CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
BERTEMU KINARA


__ADS_3

Raditya sungguh tidak menyangka jika ibunya begitu licik. Menggunakan anak dari istri pertama sang papa untuk menguasai semua uang hasil kerja keras papanya.


Selama ini Raditya tidak tau kalau Pratama begitu tertekan menghadapi kelakuan ibunya. Raditya hanya tahu kalau selama ini Pratama memang selalu mengalah pada ibunya. Lelaki paru baya itu sangat sabar menghadapi sikap mamanya yang terkadang sangat arogan.


"Kenapa Papa tidak pernah menceritakan tentang mama sama aku, Pa? Kenapa Papa memilih menyembunyikan rahasia sebesar ini dariku?" Raditya mengungkapkan perasaannya pada Pratama.


Sebagai anak pertama dan sudah dewasa, seharusnya sang papa juga bisa mengandalkannya. Selama ini, dirinya selalu fokus pada istri kedua dan keinginan mamanya. Raditya bukan hanya lupa pada sang papa. Tetapi, ia juga lupa pada Dara.


"Papa hanya tidak mau kamu membenci mama kamu. Papa sebenarnya tidak yakin kalau kamu akan mempercayai semua ucapan papa. Apalagi, selama ini, kamu sangat dekat dengan mama kamu." Pratama menatap lelaki di hadapannya. Lelaki yang dulu masih berbentuk janin saat Mira


menipunya dengan mengatakan kalau calon bayi itu adalah darah dagingnya.


"Terserah bagaimana kamu menilai papa seperti apa, yang jelas, semua yang papa ceritakan padamu adalah sebuah kebenaran," lanjut Pratama.


"Maafkan aku, Pa. Tapi, asal papa tahu, aku mempercayai ucapan papa. Aku hanya belum percaya kalau ternyata aku bukanlah anak papa."


"Dari kecil hingga dewasa, aku hanya tahu, kalau papa begitu menyayangiku. Papa bahkan melakukan banyak hal untukku. Kasih sayang Papa begitu tulus. Aku benar-benar tidak percaya, orang yang begitu dengan baik memperlakukan aku, ternyata bukanlah ayah kandungku," ucap Raditya dengan kecewa.


"Terima kasih, Pa. Aku sayang sama Papa. Terima kasih karena selama ini Papa memperlakukan aku dengan baik meskipun Papa tahu kalau aku bukanlah anak kandung Papa." Raditya menatap Pratama yang tersenyum dengan tulus.


"Papa sayang sama kamu, Raditya. Sampai kapanpun, kamu adalah putra kebanggaan papa."

__ADS_1


"Jangan lagi membuat kesalahan yang membuat papamu ini kecewa. Papa ingin kamu menjadi pria yang baik. Mulailah hidup barumu, Raditya. Biarkan Dara bahagia. Jangan ganggu dia lagi." Pratama mengusap bahu Raditya.


"Kamu juga harus bahagia. Papa yakin, suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan wanita yang bisa membuatmu bahagia."


Raditya menundukkan kepalanya. "Aku tidak yakin akan menemukan wanita baik seperti Dara. Lagipula, saat ini aku juga baru bercerai. Tidak mudah melupakan semua masa laluku, Pa."


Pratama menggangguk tanda mengerti. Lelaki itu mengembuskan napas panjang. Merenungi nasib Raditya yang menjadi duda di usia muda. Pratama bahkan belum mendapatkan cucu dari pernikahan Raditya dan Dara. Tetapi, mereka keburu sudah bercerai.


"Bekerjalah dengan Papa. Urus bisnis kakekmu. Papa percayakan semuanya padamu, Radit. Papa sudah tua. Papa ingin hidup tenang bersama dengan anak-anak Papa."


"Aku pikir-pikir dulu ya, Pa. Kita bicarakan dulu sama mama."


Pratama mengangguk pelan.


Setelah pulang dari toko milik sang papa, Raditya mencoba melamar di beberapa perusahaan. Lelaki itu berharap, semoga saja ada salah satu perusahaan yang mau menerimanya bekerja.


Raditya memarkirkan kendaraannya di sebuah pusat perbelanjaan. Laki-laki itu ingin berbelanja kebutuhan rumah. Papanya benar. Ia harus bangkit dan memulai hidup baru. Meskipun sulit rasanya.


Raditya sudah terbiasa dilayani oleh Dara selama bertahun-tahun. Kehilangan Dara membuat separuh jiwanya hilang. Bukan hanya separuh, tetapi, hampir semuanya. Bukan hanya hati, kehidupannya pun hancur setelah kehilangan istri pertamanya itu.


Raditya sudah berada di dalam supermarket. Pria itu memilih barang-barang yang dibutuhkannya. Raditya juga berbelanja kebutuhan dapur. Lelaki itu ingin mengisi kulkasnya yang kosong.

__ADS_1


Raditya juga memilih barang-barang kebutuhan rumahnya yang lain. Lelaki yang bahkan tidak pernah mau diajak menemani belanja oleh Dara itu, kini harus turun tangan sendiri untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga.


Saat Raditya ingin menuju kasir, pandangan matanya tidak sengaja tertuju pada seseorang yang kini sedang bergelayut mesra pada lengan seorang pria. Wanita yang tidak asing lagi di matanya itu tersenyum manja pada pria di sampingnya.


Raditya menggeleng tidak percaya melihat mantan istri keduanya itu terlihat sangat bahagia bersama lelaki yang sedari tadi tanpa malu-malu menciumi pipinya.


Seketika perasaan jijik menderanya. Apalagi, saat melihat jika lelaki itu bukanlah lelaki yang dulu pernah dipergokinya di kamar hotel saat sedang menikmati tubuh Kinara.


"Gila! Dari dulu aku kemana saja? Kenapa aku begitu bodoh memelihara dan memanjakan seorang ****** seperti dia?" batin Raditya.


"Sialan! Bodohnya aku telah menukar berlian seperti Dara dengan sampah macam Kinara." Raditya menggeram marah dalam hati.


"Mas Radit!" Suara teriakan Kinara mengagetkan lamunan Raditya. Wanita itu mendekatinya dengan senyum yang dulu terlihat sangat menawan dan membuatnya jatuh cinta.


"Mas Radit, apa kabar?" Kinara ingin memeluk Raditya tapi dengan cepat lelaki itu menghindar.


"Jangan mendekat!"


"Mas–"


"Menjijikkan!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....



__ADS_2