CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
AKU MENCINTAIMU, DARA


__ADS_3

Setelah beberapa jam tidak sadarkan diri, Raditya akhirnya membuka matanya. Lelaki itu menyesuaikan pandangannya.


Kepalanya terasa pusing. Sementara itu, bagian punggungnya terasa nyeri. Pria itu meringis. Wajah tampannya terlihat pucat.


Lauren yang kebetulan masih berada dalam ruangan untuk menjaga Raditya, mendekati pria itu. Lauren meraih gelas berisi air putih saat pria itu mengatakan dengan lirih kalau dirinya merasa haus.


Lauren membantu mengatur posisi berbaring Raditya. Gadis itu mengatur ranjang agar posisinya nyaman buat Raditya tidur. Gadis itu juga tidak lupa memencet tombol untuk memanggil petugas medis.


"Terima kasih," ucap Raditya dengan lirih.


"Sudah tugasku. Kamu adalah adikku, jadi sudah menjadi tugasku untuk menjagamu di sini." Lauren menatap wajah Raditya dengan raut wajah prihatin.


Gadis itu menarik napas panjang. Usianya tidak beda jauh dengan Raditya. Tidak sampai setahun. Hanya saja, Raditya sudah menikah sementara dirinya belum. Adik tirinya itu bahkan sudah menjadi duda sekarang.


"Kamu sepertinya sangat mencintai Dara sampai-sampai kamu mau berkorban untuknya."


Lauren menatap adik tirinya yang masih terdiam.


Wanita itu merasa heran. Dari cerita papanya yang mengatakan kalau Raditya mengkhianati istrinya dengan menikah lagi saja sudah dapat disimpulkan kalau pria itu tidak mencintai istrinya.


Apalagi, Raditya bahkan dengan begitu tega menikah lagi secara diam-diam di belakang istrinya selama tiga tahun. Bukankah itu sudah membuktikan kalau Raditya benar-benar tidak pernah mencintai Dara? Lalu, kenapa lelaki itu sekarang malah mengorbankan nyawanya demi istri yang sudah pernah dikhianatinya?

__ADS_1


"Aku baru sadar begitu mencintainya setelah semuanya terlambat," jawab Raditya dengan pelan. Raut wajahnya berubah. Rasa penyesalan kembali datang menghantam hatinya.


"Jadi, maksudnya saat ini kamu menyesal karena sudah menyia-nyiakan Dara?" tebak Lauren. Dirinya memang tidak pernah bertanya lagi pada Pratama tentang Raditya. Lauren hanya tahu kalau pria itu mengkhianati istrinya dengan begitu kejam, dan jujur, Lauren sangat membenci sikap Raditya yang telah mengkhianati Dara.


Sebagai sesama perempuan, Lauren jelas ikut merasakan bagaimana kesedihan Dara saat melihat suami yang sangat dicintainya menikah lagi dengan perempuan lain secara diam-diam.


Lauren bahkan sempat tidak ingin bertemu dengan Raditya karena dia tidak bisa membayangkan lelaki seperti apa yang tega mengkhianati istrinya sampai sejahat itu. Namun, takdir ternyata berkata lain. Gadis itu justru bertemu dengan Raditya saat dirinya pergi ke toko milik sang papa.


"Aku sangat menyesal. Rasa penyesalan ini setiap hari menyiksaku dan membuatku sesak napas. Kamu pasti tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya saat seseorang yang kamu cintai pergi meninggalkan kamu karena merasa kecewa sama kamu. Luka yang aku berikan padanya begitu dalam hingga membuatnya memutuskan pergi dariku." Raditya mengepalkan kedua tangannya. Menahan rasa sakit yang menghujam jantungnya.


Wanita itu bahkan tidak menemaninya saat ini. Seharusnya dia berada di sini saat Raditya terbangun dan mengucapkan terima kasih karena Raditya telah menyelamatkan nyawanya.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita tidak boleh melukai hati orang lain, apalagi, menyakitinya dengan sengaja. Kita tidak pernah tahu takdir kita kedepannya seperti apa. Contohnya kamu. Dulu, kamu merasa tidak pernah mencintai Dara, karena itu kamu lebih memilih menikah diam-diam dengan kekasih gelapmu. Kini, setelah Dara pergi, kamu baru menyesalinya," jelas Lauren panjang lebar.


"Aku sangat mencintai Dara. Tapi aku selalu mengelaknya. Apalagi, saat itu ada Kinara yang begitu dominan. Aku mengira kalau cintaku hanya pada Kinara hanya karena kisah masa laluku yang belum usai dengannya. Bodohnya aku karena melupakan Dara yang begitu tulus mencintaiku." Raditya menitikkan air matanya.


Pria itu menangis setiap kali rasa penyesalan itu datang meremas jantungnya. Pandangan mata Raditya mengarah pada pintu yang terbuka dengan pelan.


Wajah cantik wanita yang baru saja dibicarakan dengan Lauren muncul di sana. Sangat cantik! Sampai-sampai Raditya tidak berkedip menatapnya.


"Kamu sudah bangun?" Dara mendekati pria itu dengan membawa sebuah paper bag di tangannya. Dara membawakan makanan untuk Lauren dan Raditya.

__ADS_1


Raditya sejenak terpana mendengar suara lembut Dara.


"Aku membawakan makanan untukmu dan juga Lauren. Kalian berdua pasti lapar," lanjut Dara membuat Lauren tersenyum canggung. Berbeda dengan Raditya yang kini merasa berbunga-bunga karena mendapat perhatian dari mantan istri yang sangat dirindukannya.


"Terima kasih. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot. Aku bisa makan di kantin nanti." Lauren dengan canggung menerima paper bag berisi beberapa kotak makanan. Makanan yang Dara bawa dari restoran miliknya.


"Permisi."


Pembicaraan mereka terhenti saat melihat seorang dokter dan juga perawat datang. Dokter yang menangani Raditya itu kemudian masuk dan langsung memeriksa keadaan Raditya setelah pria itu tersadar.


Setelah selesai memeriksa Raditya, dokter bersama perawat itu pun pergi meninggalkan ruang rawat inap Raditya.


"Aku ingin keluar sebentar. Bisakah kamu menjaga Raditya sampai aku kembali?" Lauren menatap Dara yang mengangguk pelan.


Lauren tersenyum kemudian meninggalkan ruangan itu. Gadis itu ingin memberi ruang untuk kedua orang itu. Ia ingin, Raditya dan Dara bicara dari hati ke hati.


"Kenapa kau menyelamatkan aku, Raditya?"


"Tidak ada alasan untuk menyelamatkan orang yang aku cintai. Aku mencintaimu, Dara. Sangat mencintaimu."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1



__ADS_2