
Dara menghela napas panjang. Setelah kepergian sang papa, Dara tidak bisa berpikir dengan jernih. Seandainya saja tidak ada meeting penting pagi itu, Dara pasti lebih memilih bersantai dalam ruangannya meskipun pekerjaannya menumpuk.
Dara sedang dihadapkan ke dalam dua pilihan. Pilihan yang sama-sama menentukan hidupnya di masa depan.
Papanya menyuruh Dara menikah dengan Davin. Lelaki sempurna yang tidak usah diragukan lagi kemampuannya. Davin memiliki cinta yang besar untuknya. Dia juga tipe lelaki yang setia. Lelaki itu juga mempunyai kekayaan yang tidak akan pernah habis tujuh turunan.
Kekayaan yang dimiliki pria itu sama besar bahkan mungkin lebih dari kekayaan yang dimilikinya. Davin memenuhi semua kriteria untuk menjadi suami dan menantu idaman.
Dara mengembuskan napas panjang. Dirinya tidak mungkin menolak keinginan kedua orang tuanya juga keinginan Davin yang berjanji akan terus menunggunya sampai ia siap membuka hati untuk pria itu.
Dara memang tidak menjanjikan apapun pada Davin. Namun, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Dara tidak ingin menolak pria itu. Dara hanya butuh waktu. Waktu untuk meyakinkan diri jika ia akan baik-baik saja setelah menikah dengan Davin.
Kegagalan pernikahannya dengan Raditya meninggalkan trauma di dalam hatinya. Dulu, Raditya juga bersikap sangat baik padanya. Tidak ada cela sedikitpun pada diri pria itu. Perhatiannya, kasih sayangnya. Namun, siapa sangka kalau dibalik itu semua, Raditya justru menyimpan kebohongan besar yang membuatnya hancur seketika.
Dara bagaikan dilempar dari ketinggian. Setelah dirinya melayang karena pujian dan perhatian dari Raditya, tiba-tiba dirinya dibanding dengan keras saat mengetahui semua kebohongan pria itu.
"Aku hanya perlu waktu sedikit lagi untuk menyakinkan hatiku, Pa. Sungguh! Rasanya tidak mudah bagiku. Perceraianku dengan Raditya bahkan belum ada satu tahun, Pa," ucap Dara sebelum kepergian Haris, papanya.
"Lagipula, Davin juga setuju untuk memberikan aku waktu."
"Baiklah! Kalau kalian berdua memang sudah membicarakannya, papa akan menurut dan tidak akan membahasnya lagi denganmu. Papa hanya menginginkan yang terbaik untukmu, Dara."
"Aku tahu, Pa."
Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan Dara. Sosok Lisa muncul dari pintu yang terbuka setelah Dara mengizinkannya masuk.
"Bu Dara ditunggu di ruang meeting. Sepuluh menit lagi akan segera dimulai."
__ADS_1
***
"Kak Radit masuk rumah sakit." Monika menatap ibunya dengan tatapan tajam penuh amarah.
Sementara Mira sangat terkejut. Wanita itu menatap putrinya dengan kedua mata membola.
"Apa sekarang Mama merasa puas? Mama ingin melukai Kak Eren, tapi justru putra kesayangan Mama yang tertembak."
Kedua mata Mira kembali melotot. "Tidak mungkin." Mira menggeleng pelan. Merasa tidak percaya dengan ucapan putrinya.
Semenjak menyuruh pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Lauren, Mira kemudian memanjakan dirinya di salon dan berbelanja. Wanita itu sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan melenyapkan Lauren dari kehidupan Pratama. Dengan begitu, Pratama tidak akan punya pilihan lain selain kembali padanya.
Mira bahkan dengan sengaja tidak mengaktifkan ponselnya karena tidak ingin diganggu kesenangannya. Wanita itu tidak tahu kalau kedua orang suruhannya meneleponnya ratusan kali hanya untuk memberitahukan padanya kalau mereka telah gagal untuk menghabisi Lauren.
Mereka salah sasaran karena menembak perempuan yang kebetulan memakai baju yang sama dengan Lauren. Mereka mengira kalau Dara adalah Lauren karena model rambut dan warna baju yang dikenakan oleh Dara sama dengan baju yang dikenakan oleh Lauren saat kedua penjahat itu membuntutinya.
Apalagi, pesan yang mengatakan kalau saat ini mereka berada di kantor polisi.
Mereka berdua tertangkap oleh polisi saat sedang melarikan diri setelah insiden penembakan itu.
Mira terlihat cemas sambil terus menggelengkan kepala. Jantungnya berdetak cepat. Rasa khawatir menyelimuti hatinya. Apalagi, saat mengingat ucapan Monika yang mengatakan kalau Raditya tertembak.
"Aku tidak mengira kalau aku akan mempunyai seorang ibu pembunuh."
"Diam, Monik!" Mira membentak Monika.
"Mama bukan pembunuh! Lagipula, kenapa Raditya bisa ada di sana? Dasar anak bodoh!" Mira kembali berteriak membuat Monika merasa sakit hati.
__ADS_1
Dengan jawaban Mira yang seperti itu, sudah dipastikan kalau dugaannya tentang sang mama memang benar. Wanita yang telah melahirkannya itu adalah dalang dari insiden penembakan yang terjadi pada Dara dan Raditya.
"Kak Radit datang ke sana untuk melindungi Kak Lauren. Dia takut kalau Mama berbuat nekad. Ternyata, dugaan Kak Raditya benar. Tadinya, aku mengira kalau Mama hanya menggertak saja. Tapi, siapa sangka Mama benar-benar ingin menghabisi putri papa. Mama benar-benar wanita kejam!" Monika menatap sang mama dengan tatapan kecewa.
Monika memang mengetahui bagaimana tabiat sang mama. Namun, dia tidak pernah mengira kalau Mira bisa melakukan apa saja termasuk melenyapkan nyawa seseorang.
"Tidak! Mama bukan pembunuh! Lagipula, mama melakukan semua ini untuk kalian. Untuk kamu dan Raditya. Mama tidak ingin kalian kehilangan papa kalian hanya karena wanita sialan itu!"
"Aku dan Kak Raditya tidak akan kehilangan papa kalau bukan karena Mama. Papa pergi karena sudah merasa muak dengan sikap Mama yang keterlaluan bukan karena Kak Eren!"
"Diam kamu, Monik–" Suara Mira terhenti saat tiba-tiba sang asisten rumah tangganya tergesa-gesa masuk ke ruang keluarga dengan wajah panik.
"Ada apa, Bi? Kenapa Bibi terburu-buru?" Mira bertanya dengan marah.
"I–itu, Bu. Di luar ada tamu. Bapak-bapak pakai seragam polisi."
"Apa?" Mira sangat terkejut. Seketika dirinya merasa panik dan ketakutan.
"Tidak! Aku tidak mau di penjara," batin Mira. Wanita itu kemudian dengan panik berlari. Mira berniat kabur lewat pintu samping. Namun sayang, baru beberapa langkah dua km ke berseragam polisi sudah berada di hadapannya.
"Dengan Ibu Mira?" Mira tergagap.
"Anda ditangkap atas dugaan pembunuhan berencana."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1