CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
PENYESALAN RADITYA


__ADS_3

Setelah kepergian Kinara, Raditya duduk sendirian di taman. Merenungi perjalanan hidupnya selama menikah dengan Dara dan akhirnya bertemu dengan Kinara.


Dara, mengingat wanita itu, sudut hati Raditya berdenyut nyeri. Setelah beberapa hari ini merenung, Raditya baru sadar kalau Dara begitu berarti untuk dirinya. Tanpa Dara, ia tidak bisa berbuat apa-apa, seperti sekarang contohnya.


Hidupnya hancur. Tanpa wanita itu, Raditya kehilangan semua yang dimilikinya. Menyesal? Tentu saja. Ia sangat menyesal telah membuang wanita sebaik Dara. Apalagi, setelah menyadari jika wanita yang ia pilih untuk menggantikan Dara ternyata tidak lebih hanya seorang wanita murahan.


Kinara, wanita yang sangat dicintainya dan selalu ia nomor satukan ternyata hanya seorang perempuan murahan yang suka melayani banyak pria. Sementara Dara, wanita yang ia pikir sebagai wanita bodoh karena selalu patuh padanya ternyata justru wanita terhormat yang kedudukannya bahkan sangat jauh di atasnya.


Raditya menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak. Jantungnya serasa diremas-remas. Rasanya sangat sakit. Hanya dalam waktu beberapa hari Raditya harus kehilangan dua wanita yang biasa mewarnai kehidupannya.


Dara ... Raditya sungguh tidak pernah menyangka jika wanita lemah lembut itu mampu menghancurkan hidupnya hanya dalam hitungan jam.


"Kamu memang sangat luar biasa, Sayang. Kamu membalasku dengan begitu cepat. Aku bahkan tidak percaya kalau saat ini aku benar-benar telah kehilangan kamu." Raditya mengusap air mata yang kini mengalir di pipinya.

__ADS_1


"Aku memang pantas mendapatkannya. Seandainya saja aku tidak mengkhianatimu, saat ini aku pasti masih bersamamu." Raditya menangis pilu. Menyesali semua yang telah terjadi pada hidupnya.


"Seandainya saja aku tidak bertemu lagi dengan Kinara ... saat ini pasti aku masih bisa memelukmu. Seandainya saja aku tidak tergoda dengan wanita murahan itu, saat ini aku pasti hidup bahagia bersamamu, Sayang." Raditya masih terus menangis. Menyesali semua yang dulu pernah ia lakukan pada Dara.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat, Radit. Dulu papa berulangkali mengingatkanmu, tapi, kamu tidak pernah sedikitpun mau mendengarkan papa. Sekarang, semuanya terbukti bukan?"


Raditya menoleh ke arah suara. Di sana, berdiri seorang laki-laki paruh baya yang seringkali dibantah olehnya. Pratama, sang ayah yang selalu menentang keinginannya untuk menikah dengan Kinara.


"Sekarang kamu tahu bukan, apa alasan papa melarangmu berhubungan dengan Kinara?" Pratama menatap ke arah Raditya yang masih menangis sesenggukan.


"Dari awal, papa melarangmu untuk tidak menikah dengan Kinara karena papa tahu kalau wanita itu bukanlah wanita baik-baik."


"Jadi papa sudah tahu kalau Kinara itu mempunyai laki-laki simpanan?" Raditya menatap Pratama dengan kedua mata memerah.

__ADS_1


"Kalau soal itu, papa tidak tahu, Radit. Papa hanya tahu, tidak ada wanita baik-baik yang mau merusak kebahagiaan wanita lain. Kalau dia wanita baik-baik, dia tidak akan mungkin mau menjadi istri keduamu dan menghancurkan kehidupan rumah tanggamu dengan Dara," jawab Pratama panjang lebar.


Raditya menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh papanya memang benar. Seharusnya, dulu dia lebih mendengarkan ucapan sang papa. Dulu, dia lebih mendengarkan ucapan mamanya yang bahkan sangat bertolak belakang dengan nasihat sang papa.


"Kenapa dari dulu papa yang notabene seorang pria justru tidak mendukung perselingkuhanku dengan Kinara sementara mama yang jelas-jelas sesama wanita malah mendukungku untuk mengkhianati Dara?"


Raditya kembali menatap Pratama. Seolah mencari jawaban.


"Karena ibumu dan Kinara hampir sama."


"Apa maksud, Papa?"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


Kemarin Author keteteran ngerjain tiga novel sekaligus. Akhirnya Author memilih hiatus dulu trus tamatin satu-satu.


Semoga Author bisa update rutin lagi ya.


__ADS_2