CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
IZINKAN AKU MENIKAHIMU


__ADS_3

Davin menggenggam erat tangan Dara yang berjalan beriringan di sampingnya. Mereka keluar dari kamar rawat inap Raditya setelah berpamitan dengan Lauren dan Pratama yang baru tiba.


Lelaki itu baru saja pulang dari toko. Meskipun dirinya meninggalkan Mira, tetapi, selagi toko itu belum ada yang mengurusnya, Pratama yang tetap memegang kendali. Seandainya saja Raditya tidak mengalami insiden penembakan itu, Pratama sudah pasti akan menyuruh Raditya untuk mengurus toko-toko milik Mira.


Meskipun sebenarnya Pratama yang mengembangkan toko hingga akhirnya mempunyai beberapa cabang di ibukota, tetapi, Pratama tetap menganggap kalau toko elektronik itu adalah milik Mira. Warisan dari ayah mertuanya.


Pratama mengatakan, kalau saat ini ia sudah mendapatkan kabar dari kepolisian tentang pelaku penembakan itu. Polisi sudah menangkap pelaku dan saat ini kedua pelaku itu sedang diinterogasi di kantor polisi.


Mendengar kabar itu, Dara menarik napas lega. Hanya saja, ia ikut prihatin dengan keluarga Raditya. Setelah ini, nama Mira pasti akan terseret seandainya benar kalau dia adalah dalang dari aksi penembakan itu.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?" Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil Davin. Asisten Davin baru saja membawa mobil Dara ke kantor agar wanita itu bisa ikut dengannya.


"Aku hanya sedang membayangkan seandainya benar mantan ibu mertuaku terlibat dalam insiden penembakan itu." Dara mengembuskan napas panjang.


"Kenapa? Jika memang benar, berarti dia harus menanggung segala resikonya bukan?" Davin yang sedikit tahu dari cerita Dara tentang mantan mertuanya itu.

__ADS_1


"Kau benar. Aku hanya tidak bisa membayangkan perasaan papa Pratama dan anak-anaknya."


"Termasuk mantan suamimu itu?" Davin berdecak kesal. Ia masih merasa cemburu melihat keakraban Dara dengan pria itu.


Dara tersenyum melihat kekesalan Davin. Ia tahu, Davin masih kesal melihat sikapnya yang tadi begitu dekat dengan Raditya. Lagipula, kenapa dia harus cemburu? Bukankah di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa?


"Kenapa kamu terlihat kesal?"


"Sweetie."


Dara tertawa melihat wajah Davin yang semakin cemberut. "Dulu, perasaan kamu tidak apa-apa saat aku dekat dengan pria manapun. Kenapa sekarang kamu tidak suka dekat-dekat dengan pria lain?"


"Bukankah kamu bilang, sudah dari dulu kamu mencintaiku? Kenapa dulu kamu terlihat biasa dan tidak cemburu?" Dara seolah sedang memancing Davin. Wanita itu sangat penasaran dengan Davin yang katanya sudah dari dulu memendam rasa padanya.


"Dulu aku menahan semuanya, Sweetie. Aku tidak mau kamu merasa terganggu. Apalagi, dulu kamu terlihat begitu mencintainya. Aku tidak mungkin menghancurkan kebahagiaanmu. Aku ingin tetap menjadi seseorang yang selalu menjagamu meskipun kamu bukanlah milikku." Davin melirik ke arah Dara yang sedang menatapnya.

__ADS_1


Dara menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak terbaca.


"Setelah melihat apa yang terjadi pada pernikahanmu, aku berjanji pada diri sendiri kalau aku tidak akan lagi mengalah. Aku ingin memperjuangkan cintaku padamu, Sweetie." Davin mengatakan perasaannya pada Dara, tetapi, pandangan lelaki itu tetap fokus pada jalanan di depannya.


"Aku tidak akan membiarkanmu bersama orang lain lagi, Sweetie. Beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu."


"Davin."


"Izinkan aku menikahimu, Dara."


"Davin." Dara menatap ke arah Davin yang melirik sekilas ke arahnya.


"Aku janji, aku akan berusaha keras agar aku layak bersanding denganmu," lanjut Davin tanpa tahu bagaimana reaksi Dara yang saat ini sedang mencibirnya.


"Jadi, begini caramu melamar orang yang bertahun-tahun kamu cintai?"

__ADS_1


BERSAMBUNG



__ADS_2