
Mendengar ucapan Dara, Davin dengan gemas menciumi wajah cantik Dara.
"Kau menantangku?" Davin menatap kedua mata Dara yang kini menatapnya sambil tertawa geli karena Davin bukan hanya menciumnya di bagian wajah tetapi juga bagian telinga dan lehernya.
"Tidak!"
"Kau bahkan menyebutku perjaka tua!"
Dara terbahak mendengar ucapan Davin. Wanita itu semakin tertawa saat melihat raut wajah Davin yang terlihat imut.
"Kau benar-benar membuatku kesal, Sweetie. Jangan salahkan aku kalau aku membuatmu tidak bisa berjalan besok." Davin mengecup bibir istrinya sekilas.
"Aku hanya perlu bukti, bukan ancaman." Dara masih tersenyum melihat kekesalan Davin.
Dara sangat tahu, kalau saat ini lelaki itu sedang gugup. Davin tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain dirinya. Lelaki itu menutup mata dan hatinya untuk semua wanita.
"Davin, apa ini benar-benar yang pertama untukmu?"
"Kamu meragukanku, Sweetie?"
Dara menggeleng pelan. Jemarinya mengusap pelan wajah tampan Davin.
"Maafkan aku karena aku bukan yang pertama buatmu."
"Aku tidak peduli."
"Kamu tidak merasa rugi?" Dara memindai wajah tampan Davin yang kini hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya.
"Kenapa aku harus merasa rugi?"
"Karena kamu harus melepaskan keperjakaanmu pada seorang janda."
"Sweetie."
__ADS_1
Davin membungkam mulut Dara yang sedari tadi tidak berhenti bicara.
"Aku akan melakukannya."
"Melakukan apa?
"Melepas perjaka."
Davin tersenyum, kemudian tanpa basa-basi lagi, lelaki itu melakukan sesuatu yang sedari tadi tersimpan di kepalanya.
Hasrat lelakinya semakin naik saat Dara membalas ciumannya. Davin semakin bersemangat. Tangannya bergerak liar tanpa bisa dikendalikan.
Davin menatap Dara dengan napas memburu kemudian melanjutkan aksinya saat melihat Dara mengangguk, memberikan izin padanya untuk melakukannya.
Wanita itu bahkan membantu mempermudah aksi Davin. Mereka berdua kemudian tenggelam dalam lautan nikmat.
Hasrat Davin semakin menggelora, begitupun Dara yang sudah mulai terbuai dengan gerakan liar tangan Davin. Perempuan itu menggeliat saat Davin mulai menggerakkan indera perasanya untuk menyapu setiap jengkal tubuhnya.
Davin ambruk di sebelah Dara dengan napas memburu. Begitupun Dara yang terengah dengan buliran keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
Mereka sama-sama tersenyum puas.
"Terima kasih, Sayang."
Dara tidak menjawab. Wanita itu menatap Davin yang kini juga sedang menatapnya.
"Davin, berjanjilah padaku kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan aku. Jika suatu saat kamu bosan padaku, kamu bisa mengatakan padaku dan mengembalikan aku pada orang tuaku," ucap Dara di sela napasnya yang masih memburu.
"Kamu ini bicara apa? Kamu pikir, aku akan meninggalkanmu setelah aku menunggu waktu bertahun-tahun untuk mendapatkanmu?" Davin menarik tubuh Dara kemudian mendekapnya erat.
"Aku sangat mencintaimu, Dara. Aku tahu, kamu belum bisa melupakan masa lalumu yang penuh luka. Tapi aku mohon, jangan samakan aku dengan dia."
"Maafkan aku." Dara membalas pelukan Davin dengan erat. Jujur saja, Dara memang masih trauma. Perbuatan Raditya padanya, membuat Dara kehilangan kepercayaan diri.
__ADS_1
"Kamu tidak salah. Aku yang seharusnya minta maaf. Harusnya aku menahan diri sampai kamu siap." Davin berucap dengan rasa bersalah.
"Kenapa kamu minta maaf? Apa kamu menyesal karena aku–" Davin kembali membungkam mulut Dara dengan bibirnya. Ia tidak mau jika Dara kembali mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Dara yang awalnya memberontak akhirnya pasrah dengan kelakuan Davin yang membuat hasratnya kembali naik.
Davin kembali melakukan tugasnya sebagai seorang suami, memberikan nafkah batin.
***
"Raditya."
Langkah Raditya terhenti saat seseorang memanggil namanya. Pria itu mengerutkan kening saat melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Anda memanggil saya?" tanya Raditya dengan sopan. Di hadapannya, saat ini terlihat laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahunan yang masih terlihat gagah. Penampilan pria itu seperti sangat rapi.
"Perkenalkan, saya Galang. Apa kamu Raditya, putra dari Mira yang saat ini sedang terjerat kasus pidana?" Galang menatap wajah Raditya. Setelah menemui Mira saat itu, Galang akhirnya menyelidiki dan mencari tahu tentang putranya.
"Anda mengenal ibuku?" Raditya masih menatap lelaki di hadapannya.
"Ya. Aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Apa kamu tahu, aku dan ibumu bahkan mempunyai seorang putra." Galang menatap Raditya yang tampak terkejut.
"Se–seorang putra?" Kedua mata Raditya membola.
"Apa kau berselingkuh dengan ibuku?" Suara Raditya naik satu oktaf membuat Galang terkejut.
Lelaki itu menyesali ucapannya yang terlalu jujur mengakui kalau dirinya mempunyai anak dengan Mira.
"Tidak! Bukan aku yang berselingkuh. Tapi ibumulah yang berselingkuh. Dia bahkan tega menikah dengan orang lain saat dia mengandung anakku."
"Apa?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1