CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
DARAH DAGINGMU


__ADS_3

"Kinara!" Raditya berteriak marah. Kedua tangannya mengepal erat. Rahangnya mengeras dengan gigi bergemeletuk, pertanda jika laki-laki itu sedang menahan amarah yang sedang bergejolak di hatinya.


"Mas Ra–Radit." Kinara terkejut mendengar teriakan Raditya. Ia sungguh tidak menyangka kalau Raditya akan pulang dan memergoki dirinya sedang memarahi Mira.


"Apa kau sudah gila?"


"Mas–"


"Kau ingin menghabisi ibuku? Melenyapkan orang yang telah melahirkan aku?" Raditya menggeleng pelan.


"Aku sungguh tidak menyangka kalau ternyata menikahi perempuan iblis sepertimu, Kinara!" Kedua mata Raditya menatap Kinara dengan tajam. Tatapan matanya penuh dengan kemarahan yang belum pernah Kinara lihat sebelumnya.


Selama hidup bertahun-tahun dengan Raditya, pria itu adalah pria penyayang dan juga sangat sabar saat menghadapinya.


Raditya tidak pernah sekali pun marah padanya. Kecuali, saat pria itu mengetahui perselingkuhannya kemarin. Ini adalah kemarahan kedua yang Kinara lihat selama dirinya hidup bersama Raditya.


"Sayang, kamu salah paham. Aku tidak–"


"Pergi dari sini, Kinara! Kalau tidak, aku yang akan benar-benar menghabisimu!" Raditya berteriak keras membuat Kinara terkejut. Wanita itu sungguh tidak menyangka kalau Raditya akan kembali mengusirnya.


Wanita itu kembali datang ke rumah mewah Raditya karena ingin merayu Raditya agar menarik kembali kalimat cerai yang kemarin laki-laki itu ucapkan.


Akan tetapi, saat Kinara masuk ke dalam rumah itu, ia bertemu dengan Mira. Wanita yang menjadi mertuanya itu tidak suka jika dirinya kembali datang ke rumah besar itu karena Raditya sudah menceraikannya. Apalagi, Mira sudah tahu tentang perselingkuhannya karena Raditya sudah menceritakannya pada wanita itu.


Mendengar hinaan dan penolakan Mira, tentu saja Kinara marah. Dia bukanlah Dara yang selalu diam dan mengalah jika dimarahi dan dimaki oleh Mira.


Kinara tidak akan tinggal diam saat seseorang memarahinya apalagi sampai memakinya. Tidak peduli siapapun orang itu, Kinara sudah pasti akan membalasnya. Meskipun itu adalah ibu mertuanya sendiri.

__ADS_1


"Mama yang mulai duluan, Mas. Aku hanya membela diri!" Kinara ikut berteriak. Tidak terima dengan tuduhan Raditya.


"Dia bohong, Radit! Jelas-jelas dia mengatakan akan melenyapkan mama." Mira memanas-manasi Raditya. Melihat sang putra membelanya, wanita paruh baya itu jelas tidak akan menghilangkan kesempatan begitu saja.


Kinara pantas didepak dari rumah besar Raditya. Wanita seperti dia tidak pantas untuk putranya. Cukup sudah ia merasakan penyesalan karena sudah menyetujui hubungan Kinara dan Raditya selama ini.


Kini, Mira akan meyakinkan Raditya untuk mengusir perempuan itu dari rumahnya dan juga dari hidup putranya.


"Mama jangan memutar balikan fakta. Jelas-jelas Mama lah yang cari gara-gara!" Kinara mengepalkan tangannya. Kedua matanya menatap tajam ke arah Mira.


"Diam!"


"Tapi, Mas–"


"Bibi!"


"Bi!" Suara teriakan Raditya menggema di dalam ruangan. Lelaki itu begitu tersulut emosi sampai-sampai sudah tidak bisa menahannya lagi.


Bayangan kehilangan Dara membuat hatinya remuk redam. Lelaki itu benar-benar tidak rela seandainya Dara benar-benar meninggalkannya.


Raditya segera ingin pulang ke rumah untuk mendinginkan hatinya dan juga emosinya. Namun, sesampainya di rumah, lelaki itu justru mendapatkan pemandangan yang membuat amarahnya semakin naik.


Kenapa setelah perpisahannya dengan Dara tinggal menunggu hari, semua keburukan Kinara justru terungkap satu persatu? Perempuan yang dulu ia puja dan dicintainya setengah mati sampai rela meninggalkan Dara itu ternyata hanyalah perempuan murahan yang bisa dinikmati banyak orang.


Menyesal? Tentu saja dirinya sangat menyesal. Bagaimana ia begitu bodoh menerima perempuan dengan tabiat buruk seperti Kinara? Semua perhatiannya dan sikap lemah lembutnya ternyata hanyalah topeng untuk menutupi kebusukannya.


Mengingat itu semua, Raditya tiba-tiba mengingat sikapnya sendiri pada Dara. Bagaimana dirinya selama bertahun-tahun selalu bersikap begitu manis dan penuh perhatian hanya demi menutupi kebohongan pernikahannya dengan Kinara?

__ADS_1


"Ya, Tuhan, apa ini benar-benar karma?" batin Raditya dengan rasa penyesalan yang semakin menyiksa hatinya.


"Ada apa, Den." Sang asisten rumah tangga yang tadi Raditya panggil kini sudah berada di hadapannya.


"Kemasi semua barang-barang Kinara yang ada di dalam kamar. Bawa semuanya tanpa ada yang tertinggal!" ucap Raditya dengan penuh penekanan.


"Satu lagi."


"Ya, Den."


"Kemasi juga semua barang-barang milik Zain. Semuanya. Jangan sampai ada yang tertinggal!" Raditya menatap sang asisten rumah tangganya yang terlihat ketakutan.


"Ba–baik, Den." Perempuan yang dipanggil bibi itu segera undur diri untuk mengerjakan perintah majikannya.


"Kamu mengusirku, Mas?" Kinara masih menatap tidak percaya pada Raditya. Sementara itu, Mira tersenyum senang.


"Aku sudah mengusirmu dari kemarin kalau kamu lupa!" Raditya menatap tajam pada Kinara.


"Tapi, Mas, kenapa kamu menyuruh bibi mengemasi barang-barang Zain juga?"


"Karena mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan seseorang yang tidak ada hubungannya denganku tinggal di rumah ini."


"Apa maksudmu, Mas? Zain anakmu. Darah dagingmu!" teriak Kinara tidak terima.


"Perempuan tidak tahu malu! Bodohnya aku karena selama ini aku mengira jika Zain adalah anakku!" Raditya melempar kertas berisi hasil tes DNA yang baru saja ia terima dari pihak rumah sakit.


"Brengsek, kau, Kinara!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....



__ADS_2