
Bab 12
Permintaan Pernikahan
Pov tuan Cristian.
Hampir satu minggu kakek belum juga sadarkan diri.Setiap hari nenek hanya akan menghabiskan waktunya dengan menangis.
Kak Margareth sepertinya enggan berbicara padaku.Mungkin dia mengira akulah penyebab kakek pingsan waktu itu.Biarlah dia berpikir seperti itu.Secara tidak langsung aku sadar akulah penyebab kakek jatuh pingsan beberapa waktu lalu.
Dokter sudah berusaha yang terbaik.Dengan peralatan lengkap di Rumah Sakit ini,aku yakin kakek pasti akan sembuh.
Aku perlahan masuk ke dalam ruangan kakek.Kulihat kakek yang masih terbaring dengan masih bernapas dengan bantuan alat-alat medis disini.
Aku akan selalu menjagamu kakek,sampai kakek pulih aku akan tetap di samping kakek.
Kucium tangannya dengan penuh perasaan.
Dalam hatiku,aku belum siap kehilangannya.Kakek dan nenek adalah orang yang paling kusayangi di dunia ini.
Setelah kepergian kedua orang tuaku,aku hanya memiliki kakek dan nenek.Umurku dan kak Margareth terpaut tujuh tahun.
Sehingga saat kak Margareth menyelesaikan kuliahnya.Aku ditinggal sendiri di negara asing.Yang membuat aku harus belajar mandiri.
Meskipun aku tak kekurangan apa pun disana.Kakek dan nenek sudah menjamin hidupku lebih dari yang ku butuhkan.
Beruntung aku memiliki Casandra.Selain menjadi teman, dia akhirnya mau menjadi kekasihku.Tempat aku berbagi segala kegelisahanku.
"Kakek,aku berjanji akan melakukan apa pun yang kakek ingin kan.Tolong kakek segera sadar.Aku bersumpah akan menepati janjiku."Bisikku di telinga kakek.Berharap mendengar suara ku dia akan segera sadar.
*****
Beberapa saat kemudian...
"A..ir"
"Kakek,apa kau sudah sadar?"Aku terlonjak kaget sekaligus bahagia.
Kakek merespon pertanyaanku dengan mengedipkan kedua matanya...
"Tunggu aku akan panggilkan dokter untukmu."
"Kak tolong segera panggilkan dokter.Sepertinya kakek sudah sadar."
Setengah berteriak aku membuat
Nenek dan kak Margareth yang sedang duduk di koridor Rumah Sakit ini,terkejut dengan panggilanku.
"I ..iya segera kakak panggilkan."
Dokter dan suster lalu bergegas masuk dalam ruangan kakek.
Kami semua diminta menunggu di luar ruangan.
Lima belas menit berlalu,dokter dan suster keluar dari ruangan kakek dan memperbolehkan kami masuk ke dalam ruangannya kembali.
Dokter Hans,yang menangani kakek meminta aku mengikutinya ke ruangannya.
Tok tok tok...
"Masuk..,"
"Ada apa dokter meminta saya kemari,apa ada yang serius dengan penyakit kakekku?"
"Begini Crist,penyakit kakekmu cukup parah.Bukan berarti saat dia sadar dia sudah bisa pulih.
__ADS_1
Setelah tuan besar bisa keluar dari Rumah Sakit ini usahakan agar ia tidak melakukan aktifitas yang membuatnya kelelahan.
Dan yang lebih terpenting jangan pernah seseorang di antara kalian menyinggung perasaannya.Buatlah dia bahagia.
Agar jantungnya berdetak dengan normal.Jika sesuatu kejadian menimpanya yang membuat tuan besar terkejut,kecewa,apalagi kalau sampai ia bersedih hati.
Jantungnya akan drop lagi.Saat itu terjadi,saya tidak bisa memastikan tuan besar bisa selamat atau tidak."
"Baik dokter,terima kasih sudah membantu merawat kakek saya."
"Kami selalu melakukan yang terbaik,demi kesembuhan tuan besar."
"Apalagi tuan adalah donatur terbesar di Rumah Sakit ini."
"Akan saya usahan kakek tidak akan mengalami hal serupa lagi."
"Kita akan melihat perkembangan tuan besar. dalam watu dua atau tiga hari lagi pasti dia bisa pulang."
Aku berlalu meninggalkan ruangan dokter.Segera aku kembali ke ruangan kakek.
Saat kubuka pintu kamar kakek,aku langsung memeluknya. Tak perduli jika orang berpikir aku menangis seperti anak kecil lagi.
"Kakek...."
"Crist mohon cepatlah sembuh.Crist sudah berjanji pada kakek akan melakukan segala keiginan kakek tanpa berniat untuk membantah lagi."
