
Udara pagi menembus ke dalam kamar saat Dara membuka pintu berkaca lebar di hadapannya.
Perempuan berparas cantik itu baru saja menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Hatinya merasa tenang setelah berkeluh kesah pada sang Maha Pencipta.
Hati dan pikiran Dara kacau semenjak perselingkuhan Raditya terungkap hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk bercerai dengan pria yang telah menjadi suaminya selama empat tahun itu.
Dara sadar perceraian adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Tuhan. Namun, memutuskan untuk bersama juga bukanlah jalan yang terbaik untuk dirinya dan juga Raditya.
Dara hanyalah manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran. Dirinya tidak mungkin terus tinggal bersama dengan orang yang sudah mengkhianatinya dan menghancurkan hatinya sampai berkeping-keping.
Dara jelas tidak akan menerima terus-terusan diperlakukan tidak adil oleh suaminya sendiri. Masa depan Dara masih panjang, wanita itu tidak akan mampu jika seumur hidup harus berpura-pura baik-baik saja sementara keadaan rumah tangganya justru sebaliknya.
Kesalahan Raditya yang sudah menikah diam-diam dengan perempuan itu adalah kesalahan yang tidak akan pernah bisa Dara maafkan.
Dara tidak habis pikir, Kenapa ia begitu bodoh dan begitu percaya pada laki-laki itu hanya karena sikapnya yang begitu manis dan perhatian ketika bersamanya.
Mengingat semua itu, Dara merasakan sakit di hatinya. Biar bagaimanapun, Raditya adalah pria yang sangat dicintainya selama bertahun-tahun. Tidak mudah baginya untuk melupakan pria itu begitu saja.
Akan tetapi, dirinya juga tidak akan pernah merubah keputusannya untuk berpisah dengan Raditya. Apapun yang terjadi, Dara sudah sangat mantap untuk bercerai dengan pria itu.
Dara tersenyum sambil menatap matahari yang mulai mengintip menunjukkan sinarnya pada dunia.
"Hidup terus berjalan, Sweetie. Jangan sia-siakan hidupmu yang berharga hanya untuk menangisi pria tidak berguna seperti dia." Ucapan Davin kembali terngiang membuat perempuan itu mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Kau benar, Davin. Aku masih muda, masa depanku masih panjang. Untuk apa aku menangisi pria tak berguna seperti dia?" batin Dara.
Lagipula, Dara bukanlah wanita lemah yang akan diam saja setelah ditindas berkali-kali oleh mereka bukan?
Selama ini, dirinya bersikap baik dan lembut karena ingin berbakti pada suami dan mertuanya. Bukan karena dirinya wanita lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Dara bisa saja membalas perlakuan mereka saat itu. Namun, rasa hormat dan rasa cintanya pada Raditya membuat Dara menahan amarah agar tidak meledak.
Hari ini adalah sidang terakhir perceraiannya. Sesuai dengan keinginan Davin, Dara tidak pernah lagi hadir dalam persidangan semenjak hari itu. Semua urusan perceraiannya, ia serahkan pada pengacaranya.
Dara tidak mau lagi ambil pusing. Wanita itu tidak ingin lagi berurusan dengan Raditya. Sidang hari ini adalah penentu. Setelah mereka resmi bercerai, Raditya akan kehilangan semuanya.
Dara menarik napas panjang. Sebenarnya tidak masalah buat Dara seandainya dirinya tetap membiarkan Raditya memiliki rumah dan beberapa harta yang dimiliki pria itu sepanjang pernikahan mereka. Namun, jika semua harta itu masih menjadi milik Raditya, maka laki-laki itu tidak akan pernah merasa menyesal telah melakukan kesalahan.
***
"Apa-apaan kamu Raditya! Kamu membiarkan wanita itu memiliki semua hasil kerja kerasmu?" Mira berteriak marah. Setelah beberapa kali persidangan tidak ikut mendampingi putranya, di sidang terakhir Mira ikut ke pengadilan mendampingi Raditya.
Mira sengaja datang karena ingin bertemu dengan Dara. Wanita itu ingin tahu bagaimana keadaan perempuan yang telah menjadi menantunya selama bertahun-tahun itu setelah pengadilan memutuskan mereka berdua resmi bercerai.
Akan tetapi, Mira yang bermaksud ingin mengejek Dara di pengadilan justru dibuat syok setelah mengetahui jika semua milik Raditya jatuh ke tangan Dara karena Raditya dan Dara telah melakukan perjanjian pra nikah sebelum dirinya menikah dengan Dara. Secara resmi.
"Itu adalah konsekuensi yang harus aku tanggung karena telah mengkhianati Dara, Ma," jawab Raditya santai.
__ADS_1
Jika dengan mengambil alih semua hartanya membuat Dara bahagia, tentu saja laki-laki itu rela memberikan semuanya. Biar bagaimanapun, Dara berhak memiliki semuanya.
Apalagi, selama menjadi istrinya, Dara tidak pernah menikmati kekayaan yang dimilikinya karena dirinya sibuk memanjakan Kinara. Ah! Mengingat itu semua membuat hati Raditya berdenyut nyeri.
Bagaimana dirinya selama ini begitu tidak adil memperlakukan Dara. Kenapa selama ini dirinya begitu buta?
Raditya mengembuskan napas panjang. Mencoba menekan rasa sakit yang kini ia rasakan.
"Kamu berkhianat atau tidak, rumah ini adalah hasil kerja kerasmu, Raditya! Kamu tidak bisa memberikan rumah ini pada Dara dengan cuma-cuma!" Mira kembali berteriak. Ia sungguh merasa kesal dengan sikap Raditya yang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apa yang aku miliki semuanya karena Dara, Ma. Kalau tidak ada Dara, aku tidak mungkin bisa memiliki semuanya."
"Apa maksudmu, Raditya?"
"Pekerjaanku di kantor, termasuk kenaikan jabatan dan gaji besar, semua Dara yang mengaturnya, Ma. Dia ingin agar aku bisa mempunyai penghasilan besar dan bisa membahagiakannya. Dara ingin agar aku bisa setara dengan dia, Ma. Tapi bodohnya aku, aku justru mengkhianatinya."
"Mama tidak mengerti dengan ucapanmu, Raditya." Mira masih menatap putranya dengan kesal.
"Dara adalah pemilik perusahaan di tempatku bekerja, Ma."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1