CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
LUKA MASA LALU


__ADS_3

Pratama menarik tangan Mira, menyeret wanita paruh baya itu masuk ke dalam ruangan di mana Raditya juga membawa Lauren yang terlihat berantakan akibat ulah Mira.


Gadis itu tidak menangis. Ia hanya menghela napas lelah. Entah sampai kapan dia harus menjadi sasaran kebencian Mira. Selama ini diam karena dirinya menghormati ayahnya. Jika tidak, sudah dari pertama kali Mira mengusiknya, wanita itu pasti akan membalasnya. Tak peduli meskipun usia Mira lebih tua darinya.


"Bisakah kau menahan diri sedikit saja untuk tidak mengusik hidup putriku? Sampai kapan kamu mengganggunya? Dia bahkan tidak mempunyai kesalahan apapun padamu, Mira!" Pratama melepaskan tangan Mira dengan kasar. Lelaki itu berteriak marah pada istrinya.


Rasanya, Pratama benar-benar sudah tidak tahan dengan kelakuan Mira. Selama ini, dirinya diam karena tidak ingin memancing keributan. Biar bagaimanapun, Mira adalah ibu dari Raditya dan Monika.


Monika adalah putrinya bersama dengan Mira. Adik dari Raditya. Setelah sekian lama tidak mau menerima Mira, Pratama pun akhirnya luluh, hingga lahirlah Monika di antara mereka.


"Kesalahan dia hanya satu, Pa! Dia adalah anak dari wanita yang merebut Papa dariku!"


"Mira!" Pratama menggelengkan kepala dengan pelan. Kenapa sampai sekarang Mira belum bisa melupakan masa lalu?


"Dengar, Mira. Aku dan Nadia menikah sebelum kamu menghancurkan pernikahan kami. Jadi, yang merebut itu adalah kamu bukan Nadia! Kamulah yang telah merebut aku dari Nadia dengan cara licik, Mira. Jangan lupakan fakta itu hanya karena kamu ingin membenarkan perbuatanmu!" Pratama menatap istrinya dengan geram.

__ADS_1


Pratama pikir, seiring dengan jalannya waktu, Mira akan berubah dan menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Namun, waktu yang Pratama tunggu sepertinya hanya sia-sia saja. Semakin bertambahnya usia, istrinya justru semakin tidak terkendali.


"Seandainya kamu marah karena Lauren adalah anak dari Nadia, apakah aku juga harus marah pada Raditya karena dia adalah anakmu dengan lelaki itu?"


"Pa!"


"Kenapa, Mira? Kenapa kamu harus marah?" Pratama menatap wanita yang selama bertahun-tahun itu hidup bersamanya.


Wajah Mira merah padam. Netranya menatap Raditya yang menunduk karena malu melihat tingkah laku ibunya.


"Lauren adalah anakku dan Nadia dari hasil pernikahan resmi. Sementara kamu ... Kamu menggunakan Raditya untuk menjebakku. Kamu dengan sengaja hamil dengan laki-laki lain kemudian mengakui anak itu sebagai anakku. Jika aku mau, semenjak dari dulu aku membenci Raditya, Mira! Gara-gara kamu hamil dia kedua orang tuamu menyuruhku untuk menikahimu dan meninggalkan Nadia yang saat itu sedang hamil besar."


"Lauren lahir tanpa ibu. Gara-gara kamu, dia tidak sempat melihat ibunya. Sementara Raditya, aku bahkan melimpahkan banyak kasih sayang padanya walaupun saat itu aku tahu kalau dia bukanlah darah dagingku!" Pratama menatap Mira dengan rasa sakit di hatinya. Kedua matanya berkaca-kaca saat kilasan masa lalu kembali berputar di kepalanya.


"Aku menyayangi Raditya saat pertama kali bayi itu lahir ke dunia, Mira. Tapi, kamu? Apa salah Lauren sampai-sampai kamu begitu membencinya. Kau bahkan membunuh ibunya, Mira–"

__ADS_1


"Aku tidak membunuhnya!" teriak Mira. Dirinya saat ini merasa tersudut. Kedua matanya terus menatap Raditya yang terlihat kecewa. Sungguh! Mira tidak pernah menyangka kalau Pratama akan membuka rahasianya di depan putranya.


"Kau membunuhnya! Kau yang mendorong Nadia hingga dia jatuh dari tangga dan akhirnya meninggal dunia. Apa kau tahu? Lauren bahkan lahir di saat ibunya sudah meninggal dunia." Tangis Pratama pecah. Lauren mendekati Pratama dan memeluknya. Sementara Raditya, menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya.


Kenapa dia memiliki ibu sekejam itu?


"Kenapa Papa tidak melaporkan Mama pada polisi, Pa? Jika memang benar Mama yang telah membunuh ibunya Eren, seharusnya Papa melaporkan Mama ke polisi agar Mama menerima hukuman atas perbuatannya," ucap Raditya dengan rasa sakit di hatinya.


"Raditya." Mira menggeleng pelan. Tidak mempercayai ucapan yang keluar dari mulut putra tercintanya.


"Papa tidak mungkin melaporkan Mama kamu ke polisi, Radit. Papa sudah berjanji pada kakek kamu sebelum beliau meninggal kalau Papa akan menjaga mama kamu seumur hidup papa."


"Papa." Raditya menatap sang papa dengan raut wajah tak percaya. Bagaimana bisa papanya begitu sabar bertahan menghadapi sang mama? Kenapa papanya bisa hidup dengan damai dengan wanita yang telah membunuh istri yang sangat dicintainya?


Sebenarnya terbuat dari apa hati sang papa sampai-sampai begitu kuat menahan rasa sakitnya sampai bertahun-tahun?

__ADS_1


"Saat itu, papa bukan hanya memikirkan wasiat kakekmu. Tapi papa juga memikirkan calon bayi yang ada dalam kandungan mama kamu. Seandainya dulu papa mengikuti amarah dan dendam papa terhadap mama kamu, mungkin, saat itu kamu lahir di penjara dan menjadi anak dari seorang wanita narapidana."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2