CINTA BERSELIMUT LUKA

CINTA BERSELIMUT LUKA
KEKECEWAAN RADITYA


__ADS_3

Raditya berlari menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumahnya. Lelaki itu kemudian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Kenapa dia harus bertemu dengan lelaki yang menyebut dirinya sebagai papa? Dari mana lelaki itu tahu keberadaan rumahnya?


Raditya memukul setir dengan kesal. Saat Raditya mengetahui kalau dirinya bukanlah anak dari Pratama, hatinya sangat hancur. Meskipun Raditya tidak pernah mengungkapkan kekecewaannya, tetapi, dalam hati ia merasa kesal karena terlahir bukan dari darah daging Pratama. Apalagi, saat dia tahu kalau ibunya memanfaatkan laki-laki lain untuk menghamilinya dan menjebak Pratama atas kehamilannya.


Raditya merasa malu. Selama ini, ia begitu menyayangi Pratama. Dia adalah papa yang terbaik buat Raditya. Kesalahan Raditya adalah dirinya tidak pernah mendengarkan nasihat sang papa saat ia berselingkuh dengan Kinara.


Seandainya saja dulu ia mendengarkan ucapan Pratama, saat ini hubungannya dengan Dara pasti akan baik-baik saja. Hidupnya tidak akan pernah sehancur ini karena kehilangan wanita yang begitu berarti dalam hidupnya.


Raditya menghentikan mobilnya di sebuah restoran. Perutnya sangat lapar karena sedari pagi dirinya belum makan. Rencananya hari ini dia ingin menemui Pratama. Raditya ingin memenuhi keinginan sang papa untuk mengembangkan bisnis peninggalan kakeknya. Yaitu, beberapa toko elektronik yang tersebar di ibukota.


Daripada dirinya menjadi pengangguran dan tidak punya penghasilan, lebih baik Raditya mengikuti saran sang ayah untuk membantunya mengelola toko.


Sebenarnya, bukan hanya itu saja yang ingin dibicarakan oleh Raditya. Ia juga ingin membicarakan masalah ibunya yang saat ini masih di penjara. Sebenarnya, melihat keadaan ibunya, Raditya merasa tidak tega. Namun, dia juga tidak bisa mencabut laporannya karena nanti Dara akan mengira dirinya tidak adil karena Mira adalah ibunya.


Biar bagaimanapun, saat itu yang diserang oleh kedua pelaku adalah Dara, hanya saja, saat itu Raditya melindunginya. Kalau tidak ada Raditya, mungkin Dara lah yang akan terkena tembakan itu.


Mengingat Dara, membuat rasa rindunya semakin membuncah. Raditya merindukan wanita itu. Sangat merindukannya.


Raditya masuk ke dalam restoran. Seseorang mendekatinya sambil memberikan buku menu saat dirinya baru saja duduk.


Raditya memesan beberapa makanan kesukaannya. Lelaki itu memang sudah beberapa kali makan di restoran tersebut karena makanannya terasa cocok di lidahnya. Beberapa menu di restoran itu mengingatkan Raditya saat Dara masih menjadi istrinya.


Dara dulu sering memasak masakan yang menunya tersedia di restoran itu, dan rasanya juga tidak kalah enak dengan menu yang ada di sana.

__ADS_1


Raditya menghela napas panjang saat mendengar dering ponsel yang ia simpan di saku kemejanya. Terlihat pada layar ponselnya, sebuah nomor tidak dikenal yang menghubunginya.


Merasa penasaran, Raditya kemudian mengangkat panggilan itu.


"Halo."


"Raditya. Ini papa, Nak." Suara di ujung sana terdengar lemah.


"Dari mana kamu tahu nomor ponselku?"


"Dari Pratama. Papa baru saja bertemu dengan dia. Papa sudah menceritakan semuanya pada Pratama. Papa juga sudah minta maaf sama dia, Raditya. Sungguh! Papa benar-benar menyesal dengan apa yang sudah papa lakukan di masa lalu," ucap Galang panjang lebar.


Raditya terdiam mendengarkan ucapan Galang. Tidak sedikitpun dirinya merasa tersentuh dengan ucapan pria itu.


"Aku sudah mengatakan padamu, kalau papaku hanya Pratama, bukan kamu!" ucap Raditya penuh penekanan. Dia bahkan tidak lagi menggunakan bahasa formal seperti saat pertama kali bertemu.


"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku tutup teleponnya."


"Radit–"


Raditya mematikan panggilan telepon secara sepihak. Pikirannya sedang kacau. Dia tidak bisa berpikir jernih.


Raditya memaksakan senyum saat pelayan mengantarkan pesanan makanannya.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama, Tuan."


Raditya makan dengan lahap semua makanan yang ia pesan. Rasanya benar-benar enak. Apalagi, saat ini dirinya sedang lapar.


Raditya baru saja selesai makan saat pandangannya tidak sengaja mengarah pada perempuan cantik yang sedang berjalan sambil sesekali menyapa pelanggan dengan ramah.


Wanita itu terlihat sangat cantik membuat siapapun yang melihatnya tidak berkedip. Apalagi, senyum Dara begitu menawan. Ya! Perempuan itu adalah Dara. Perempuan yang sejak tadi memenuhi pikirannya.


Raditya tersenyum melihat Dara. Namun, sepertinya Dara tidak melihatnya. Raditya sedang membayangkan seandainya Dara masih menjadi istrinya. Raditya pasti akan sangat bahagia hidup bersama istri secantik Dara.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Seandainya waktu bisa diputar kembali, dia pasti tidak akan memilih untuk bersama Kinara dan mengkhianati Dara.


Raditya mengembuskan napas panjang saat rasa sakit mengalir ke ruang hatinya. Rasa sakit yang begitu mencekik. Sungguh! Dulu Raditya tidak pernah membayangkan jika rasanya akan sesakit ini setelah kehilangan Dara.


"Sweetie!"


Raditya menengok ke arah sumber suara. Ia melihat seorang pria yang tidak asing baginya itu tersenyum.


"Davin," batin Raditya.


Pandangan Raditya kembali mengarah pada Dara. Lelaki itu melihat dengan jelas bagaimana Dara tersenyum cantik saat melihat kedatangan Davin.


Tempat duduk Raditya memang agak jauh, tetapi, siapapun bisa dengan jelas melihat interaksi Dara dan Davin yang sedang berpelukan. Davin bahkan tanpa segan-segan mencium Dara.


Raditya mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras.

__ADS_1


"Brengsek!"


BERSAMBUNG ....


__ADS_2