CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
BIAR WAKTU YANG MENJAWAB


__ADS_3

"Sweetie." Sebuah senyuman terukir pada wajah tampan Davin saat melihat wanita pujaan hatinya keluar dari ruangannya.


"Baru saja aku ingin menemui kamu di dalam, eh, kamu sudah keluar duluan." Davin kembali tersenyum. Namun, Dara hanya menanggapinya dengan datar.


Wanita itu masih sangat kesal karena Davin terus saja menggangunya. Akhir-akhir ini, lelaki itu begitu gencar mendekatinya membuat Dara jengah.


Kepala Dara semakin pusing saat kedua orang tuanya terus saja mempromosikan Davin seolah lelaki itu adalah sebuah barang.


Dara menghela napas panjang. Melirik Davin yang masih mengulas senyum meskipun dirinya mengabaikannya. Dara bukan tidak menyukai Davin, hanya saja, ia benar-benar belum siap membuka hati untuk pria manapun.


Dara masih menata hidupnya. Pernah gagal di pernikahan pertamanya membuat Dara lebih berhati-hati untuk memilih pasangan ke depannya. Bukannya Davin tidak baik. Hanya saja, saat ini Dara merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Davin.


Davin masih bujangan, sementara dirinya adalah seorang janda, meskipun terkadang tanpa anak, tetapi, dirinya saat ini benar-benar belum siap untuk memulai sebuah hubungan.


Davin menggandeng tangan Dara yang terlihat cemberut. Wanita itu terlihat tidak seperti biasanya membuat Davin merasa penasaran sekaligus khawatir.


Meskipun kesal, Dara tidak menolak saat lelaki itu menggandeng tangannya dan membawanya keluar dari kantor. Semua orang yang melihat pemandangan itu tampak tersenyum.


CEO cantik mereka memang sangat pantas bersanding dengan Davin. Mereka berdua pasangan yang sangat serasi. Dara sangat cantik, Davin sangat tampan. Mereka berdua sama-sama kaya, sama-sama memiliki perusahaan. Benar-benar pasangan yang sangat sempurna.


Davin menghentikan mobilnya di depan restoran milik Dara. Lelaki itu memang sangat suka dengan menu yang disajikan di restoran itu. Tidak peduli jika yang dibawa masuk ke dalam restoran mewah itu adalah sang pemilik restoran. Yang jelas, Davin ingin menikmati makan siang bersama dengan wanita pujaannya.


Dara dan Davin berjalan beriringan menuju ke dalam restoran. Kedua tangan mereka masih saling bertautan.


"Kita makan di VIP saja, ya," ucap Davin yang langsung diangguki oleh Dara.


"Hari ini aku ingin menghabiskan waktu sama kamu sambil makan siang bersama. Besok, aku ada kerjaan di luar. Mungkin sekitar satu mingguan lebih aku nggak bisa ketemu sama kamu," ucap Davin saat mereka baru saja sampai di ruang VIP.

__ADS_1


Seorang pelayan memberikan buku menu pada Davin. Namun, Davin langsung memesan makanannya tanpa melihat buku itu. Isi dari buku itu sudah ia hafal dalam kepalanya.


Dara tersenyum tipis saat Davin memesan beberapa menu kesukaannya. Makanan favorit mereka hampir sama. Jadi, tanpa perlu bertanya pada Dara, lelaki itu sudah memesan makanan yang sama.


"Kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal 'kan, Sweetie?" Davin menatap Dara yang masih berwajah datar. Pria itu kemudian menggenggam tangan Dara.


Davin tidak tahu apa kesalahannya hingga membuat Dara mendiamkannya.


"Sweetie."


Dara menatap Davin sambil mengembuskan napas panjang.


"Davin."


"Iya, Sweetie."


"Apa maksud ucapanmu, Sweetie?" Kedua mata Davin menatap Dara dengan tatapan tajam.


Dara mengembuskan napas panjang berkali-kali.


"Maafkan aku." Pikiran Dara kacau sejak semalam karena sang papa terus saja mendesaknya untuk menikah dengan Davin. Begitupun juga dengan mamanya.


Davin memang belum mengatakan tentang pernikahan padanya. Lelaki itu lebih fokus bagaimana ia bisa menerima laki-laki itu.


Davin adalah lelaki yang sempurna. Tidak mudah menolak pesona lelaki itu. Hanya saja, Dara benar-benar belum siap menjalani hubungan serius dengan pria manapun.


Davin meraih tubuh Dara ke dalam pelukannya. Dara tidak menolak. Wanita itu bahkan merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Davin.

__ADS_1


"Kamu kesal karena kedua orang tuamu terus memaksamu?" tanya Davin pelan. Tangannya membelai rambut Dara dengan lembut.


Dara mengangguk dalam pelukan Davin membuat pria itu mengembuskan napas panjang.


Davin akui, tidak mudah menaklukkan hati Dara yang pernah patah. Wanita itu masih butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya dan kembali menata hidupnya. Membangun kembali kepercayaannya terhadap lelaki. Tidak semua lelaki sama seperti mantan suaminya yang telah mengkhianati cintanya.


Davin menyayangkan sikap kedua orang tua Dara yang terlalu terburu-buru. Davin memang berterima kasih pada mereka karena telah membantu Davin untuk mendapatkan cintanya Dara.


Akan tetapi, Davin tidak mau gara-gara mereka yang terlalu antusias untuk menjodohkannya dengan Dara, justru membuat Dara merasa tidak nyaman dan malah menjauhinya.


"Aku tidak akan memaksamu untuk bersamaku. Aku akan bersabar sampai kamu siap. Kamu hanya cukup tahu kalau aku benar-benar mencintaimu, Sweetie," ucap Davin pelan.


"Aku akan mengatakan pada kedua orang tuamu untuk tidak terus memaksamu menerimaku," lanjut Davin. Laki-laki itu melepaskan pelukannya kemudian menatap wanita pujaannya itu dengan penuh cinta.


"Sweetie, aku memang mencintai kamu. Tapi, aku tidak akan memaksamu dan membebani pikiranmu. Biarkan semua berjalan seperti biasanya." Dara mengangguk mendengar ucapan Davin. Hatinya merasa lega.


"Biar waktu yang menjawab semuanya," ucap Davin sambil tersenyum.


"Kau benar. Biar waktu yang menjawab," ulang Dara.


"Seandainya suatu saat kamu bertemu dengan perempuan lain yang membuatmu jatuh cinta, aku tidak akan memaksamu untuk tetap menungguku, Davin."


"Sweetie."


BERSAMBUNG ....


__ADS_1


__ADS_2