
Raditya terdiam menatap Pratama. Sementara Mira hanya bisa menangis. Semua perbuatannya di masa lalu sudah dibongkar habis oleh Pratama di depan putranya.
"Selama ini, aku pikir Mama hanya jahat karena tidak menyukai Dara. Tapi ternyata, Mama benar-benar penjahat." Suara seseorang di balik pintu membuat mereka semua menoleh.
Di sana, berdiri, Monika yang sedang mendapat sang mama dengan tatapan marah. Ia sungguh tidak menyangka jika wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu benar-benar jahat.
Wanita yang dipanggil mama olehnya itu ternyata telah membunuh ibunya Lauren. Kakak tiri yang sudah lama dikenalnya. Monika dan Lauren bahkan sangat akrab tanpa sepengetahuan Mira.
Hari ini, Monika sudah memiliki janji dengan Lauren untuk bertemu di toko milik papanya. Tidak disangka, saat dirinya baru saja sampai, gadis cantik itu justru mendengar semua cerita tentang kejahatan sang mama di masa lalu.
"Apa yang dikatakan oleh papa kamu adalah kebohongan. Mama tidak pernah membunuh siapapun! Saat itu dia jatuh karena kecelakaan bukan karena mama yang mendorongnya. Papa kamu bohong, Sayang." Mira mendekati Monika setelah terlebih dahulu melototi Pratama karena telah membongkar rahasianya.
Pratama tertawa lirih mendengar ucapan istrinya.
"Kenapa kamu tidak sadar juga, Mira? Sampai kapan kamu akan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kamu perbuat?" Pratama menatap Mira dengan jejak kesedihan yang kentara.
Lauren yang melihat sang papa tidak berdaya memeluk pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Sudahlah, Pa. Jangan dibahas lagi. Eren tidak apa-apa. Sungguh!"
Pratama menangis mendengar ucapan putrinya. Gadis cantik itu sudah terlihat babak belur dengan rambut acak-acakan akibat ulah Mira yang menyerangnya, tetapi, dia mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
"Papa tidak terima kamu diperlakukan seperti ini, Nak. Kamu bahkan tidak melakukan kesalahan apapun padanya. Maafkan papa karena papa tidak bisa mendidik istri papa dengan baik."
"Papa." Lauren mengepalkan tangannya erat saat mendengar ucapan papanya. Ia sungguh tidak tahan melihat penderitaan Pratama. Sudah cukup selama ini sang papa mengalah pada nenek lampir itu. Lauren tidak akan membiarkan pria yang menjadi cinta pertamanya itu direndahkan terus menerus oleh Mira.
"Seandainya Papa sudah tidak tahan lagi hidup bersama dia, kenapa Papa tidak meninggalkan dia saja? Eren akan membawa Papa tinggal bersama Eren. Gaji Eren sangat cukup untuk membiayai kehidupan kita berdua. Papa berhak bahagia, Pa."
"Apa maksud ucapanmu wanita sialan?" teriak Mira. Wanita itu tidak terima dengan ucapan Lauren yang menyuruh Pratama meninggalkannya.
Lauren tersenyum tipis melihat kemarahan Mira. Wanita paruh baya itu sangat mencintai papanya tetapi dia tidak pernah memperlakukan sang papa dengan baik. Selama ini Mira begitu sombong karena merasa jika Pratama tidak akan pernah sesukses sekarang seandainya kedua orang tuanya tidak memberikan Pratama warisan.
Beberapa toko elektronik yang saat ini berkembang pesat bahkan mempunyai banyak cabang di beberapa tempat adalah warisan dari kedua orang tuanya. Pratama yang dulu adalah seorang pegawai toko mendapatkan warisan dari kedua orang tuanya karena Pratama mau menikahi Mira yang saat itu tengah berbadan dua.
"Papa kamu yang suka kamu anggap pahlawan itu tidak akan ada apa-apanya jika saja kedua orang tuaku tidak memberinya warisan! Jika saja saat itu papa kamu tidak menikahi aku, sampai sekarang dia pasti masih menjadi pegawai biasa di toko milik kedua orang tuaku!" teriak Mira dengan jumawa.
__ADS_1
Pratama dan Raditya menatap Mira dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa wanita itu mengatakan hal semacam itu pada sang papa yang sudah banyak berkorban untuknya?
Pratama bahkan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sang mama. Apalagi, dengan gaya hidup mamanya yang sok kaya. Apa wanita itu benar-benar tidak sadar jika kemewahan yang dia miliki sekarang adalah karena kerja keras suaminya?
"Mama benar-benar keterlaluan!" Monika mendekati Pratama dan memeluknya. Sementara itu, Raditya masih menatap Mira dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kenapa dia harus lahir dari rahim wanita jahat seperti Mira?
"Melihat kamu seperti ini membuat saya semakin mantap untuk meninggalkan kamu, Mira. Mulai hari ini, aku kembalikan semua yang sudah pernah kedua orang tua kamu berikan sama saya berikut beberapa toko cabang sebagai bunganya."
"Papa." Raditya dan Monika sangat terkejut mendengar ucapan sang papa.
"Mulai besok, saya akan tinggal bersama Lauren." Pratama menatap putrinya yang menganggukkan kepala.
"Satu hal yang harus kamu tahu, Mira. Dari semenjak Lauren lahir hingga dewasa sampai sekarang, Lauren tidak pernah memakai sepeserpun uang dari hasil toko milik ayahmu.
Saya, sebagai ayahnya juga tidak pernah memberinya nafkah uang dari toko. Saya dan Nadia, sudah menyiapkan semua kebutuhan Lauren semenjak dia masih di dalam kandungan. Biaya hidup Lauren dari semenjak dia lahir, murni menggunakan uang tabunganku dan Nadia. Kamu tidak lupa siapa Nadia, bukan? Di masa lalu, kehidupan Nadia bahkan lebih tinggi dari status sosial kamu."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....