Kakek hanya tersenyum melihatku. Dan menganggukkan kepalanya.
"Nenek dan kak Margareth akan menjadi saksiku,aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku."
"Iya kan nek,?"
Nenek dan kak Margareth tersenyum padaku.Tanda mereka setuju dengan apa yang ku katakan.
***
"Iya kek,.."
"Apakah kamu benar bersungguh-sungguh dengan ucapanmu kemarin pada kakek?"
"Kamu mau melakukan apa pun yang kakek inginkan?"
"Iya kek,Crist sudah berjanj. Asalkan kakek bisa sembuh.Crist akan melakukan apa saja untuk kakek."Aku menggenggam tangan kakek,meyakinkannya kalau aku serius dengan janjiku.
"Menikahlah segera dengan Mala."
Terkejut,aku tak mengira permintaan kakek adalah sesuatu yang benar-benar tidak ingin kulakukan.
"Crist..."
Hening.
"Apa kamu keberatan,cucuku?"
Wajah kakek muram seketika.Kakek pun diam tak ingin lagi berbicara.Dia hanya menutup matanya,memilih tidur membelakangiku.Mungkin dia sedang kecewa dengan reaksiku.
"Aku permisi sebentar kek."Aku berniat mencari udara segar di luar.Di taman mungkin tempat yang tepat untuk menjernihkan pikiranku.Dan mendapatkan jawaban yang tepat untukku.
Aku mendengar helaan napas panjang kakek.Aku butuh waktu memikirkan ini dengan baik.Selain demi untuk kesembuhan kakek,bagaimana aku harus menjelaskan ini pada Casandra.
****
Di taman Rumah sakit
"Apa yang sedang kamu pikirkan Crist?"Pertanyaan kak Mala membuatku terkejut.
__ADS_1
"Kak...bagaimana ini?Aku bingung dengan keinginan kakek.Tolong bantu aku untuk mencari jalan keluarnya."
"Crist,kakak yakin kalau kamu bisa mendapatkan jawabanmu sendiri."
"Disini."Sambil mengambil tanganku dan menunjukkan ke dadaku.
"Ada sesuatu yang belum bisa kamu mengerti.Suatu saat saat mata dan hatimu terbuka untuk Mala.Kamu akan menyadari bahwa keinginan kakek untukmu adalah yang terbaik untukmu."
"Tapi apa maksudnya itu kak,jangan membuat teka-teki untukku."
"Sekarang belum waktunya.Tapi kakak minta kamu cepat memberikan jawaban pada kakek.Agar kakek tidak stres dan mempengaruhi kesehatannya lagi."
Kak Margareth pun berlalu meninggalkanku.
Tut tut tut
"Nomor yang ada tuju tidak dapat dihubungi.Cobalah beberapa saat lagi."Hanya ada suara operator,lagi aku harus kecewa.
"Kemana Casandra pergi,kenapa beberapa hari ini sulit sekali untuk dihubungi.
Semakin aku frustrasi dengan keadaan ini.
"Cristian cepat kemari.."kak Margareth berteriak ke arahku.
"Kondisi kakek drop lagi."
Setengah berlari aku menghampiri kak Margareth.Bersama-sama menuju ruangan kakek.
Saat akan masuk ke dalam ruangan kakek,kami berpapasan dengan dokter Hans.
"Bagaimana dok,keadaan kakek saya?"
Dokter Hans hanya menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana ini kak?"
" Kakak nggak bisa membantumu Crist.Nenek sudah menangis sejak tadi.Kakak akan menenangakannya dulu."
"Pikirkan baik-baik,sebelum kau mengambil keputusanmu."
****
Akirnya kakek siuman,lega rasanya.Setelah menunggu hampir tiga jam.Nenek sudah terlihat tenang.
Aku menghampiri ranjang kakek.
"Kakek.."
Kakek hanya bisa memandangku.Belum bisa berbicara sepertinya.
"Baiklah,Crist akan menikah dengan gadis yang bernama Mala itu."Ujarku lantang.
Nenek dan kak Margareth yang duduk di sebelah ranjang kakek terkejut dengan keputusanku.
Keduanya serentak berdiri,dan berhambur merangkulku.
"Terima kasih nak."Nenek berbisik di telingaku.Entah apa yang ada di pikiran kedua orang tua ini.Aku lebih memilih untuk kebahagiaan mereka dan kesembuhan kakekku.
"Asalkan kakek berjanji pada Crist.Kakek akan segera sembuh."
Kakek menjawabku dengan menganggukkan kepalanya.Kulihat ada bulir bening yang menetes di sudut matanya.
Sebegitu besarkah keinginan kakek untuk pernikahan ini?
Drrrtt drrrtt drrrrttt
__ADS_1
Ponsel ku buka..
Casandra memanggil.....