bukankah kamu sedang ada perjalanan bisnis di luar?" Dara menatap Davin yang tersenyum tampan.


"Sweetie, apa yang kamu lakukan padanya? Apa kamu sengaja ingin membuatku cemburu?" Davin mendekati Dara, menatap wanita itu dengan pandangan cemberut. Pria itu bahkan tidak memedulikan pertanyaan Dara karena merasa cemburu melihat Dara begitu dekat dengan Raditya.


"Kamu cemburu?"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2