
Dara menatap pria yang dulu pernah dicintainya itu dengan tatapan dingin.
"Aku tidak akan pernah merubah keputusanku, Raditya." Saat ini mereka sudah berada di pengadilan agama. Ini adalah sidang pertama mereka. Namun, sepertinya Raditya masih belum bisa diajak kerjasama. Terbukti, sidang belum dimulai, lelaki itu sudah mencegat Dara dan kembali memohon pada wanita itu untuk membatalkan gugatan cerainya.
"Sayang, aku mohon, aku tidak ingin bercerai denganmu. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin rumah tangga kita hancur, Dara." Raditya terlihat memelas. Sekuat tenaga ia ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Dara. Meskipun dirinya sadar kalau saat ini jelas-jelas sudah terlambat.
Dara mencibir mendengar ucapan Raditya.
"Hancur? Rumah tangga kita sudah hancur saat kau memutuskan menikahi perempuan itu diam-diam, Radit. Seandainya aku tahu pernikahanmu dari dulu, sudah sejak dulu aku menggugat cerai dirimu."
"Sayang–"
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu!" Dara berteriak. Ia sungguh muak mendengar sebutan yang juga disematkan pada wanita lain yang dinikahinya secara diam-diam di belakangnya.
Mengingat itu, kebencian Dara semakin dalam pada pria yang juga sangat dicintainya itu.
"Dara, Aku tahu aku salah. Tapi, aku mohon padamu, berikan aku kesempatan sekali lagi untuk menebus semua kesalahanku, Dara. Aku janji, aku tidak akan mengkhianatimu lagi." Raditya menangkup kedua tangannya. Tidak peduli dengan semua orang yang saat ini sedang memperhatikannya. Yang terpenting buat Raditya saat ini adalah, Dara membatalkan gugatan cerainya.
__ADS_1
Akan tetapi, sepertinya usaha Raditya sia-sia. Wanita di hadapannya itu hanya menatapnya datar. Tanpa ada sedikitpun peduli padanya.
Rasanya sangat sakit melihat istri yang dulu begitu mencintainya kini tampak tidak memedulikannya sama sekali. Sudut hati Raditya berdenyut nyeri. Ia sungguh tidak mengira kalau hari ini akan tiba.
Dulu, dirinya memang pernah berpikir akan menceraikan Dara setelah menikahi Kinara. Namun, saat melihat semua kebaikan Dara dan cintanya yang begitu besar, Raditya tidak punya alasan untuk menceraikan wanita sebaik Dara.
Kini, bukan dirinya yang ingin menceraikan Dara, tetapi, Dara sendirilah yang akan menceraikan dirinya.
"Dara, aku mohon–"
"Seharusnya tadi kamu tidak datang, biar urusannya cepat selesai." tukas Dara. Ia berharap urusan perceraiannya dengan Raditya bisa selesai dengan cepat tanpa ada hambatan.
"Tapi, Dara. Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku ingin tetap bersamamu."
"Jangan mimpi! Setelah kau membohongiku selama bertahun-tahun, jangan harap aku akan luluh dan kembali padamu!"
"Sayang–"
__ADS_1
"Diam!" Raditya langsung terdiam mendengar bentakan Dara. Wanita itu menghunuskan tatapan tajam pertanda kalau saat ini dirinya sudah diambang batas kesabaran.
Dara sungguh menyesal karena dulu pernah jatuh cinta pada lelaki itu.
"Dengar, Raditya! Sampai kapanpun, aku tidak akan merubah keputusanku. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar, Raditya. Aku bisa memaafkan semua kesalahanmu, tetapi, tidak untuk sebuah pengkhianatan!"
"Dara."
"Jika kamu mengira aku masih seperti Dara yang bodoh seperti dulu, kamu salah, Raditya. Karena Dara yang dulu sudah tidak ada lagi. Dia sudah mati!"
"Dara." Raditya menggeleng pelan. Lelaki itu menatap wanita cantik yang berada di hadapannya.
Rasa penyesalan menyeruak di dalam hatinya. Raditya menyesal karena telah mengkhianati istri sebaik Dara. Cintanya pada Kinara membuatnya lupa kalau dirinya mempunyai seorang istri yang selalu setia menunggunya.
Kini, semuanya sudah berakhir karena kebodohannya sendiri. Begitu bodohnya ia karena telah meninggalkan perempuan sebaik Dara demi Kinara.
Membuang berlian demi batu kerikil di jalanan. Kalimat itu adalah kalimat yang pantas untuk Raditya.
__ADS_1
"Setelah ini, kamu bukan hanya akan kehilangan diriku, tapi kamu juga akan kehilangan semua yang kamu miliki, Raditya. Jadi, bersiaplah!"
BERSAMBUNG ....