CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
MALAM PERTAMA


__ADS_3

Davin memeluk erat tubuh Dara. Saat ini, mereka sudah berada dalam kamar mereka. Beberapa saat yang lalu, saat Davin baru saja selesai mengeringkan rambut Dara, asisten rumah tangga Dara mengetuk pintu.


Dia memberitahukan pada Dara dan Davin jika di bawah ada tamu dari keluarga besar Dara yang datang dan ingin bertemu dengan sepasang pengantin baru itu.


Alhasil, Dara dan Davin terpaksa menemani mereka hingga mereka pulang setelah makan malam. Untung saja akad nikah mereka diadakan pagi hari. Coba kalau diadakan malam hari, pasti sampai saat ini para tamu itu belum pulang padahal mereka berdua sudah lelah.


Bukan lelah karena persiapan pernikahan mereka saja, tetapi, juga lelah harus terburu-buru mengerjakan pekerjaan mereka sebelum akad nikah dilaksanakan.


"Sweetie."


"Hmm."


Dara mendongak menatap Davin yang kini sedang menatapnya. Dalam hati, Dara tahu, kalau saat ini, pria itu sedang menahan sesuatu, tetapi, tidak berani mengatakannya.


"Ada apa?" Kedua manik mata bulat itu menatap Davin membuat jantung Davin berdetak semakin kencang.


"Ti–tidak. Tidak apa-apa. Tidurlah!" Davin meletakkan kepala istrinya pada lengan kekarnya kemudian mendekap tubuh wanita yang sangat dicintainya itu.


Rasanya seperti mimpi. Davin benar-benar tidak menyangka kalau saat ini Dara sudah menjadi istrinya. Memeluk Dara seperti ini adalah impiannya setiap hari.


Kini, ia benar-benar tidak menyangka kalau mimpinya menjadi nyata. Dara berada dalam dekapannya, dan ini nyata bukan mimpi.


"Sweetie, aku minta maaf karena kedua orang tua kita, kamu terpaksa menikah denganku." Suara Davin kembali membuat Dara mendongak.


"Apa yang kamu katakan? Kamu lupa kalau kita juga sudah sepakat menyetujui pernikahan ini? Lagipula, aku tidak mau kehilangan pelukanmu. Rasanya sangat nyaman." Dara kembali menyelusupkan kepalanya pada dada bidang Davin membuat lelaki itu merasa berbunga-bunga.


"Apa kamu sungguh merasa nyaman dalam pelukanku?"


"Hmm."


"Hanya dalam pelukan saja?" Davin mencoba memancing.


"Aku merasa nyaman saat berada dekat denganmu. Meskipun kamu tidak memelukku," sahut Dara. Wanita itu masih menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Davin.


"Kalau seperti ini." Davin melepaskan pelukan Dara kemudian melabuhkan ciuman yang cukup lama pada kening Dara.

__ADS_1


"Apa kamu juga merasa nyaman?" Davin menatap manik mata Dara yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Davin, apa kamu menginginkannya?" Dara memindai wajah tampan Davin yang terlihat gugup.


"Sweetie–"


"Kau boleh melakukannya kalau memang menginginkannya.


"Sweetie–"


"Davin. Aku tahu kamu meragukan aku karena aku mengatakan kalau aku menikah denganmu karena keinginan papa. Tapi apa kamu akan percaya jika aku mengatakan apa alasanku yang sebenarnya?"


"Apa maksudmu, Sweetie?"


"Davin aku ...." Dara menghentikan ucapannya.


"Kenapa? Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?"


"Sebenarnya aku setuju menikah denganmu bukan karena keinginan papa." Dara menatap kedua mata Davin. Tangan lembutnya membelai wajah tampan Davin.


Davin menatap Dara. Lelaki itu dengan sabar menunggu kalimat yang keluar dari mulut Dara meskipun dengan hati deg-degan.


"Aku menikah denganmu karena aku takut kehilanganmu. Aku tahu, mungkin ini terlalu cepat. Tapi, aku sudah merasa nyaman denganmu dan aku tidak mau kehilangan itu. Aku takut kamu meninggalkan aku saat aku menolak menikah denganmu."


"Sweetie."


"Aku ... apa aku sudah jatuh cinta padamu? Kenapa aku begitu takut kamu pergi meninggalkan aku?"


Davin tersenyum bahagia saat mendengar ucapan Dara. Kekhawatirannya langsung sirna saat melihat wajah polos istrinya yang menanyakan apa dia jatuh cinta padanya.


"Kau ini bodoh apa bagaimana? Kenapa perasaan sendiri saja sampai tidak tahu?" Davin menciumi wajah Dara dengan gemas.


"Davin! Kenapa kau menyebutku bodoh?"


"Karena kau memang bodoh!"

__ADS_1


"Davin!"


Davin terkekeh melihat kekesalan Dara.


"Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada wanita polos seperti ini? Perasaan sendiri saja tidak tahu. Pantas saja kamu tidak peka sama sekali terhadapku yang sudah dari semenjak lama memendam perasaan padamu." Davin mengusap bibir Dara kemudian mengecupnya sekilas.


"Apa menurutmu, aku benar-benar jatuh cinta padamu? Aku bahkan belum setahun bercerai dengannya. Kenapa aku begitu cepat jatuh cinta padamu?" Bibir Dara mengerucut membuat Davin tidak tahan untuk ******* benda kenyal berwarna merah muda itu.


"Sweetie."


"Apa aku boleh melakukannya?"


"Hmm." Dara memejamkan mata merasakan sensasi nikmat yang menjalar pada tubuhnya saat indera perasa Davin bergerak lembut menyapu daun telinganya.


"Memangnya kamu mau melakukan apa?"


"Melakukan sesuatu yang biasa sepasang pengantin lakukan pada malam pertama," bisik Davin. Tangannya mulai bergerak merayu tubuh Dara.


Davin adalah lelaki dewasa. Bohong jika dirinya tidak terbuai hasrat. Apalagi, wanita di hadapannya itu kini sudah sah menjadi istrinya.


"Apa kau yakin akan melakukannya? Kau tidak akan menyesal?"


"Menyesal?" Davin mengerutkan keningnya bingung. Bukankah seharusnya dia yang mengucapkan kata-kata itu? Kenapa sekarang malah terbalik?


"Menyesal?" Davin menatap Dara yang kini sudah berada dalam kungkungannya.


Dara mengangguk. "Jangan sampai kamu menyesal karena memberikan segel perjakamu padaku."


"Sweetie." Wajah Davin memerah mendengar ucapan Dara. Sedangkan Dara tertawa melihat wajah Davin yang terlihat malu.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"Kamu bilang ingin melakukannya, tapi, kenapa kamu malah diam? Apa harus aku yang memulainya lebih dulu baru kamu melakukannya perjaka tua?"


"Sweetie."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2